UNDERSTANDING THE TEACHING PROFESSION : MOTIVATION, PREPARATION AND CONDITION FOR THE ENTERING TEACHER (Amerika Vs Indonesia)

Oleh : M. Sutarno, S.Si.,M.Pd

PENDAHULUAN

Latar Belakang    

Banyak alasan yang dikemukakan mengapa seseorang memilih menjadi guru, diantaranya adalah karena alasan ingin berbagi ilmu, kecintaaan terhadap dunia anak-anak, memperluas ilmu, melatih kesabaran, ingin memberikan layanan kepada masyarakat, dan alasan-alasan lainnya.  Apapun alasannya, perlu dipahami bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Struktur penulisan makalah  ini terdiri dari Bagian I berisi  ruang lingkup permasalahan, Bagian II berisi kajian teori tentang “Understanding the Teaching Profession: Motivation, Preparation and Condition for Entering Teacher”, Bagian III berisi pembahasan tentang perbandingan sistem pendidikan dan pengembangan kompetensi guru di Amerika dan Indonesia, Bagian IV berisi tentang kesimpulan, implikasi dan rekomendasi. Secara umum makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran motivasi, persiapan dan keadaan yang berkaitan dengan profesi guru.  Melalui pemahaman yang baik terhadap motivasi apa yang harus dimiliki seorang guru dan calon guru, bagaimana persiapan yang harus dilakukan untuk memasuki dunia guru, serta seluk beluk dunia keguruan diharapkan seseorang akan mampu membekali dirinya untuk menjadi sosok guru yang mampu memahami dan melaksanakan tugas-tugas pokok yang meliputi tugas profesional, tugas manusiawi dan tugas kemasyarakatan (civic mission). Ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah berkaitan dengan motivasi menjadi guru, permintaan dan penawaran, sistem pembayaran dan gaji, persiapan karir sebagai guru, usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan kemampuan guru dalam membuat keputusan-keputusan penting di Amerika.  Makalah ini juga membahas tentang komparasi sistem pendidikan dan pengembangan kompetensi guru IPA Amerika dan Indonesia.

Rumusan Masalah

Pembahasan makalah ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan permasalahan sebagai berikut: (1) Alasan apa yang mendorong seseorang menjadi guru? (2) Bagaimana peluang pekerjaan sebagai guru? (3) Gaji dan keuntungan apa yang diperoleh pada profesi guru? Bagaimana jika dibandingkan dengan pekerjaan lain?(4) Bagaimana cara menyiapkan calon guru dan proses sertifikasinya? (5) Bagaimanakah gambaran kepuasan atau ketidakpuasan guru dalam pekerjaannya? (6) Bagaimana pengembangan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru?

UNDERSTANDING THE TEACHING PROFESSION : MOTIVATION, PREPARATION AND CONDITION FOR ENTERING TEACHER

Memilih Karir Sebagai Guru

Motivasi

Terdapat dua motivasi yang mendorong seseorang memilih mengajar sebagai karir, yaitu motivasi idealis dan praktis.  Seringkali orang memilih mengajar sebagai karir berangkat dari filosofi pendidikan yang mereka miliki.  Beberapa bentuk motivasi yang    mendorong sesorang dalam memilih guru sebagai profesi diantaranya adalah:   (1) kecintaan terhadap anak-anak, (2) keinginan untuk memberikan pengetahuan, (4) ketertarikan dalam kegiatan mengajar, dan (5) keinginan untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.  Alasan lain yang muncul dapat saja karena alasan jaminan pekerjaan (job scurity), keuntungan tunjangan pensiun dan persiapan menjadi guru sedikit lebih mudah dibandingkan dengan pelatihan-pelatihan yang harus dilakukan pada profesi lain.

Hasil survey yang dilakukan terhadap responden yang berasal dari 76 sekolah di Amerika menunjukkan  bahwa terdapat beberapa alasan dan motivasi mengapa mereka memilih karir sebagai guru, yaitu mengajar membantu siswa tumbuh dan belajar (90%), mengajar merupakan kegiatan yang menantang (63%), suasana kerja yang menyenangkan (54%), terinspirasi guru favorit (53%), dan sense of vocation and honor of teaching (52%).  Dalam studi lainnya didapatkan bahwa kekaguman terhadap salah satu guru pada saat SD dan SMP mendorong sesorang untuk memilih menjadi guru.

Tantangan Pembelajaran untuk Semua Siswa

Seringkali seseorang menghadapi berbagai kesulitan yang dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran saat ia benar-benar telah mengajar meskipun sejak awal telah memiliki persiapan yang baik. Banyak aspek lain yang membutuhkan perhatian khusus, salah satu diantaranya adalah bagaimana mengajar siswa yang berasal dari latarbelakang keluarga sulit atau siswa yang berasal dari ras khusus dan etnis minoritas yang tidak familiar bagi guru.  Guru juga mungkin dihadapkan pada kenyataan bahwa kemampuan membaca siswa yang masih rendah sehingga membutuhkan penanganan khusus, kenyataan ini tentu akan menghambat guru dalam menyampaikan materi ajar.  Bagaimanapun, kesulitan-kesulitan tersebut harus tetap diselesaikan oleh guru untuk menjamin bahwa semua siswa dapat belajar dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.  Hak setiap siswa untuk mendapatkan pembelajaran dan pelatihan yang baik telah dijamin dalam undang-undang nasional dan negara bagian, khususnya pada program No Child Left Behind Act.

Keberagaman Pengajaran

Keberagaman populasi sekolah di Amerika berkembang dengan pesat, namun demikian kekuatan-kekuatan pengajaran tidak dipersiapkan secara baik dalam rangka menghadapi keberagaman tersebut. Sebagai contoh, siswa yang berlatar belakang African American, Asian American dan Hispanic Amerikan telah mencapai 40% dari populasi mayoritas siswa  disekolah-sekolah umum, tetapi jumlah guru SD dan SMP yang berasal dari kelompok minoritas ini diperkirakan hanya sebesar 15% atau kurang.  Disparitas ini meningkat pada distrik-distrik dengan tingkat urban yang tinggi. Kondisi ini menuntut adanya peningkatan keberagaman guru.

Keberagaman guru dibutuhkan dengan beberapa kenyataan bahwa dalam hal tertentu, guru yang berasal dari kultur dan etnik minoritas pada umumnya mampu melakukan peran yang lebih dalam memberikan pelayanan dan pemahaman kepada siswa dari etnis minoritas.  Guru dari etnis minoritas biasanya akan lebih mudah memahami harapan dan gaya belajar siswa dari etnis minoritas.  Officials of the American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE) menyatakan bahwa proporsi guru dari etnis minoritas sangatlah rendah sehingga menyarankan munculnya program-program baru untuk meningkatkan bantuan finansial pada guru-guru minoritas, meningkatkan perekrutan guru dari etnis minoritas, dan memulai program-program precollegiate untuk menarik minat siswa-siswa minoritas.

Keberagaman kultur siswa menuntut adanya keberagaman kultur tenaga pengajar. Hal ini disebabkan karena siswa yang memiliki kultur yang berbeda dengan siswa pada umumnya akan merasa dirinya menjadi golongan minoritas. Jika siswa tersebut tidak memiliki kemampuan beradaptasi dengan teman sebayanya di lingkungan kelas maupun sekolah, maka ia akan merasakan dirinya sebagai golongan minoritas dalam lingkungan belajarnya. Oleh karena itu, keberagaman kultur guru sangat dibutuhkan untuk mengimbangi heterogenitas suku budaya siswa. Guru yang memiliki kultur berbeda dengan suku mayoritas siswa akan dapat lebih memahami siswa yang berasal dari kultur minoritas.

Permintaan dan Penawaran 

Gaji merupakan kompensasi atas suatu pekerjaan yang dibayarkan secara rutin setiap periode tertentu. Gaji merupakan faktor penting dalam menunjang keberlangsungan kinerja seseorang dalam pekerjaannya. Terdapat perbedaan besaran gaji jika dihubungkan dengan keadaan permintaan dan penawaran. Jika penawaran melebihi permintaan, maka gaji cenderung turun. Begitu pula sebaliknya jika permintaan melebihi penawaran, maka gaji akan cenderung naik. Terkait dengan pekerjaan sebagai guru ini, dahulu guru merupakan profesi yang sangat mudah untuk didapatkan. Seseorang yang memiliki kemampuan membaca, menulis dan mengeja dapat mengajukan diri untuk menjadi guru.  Namun seiring pertambahan waktu seleksi untuk menjadi seorang guru pun semakin ketat. Minat masyarakat untuk memilih profesi sebagai guru pun berubah seiring perkembangan zaman.  Jika tingkat kelahiran menurun, maka jumlah siswa akan menurun, keadaan ini menyebabkan terjadinya kelebihan guru sehingga tren untuk menjadi guru pun menurun. Sebaliknya, jika tingkat kelahiran meningkat, maka jumlah siswa akan meningkat, keadaan ini menyebabkan terjadinya kekurangan guru sehingga tren untuk menjadi guru pun meningkat. Kekurangan guru akan tetap ada pada beberapa area seperti pedesaan, beberapa kota, pinggiran kota, dan daerah-daerah yang memiliki pertumbuhan penduduk tinggi.

Peluang Kerja

Selama kurun waktu tahun 1960 sampai 1970, rata-rata tingkat kelahiran menurun tajam, jumlah siswa pun mengalami penurunan, sehingga pada masa itu terjadi kelebihan jumlah guru. Persentase mahasiswa yang tertarik menjadi guru mengalami penurunan dari 23% pada tahun 1968 menjadi 5% pada tahun 1982. Setelah itu, tren untuk menjadi guru mengalami peningkatan.  Pada kurun 1980 an sampai 1990 an minat masyarakat untuk menjadi guru mengalami peningkatan hingga hampir 100%, dan cenderung meningkat pada tahun-tahun berikutnya.  Banyak perguruan tinggi yang andil dalam menyiapkan calon guru.  Beberasa analis memprediksi akan terjadi peningkatan minat menjadi guru pada tahun-tahun selanjutnya, demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan pengajaran.  Beberapa juta guru baru akan dibutuhkan pada beberapa dekade yang akan datang dengan alasan : (1) Setelah berakhirnya Perang Dunia II akan terjadi ledakan kelahiran yang pesat.  Selain itu pertambahan penduduk terjadi akibat adanya gelombang imigrasi di Amerika Serikat.  Pada tahun 1992 diperoleh jumlah siswa pada school Kindergarden (negeri dan swasta) pada grade-12 mencapai 48,5 juta siswa,tahun 2000 mencapai 53,4 juta siswa, dan diprediksi pada tahun 2017 akan mencapai 60,4 juta siswa. (2) Banyak guru yang berusia menjelang pensiun. (3) Reformasi pendidikan berusaha mengurangi jumlah maksimum siswa dalam kelas (ukuran kelas), memperbanyak pendidikan prasekolah, memperbanyak tempat-tempat pendidikan yang menekankan pada kemampuan matematika dan sains, serta, melakukan perubahan-perubahan lain yang membutuhkan banyak guru.  (4) Standar yang tinggi untuk menjadi guru selama ini telah membatasi jumlah guru. (5) Sekolah-sekolah swasta (charter school) dibangun dibeberapa wilayah. (6) Banyak guru yang meninggalkan kelas (sekolah) karena mengisi jabatan-jabatan profesional lainnya.  Selain itu, kebutuhan guru pada bidang-bidang khusus akan meningkat, seperti guru pada pendidikan siswa dengan disabilitas, remedial education, pendidikan bilingual, pendidikan matematika dan sains, serta pendidikan bahasa asing.

Tidak hanya pada sekolah-sekolah umum, sekolah-sekolah swasta pun membutuhkan banyak guru.  Peluang untuk menjadi guru pada sekolah-sekolah swasta diprediksi akan tetap besar selama beberapa dekade yang akan datang.  Data menunjukkan bahwa jumlah siswa pada sekolah swasta pada school Kindergarten pada grade-12 adalah sebesar 5,7 juta (11,8%) pada tahun 1992, sebesar 6,2 juta (11,6%) pada tahun 2000, dan diprediksi sebesar 6,4 juta (10,6 juta) pada tahun 2017.

Skala Penggajian

Guru memiliki gaji yang lebih kecil dibandingkan dengan profesi lainnya pada jenjang pendidikan yang sama.  Namun demikian gaji guru terus mengalami pertambahan seiring perubahan zaman, mulai dari $36.000 di tahun 1963, hingga saat ini guru-guru berpengalaman di sekolah-sekolah sejahtera gajinya telah mencapai $80.000 hingga $100.000 per tahun. Penghasilan-penghasilan tambahan bisa diperoleh guru-guru baru melalui kegiatan lain dalam sekolah seperti membimbing kegiatan ekstrakulikuler seperti atletik, drama, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.  Guru negeri biasanya mendapatkan kompensasi lain selain gaji bulanan, seperti uang pensiun dan asuransi kesehatan. Besar gaji atau honor guru selain dipengaruhi oleh masa kerja, pengalaman dan tingkat pendidikan, juga dipengaruhi oleh tempat dan wilayah kerja akibat adanya perbedaan biaya hidup (living cost) diantara setiap wilayah.

Penyiapan Guru

Setiap guru di Amerika harus memiliki sertifikat profesional. Proses sertifikasi pada awalnya diberikan berdasarkan dokumen-dokumen yang mendukung profesionalisme keguruan  dan karakter baik yang dimiliki guru.  Selanjutnya, proses sertifikasi dilakukan melalui suatu pelatihan yang diselenggarakan oleh universitas. Persayaratan untuk memperoleh sertifikat sertifikasi berbeda untuk setiap negara bagian.  Lama waktu dan materi yang diberikan pada pelatihan profesi guru pada setiap negara bagian pun terdapat perbedaan.  Setifikat sertifikasi hanya berlaku untuk jangka waktu 3-5 tahun. Untuk memperoleh sertifikasi sebagai guru profesional, seorang guru harus memiliki jam mengajar mulai dari 30 jam hingga 75 jam  (berbeda-beda untuk setiap negara bagian).  Walaupun guru telah bersertifikat sebagai guru profesional, tapi area kerja  guru tetap dibatasi oleh negara bagian masing-masing dan tidak bisa mengajar di negara bagian lain. Hal ini penting untuk: 1) menyeimbangkan permintaan dan penawaran guru; 2) meningkatkan kesempatan bagi guru; 3) mengurangi inbreeding dan provinsialisme; 4) meningkatkan moral diantara guru.

Terdapat beberapa program alternatif sertifikasi guru (alternative certification program) yang dilakukan oleh beberapa negara bagian untuk menjaring calon guru yang memiliki kecakapan pada bidang-bidang khusus sepeti matematika dan sains tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan matematika dan sains. Namun terdapat beberapa kasus bahwa guru yang telah mengikuti alternative sertification programe  ini tidak memperoleh bimbingan dan pelatihan lanjutan, sehingga banyak dari mereka yang gagal memperoleh pekerjaan. Namun demikian beberapa kegiatan dalam alternative certification program ini telah berjalan dengan baik.  Teach for America (TFA) adalah salah satu program alternative certification yang berjalan dengan baik.  TFA menarik minat para mahasiswa dengan prestasi baik untuk mengajar di daerah-daerah terpencil.  Pendekatan lain yang telah berhasil adalah  Urban Teacher Residency.  Pendekatan ini mencoba melatih kandidat calon guru yang memiliki motivasi tinggi untuk mengajar selama setahun penuh. Selanjutnya akan ditempatkan di berbagai sekolah yang membutuhkan guru-guru yang mampu mengajar dalam berbagai situasi sulit.

Pola Pendidikan Calon Guru

Terdapat beberapa program pendidikan calon guru yang dilakukan, diantaranya adalah  Fifth Year and Five-Year Programs, dan Reflective Teaching.  Dalam program fifth year, mahasiswa mendapatkan gelar sarjana setelah 4 tahun mengikuti perkuliahan, setelah itu pada tahun ke lima mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi calon guru.  Pada program five year, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi calon guru dengan cara memberikan pengetahuan, pengalaman dan pelatihan dalam jangka waktu 5 tahun.  Sedangkan pada program refrective teaching, seorang refrective teacher secara rutin mengobservasi dan melihat hasil dari pengajarannya dan melakukan perbaikan terhadap metode mengajar mereka agar menjadi lebih baik. Namun di beberapa negara bagian, belum ada standar bagaimana seharusnya reflective teaching dijalankan.

Selain program tersebut, juga terdapat program untuk membekali para guru agar melek komputer dan teknologi.  Tujuan dari program ini adalah agar guru dapat berorientasi pada teknolgi dalam mengajar, dapat memperkenalkan perkembangan hardware dan software pada siswa sekolah dasar dan menengah, serta agar guru dapat memperkuat pemahaman siswa dalam pembelajaran.  Program lain yang diberikan pada calon guru adalah program mengajar siswa dengan disabilitas melalui pembimbingan tenaga professional, kursus atau pelatihan yang khusus untuk melatih kemampuan mengajar siswa dengan disabilitas, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat membekali kemampuan calon guru untuk mengajar pada lingkungan yang beragam.

Program Persiapan

Melalui berbagai kajian yang dilakukan, organisasi bernama The Teaching Commision menemukan bahwa kualitas guru masih rendah. The Teaching Commision mengeluarkan laporan yang berjudul “Teaching at Risk” yang menyatakan masih terlalu banyak guru yang memiliki sedikit pengetahuan tentang matematika, sains, dan materi lainnya yang mereka ajarkan, dan menyatakan bahwa alternative certification programs yang digelar kurang bisa memfasilitasi kebutuhan guru akan keterampilan yang diperlukan dalam mengajar. Begitu juga dengan organisasi lainnya seperti Education Schools Project yang mengeluarkan laporan dari 5 tahun penelitian tentang program pendidikan guru, yang berisi rekomendasi bahwa, sekolah keguruan yang gagal harus ditutup, dan sekolah dengan program berkualitas harus diperluas, beasiswa keguruan harus diberikan, dan quality control harus diperkuat.

Kemampuan dan Pengujian Calon Guru

Isu terbaru yang menjadi perhatian publik adalah bagaimana cara meningkatkan kualitas guru khususnya pada bagaimana meningkatkan kemampuan calon guru dan ujian yang harus diberikan untuk mengetahui kompetensi keguruan yang dimilikinya.    Terdapat tes terstandar yang digunakan untuk mengetahui kompetensi keguran. Skor dari tes inilah yang nantinya akan digunakan sebagai standar kualifikasi guru dan demi memberikan kepercayaan kepada masyarakat sebagai primary customer (anak didik), secondary customer (orang tua), dan tertiary customer (masyarakat, negara, dunia usaha/ industri). Beberapa tes yang telah diterapkan untuk tujuan tersebut, yaitu Scholastic Assessment Test (SAT) dan American College Test (ACT).

Tes lain yang digunakan untuk mengetahui atau menguji keterampilan dasar (basic skill) yang mendukung kompetensi keguruan para calon guru, guru baru, bahkan kadang-kadang guru profesional adalah Praxis Test. Tes ini bertujuan mengukur kemampuan (ability) seorang dalam membaca, menulis, berkomunikasi, matematika, pengetahuan konten, kurikulum dan pembelajaran, dan pengetahuan profesional lainnya.  Asumsi dasar yang digunakan adalah bahwa guru tidak akan mampu melakukan pembelajaran secara efektif bila tidak menguasai kemampuan-kemampuan dasar tersebut.  Bila guru telah mencapai batas skor minimum maka dinyatakan lulus dan dapat mengajar kelas 7 atau kelas 8 dalam hal membaca, menulis dan matematika.

Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja

Apakah para guru merasa puas dengan pekerjaan mereka selama ini? Pertanyaan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa kondisi pekerjaan memiliki pengaruh terhadap tingkat kepuasan kerja para guru. Metropolitan Life Insurance Company melakukan polling untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan guru dalam pekerjaannya itu. Sebagian besar responden menjawab “sangat puas” atau “beberapa hal memuaskan”.  Sekitar separuh responden menyatakan lebih puas dengan pekerjaanya dibandingkan dengan pada saat awal menjadi guru. Nilai kepuasan tersebut meningkat dari 40% pada tahun 1984 menjadi 62% pada tahun 2008.  Beberapa survey lain juga mendapatkan hasil yang serupa, yaitu guru merasa puas dengan pekerjaan mereka dan nilai kepuasan tersebut meningkat dari tahun ke tahun.  Namun demikian sebagian guru masih menyatakan belum mendapatkan kepuasan dari profesi guru yang dipilihnya.  Beberapa alasan ketidak puasan yang terungkap adalah seperti ketidak cukupan waktu dalam membimbing siswa, ketidak cukupan waktu dalam merencanakan pembelajaran dan fungsi pembelajaran lainnya, ketidakjelasan keinginan atasan, administrasi yang kurang tanggap, fasilitas yang tidak memadai, pelatihan yang kurang memadai, dan gaji yang kurang memadai, dan adanya keputusan-keputusan organisasi yang kurang mengakomodasi masukan.

Hampir sebagian besar guru dan calon guru merasakan bahwa mereka puas dengan pekerjaan mereka, namun adakalanya pekerjaan tersebut mendatangkan tekanan batin bagi mereka. Salah satu faktor yang paling sering menimbulkan tekanan (stress) dikalangan guru adalah adanya standar yang diberikan pemerintah negara bagian atau distrik terhadap batas minimal performa atau nilai yang harus diperoleh siswa. Semua negara bagian menggunakan pengujian yang sama untuk semua sekolah yang terdapat pada distrik masing-masing. Hasil pengujian digunakan sebagai dasar apakah siswa layak atau tidak layak lulus dari satu tingkatan tertentu, serta digunakan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Reformasi Sekolah melalui Peningkatan Fungsi dan Kualifikasi Guru

Salah satu gerakan reformasi paling berpengaruh adalah No Child Left Behind Act (NCLB), yaitu suatu gerakan upaya peningkatan kualitas guru.  Suatu laporan yang berjudul “A Nation at Risk” (1983) menyatakan bahwa salah satu faktor penurunan kualitas pendidikan adalah “tingginya tingkat rasa puas” dalam sekolah sehingga tidak memberikan kemajuan, perbaikan dan perkembangan apapun.  Beberapa solusi yang diajukan untuk mengatasi hal tersebut adalah: melalui pemberian standar tinggi dalam ujian seleksi, meningkatkan gaji guru, memberi honor tambahan, memberikan jenjang karir yang jelas, dan melibatkan guru-guru  berpengalaman dalam membimbing guru-guru baru.

NCLB (No Child Left Behind Act)

Aktivitas peningkatan kualitas guru menjadi salah satu bagian integral dari gerakan reformasi sekolah nasional melalui gerakan No Child Left Behind Act pada.  NCLB berperan dalam menjaga kebijakan-kebijakan pemerintah terkait pendidikan dasar dan menengah. Selain itu NCLB menetapkan batas nilai standar yang menjadi standar pemerintah. NCLB  memberi batas kualifikasi standar guru yang akan diterima menjadi guru negeri dengan standar kualifikasi yang tinggi. Guru dengan kualifikasi tinggi adalah guru yang : 1) memiliki gelar sarjana; (2) memenuhi sertifikasi dan izin yang telah ditetapkan pemerintah; (3) menampilkan kompetensi yang layak dalam mengajar.

Perkembangan NCLB

Pemerintah telah menggelontorkan jutaan dolar dalam implementasi program alternative certification bagi guru dan tenaga kependidikan, memberikan tunjangan bagi guru-guru yang mengajar di sekolah terpencil atau sekolah khusus, menguji guru pada materinya masing-masing, dan membentuk Teacher Assistance Corps untuk menjaga kualitas. Dalam mendukung NCLB, keluarlah laporan “A Fifth Annual Report on Teacher Quality” yang menyatakan bahwa pemerintah masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu mencapai kualitas guru yang terbaik di setiap kelas walaupun sudah mendekati, dan masih kecilnya skor minimum untuk memperoleh standar guru di beberapa negara bagian. Masih banyak kontroversi dalam hasil kebijakan pemerintah dalam mencapai standar kualitas guru yang tinggi. Contohnya walaupun pemerintah telah menyatakan bahwa hampir 90 persen pembelajaran telah melibatkan guru-guru yang berkualitas, tapi ternyata banyak pengamat yang menyatakan bahwa pembelajaran masih banyak melibatkan guru-guru yang tidak kompeten dibidangnya.

Organisasi Pendidikan

Salah satu organisasi pendidikan yang ada adalah Holmes Group. Organisasi ini memiliki fokus pada PDSs (Professional Development Schools) dengan cara menghubungkan sekolah tinggi kependidikan dengan sekolah-sekolah yang ada, sehingga guru-guru yang berpengalaman, guru-guru baru, pembimbing guru, serta tenaga kependidikan semua bisa bekerjasama dalam suatu komunitas pembelajar.  Organisasi berikutnya adalah American Federation of Teachers (AFL), the American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE) dan the National Education Association (NEA), merupakan organisasi yang sejalan dengan PDSs, namun seringkali terhambat oleh masalah dana dan kerjasama antar institusi. Selain itu terdapat organisasi Renaissance Group, organisasi ini berpendapat memiliki pendapat bahwa pelatihan guru seharusnya terintegrasi selama pembelajaran mahasiswa di universitas, bukan hanya terkonsentrasi di akhir tahun.

Reformasi Sekolah dan Dukungan Bagi Guru

Beberapa bentuk reformasi yang telah dilakukan pada sistem pendidikan di Amerika diantaranya adalah: (1) School Based Management. Bentuk reformasi ini memberikan keleluasaan pada guru untuk ikut andil dalam menentukan kebijakan-kebijakan sekolah seperti menentukan metode pembelajaran apa yang diterapkan, bahan yang diajarkan, dan kemana dana sekolah harus digunakan. Sebagai contoh, sekolah-sekolah di Florida menerapkan pendekatan self-governance approach, dimana para guru dan administrator bekerja sama untuk mendesain kembali program-program pendidikan disekolah mereka.  Program-program sekolah dibicarakan dan didiskusikan secara terbuka sehingga memberikan kesempatan kepada semua guru dan tenaga administrator untuk memberikan ide-ide mereka dalam rangka meningkatkan mutu program.  (2) Lead Teachers.  Merupakan bentuk reforemasi yang bertujuan memperluas tanggung jawab guru. Lead Teacher dipilih oleh panelis yang terdiri dari 4 orang guru dan 3 orang tenaga kependidikan.  Mereka yang terpilih akan mengajar 10 jam lebih lama, menjadi pementor, merancang peningkatan rencana pembelajaran, dan berbagai fungsi kepemimpinan lainnya. (3) Professional Practice Communities. Komunitas guru-guru ini dibentuk agar sesama guru dapat berbagi ide, dan pengalaman dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui komunitas ini juga dibentuk standar kurikulum yang digunakan sebagai standar dalam mencapai target kurikulum.

KOMPARASI SISTEM PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU DI AMERIKA DAN INDONESIA

Sistem Pendidikan

Karakteristik utama sistem pendidikan di Amerika adalah lebih menonjolkan desentralisasi.  Pemerintah pusat memberi otonomi seluas-luasnya kepada pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah (distrik).  Meskipun demikian Amerika teteap memiliki tujuan pendidikan yang berlaku secara nasional yang digariskan oleh pemerintah pusat, yaitu untuk: (1) mencapai kesatuan dalam keberagaman, (2) mengembangkan cita-cita dan praktek demokrasi, (3) mengembangkan individu, (4) memperbaiki kondisi sosial masyarakat, (5) mempercepat kemajuan nasional.  Selain itu, Amerika Serikat mengembangkan visi dan misi pendidikan gratis bagi anak usia 12 tahun sejak pendidikian awal.

Pemerintah Indonesia baru menetapkan sistem pendidikan gratis untuk 9 tahun jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sistem pendidikan di Indonesia mengalami pergeseran dari sentralistik menuju desentralistik.  Inspirasi pertama muncul dari diundangkannya otonomi daerah secara reformis yaitu UU No 22 Tahun 1999. Undang-undang otonomi daerah baru itu mengilhami dirumuskannya kebijakan desentralisasi pendidikan.  Terdapat tiga hal yang dapat menjelaskan urgensi desentralisasi pendidikan di Indonesia, yaitu untuk: (1) membangun masyarakat demokrasi, (2) pembangunan social capital, (3) peningkatan daya saing bangsa.  Pada saat ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol, yaitu (1) masih rendahnya  pemerataan memperoleh pendidikan, (2)  masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, (3) masih lemahnya manajemen pendidikan, disamping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi (Depdiknas, 2006).

Standar Pengembangan Profesionalitas Guru

Pengembangan profesionalitas guru di Amerika Serikat mengikuti empat standar sebagaimanan yang dikemukakan NRC (1996) tentang standar pengembangan profesi guru yaitu : (1) Standar A. Pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inkuiri.  Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses observasi fenomena alam, membuat penjelasan-penjelasan dan menguji penjelasan tersebut berdasarkan fenomena alam. (2) Standar B. Pengembangan profesi untuk guru sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains.  Guru yang efektif tidak hanya tahu tentang sains tetapi juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan representasi apa yang bisa membantu siswa belajar. (3) Standar C. Pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa.  Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telat berkomit menuntut belajar sepanjang masa.  Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga guru berkesempatan terus untuk belajar. (4) Standar D. Program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu.  Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia telah memberlakukan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dalam rangka menjamin mutu pendidikan nasional.  Secara lebih rinci SNP bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.  SNP berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.  SNP disempurnakan secara terencana, terarah dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.  SNP terdiri atas standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, standar penilaian pendidikan. Khusus pada standar pendidikan dan tenaga kependidikan dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademiik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.  Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pola Pendidikan Calon Guru

Terdapat beberapa program pendidikan calon guru yang dilakukan di Amerika Serikat, diantaranya adalah  Fifth Year and Five-Year Programs, dan Reflective Teaching.  Mahasiswa mendapatkan gelar sarjana setelah 4 tahun mengikuti perkuliahan pada program fifth year, setelah itu pada tahun ke lima mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi calon guru.  Program five year merupakan program penyiapan mahasiswa untuk menjadi calon guru dengan cara memberikan pengetahuan, pengalaman dan pelatihan dalam jangka waktu 5 tahun,  sedangkan pada program refrective teaching, seorang refrective teacher secara rutin mengobservasi dan melihat hasil dari pengajarannya dan melakukan perbaikan terhadap metode mengajar mereka agar menjadi lebih baik.

Program penyiapan guru IPA di Indonesia disiapkan melalui pendidikan keguruan Strata 1 dengan cara memberikan pengetahuan, pengalaman dan pelatihan selama empat tahun (delapan semester).  Salah satu bentuk pemberian pengalaman keguruan para calon guru adalah melalui pemberlakuan matakuliah Praktek Pengalaman Lapangan (PPL).  Matakuliah PPL dibedakan menjadi PPL 1 berupa microteaching atau praktek melakukan pembelajaran dengan sesama mahasiswa calon guru yang dilakukan selama satu semester, dan PPL 2 berupa praktek langsung melaksanakan pembelajaran ke sekolah yang dilakukan selama satu semester.

Selain program tersebut, terdapat program untuk membekali para guru di Amerika agar melek komputer dan teknologi.  Tujuan dari program ini adalah agar guru dapat berorientasi pada teknolgi dalam mengajar, dapat memperkenalkan perkembangan hardware dan software pada siswa sekolah dasar dan menengah, serta agar guru dapat memperkuat pemahaman siswa dalam pembelajaran.  Program lain yang diberikan pada calon guru adalah program mengajar siswa dengan disabilitas melalui pembimbingan tenaga professional, kursus atau pelatihan yang khusus untuk melatih kemampuan mengajar siswa dengan disabilitas, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat membekali kemampuan calon guru untuk mengajar pada lingkungan yang beragam. Pendidikan keguruan di Indonesia juga menekankan pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis komputer.  Tujuan ini dikembangkan melalui beberapa matakuliah atau materi yang membekali literasi komputer mahasiswa calon guru. Matakuliah tersebut diataranya adalah Matakuliah Dasar-Dasar Komputer, Pemrograman Komputer, Fisika Komputasi, Kimia Komputasi, dan Media Pembelajaran Berbasis Komputer.  Pendidikan di Indonesia juga menyelenggarakan program pendidikan untuk siswa dengan disabilitas yaitu pendidikan sekolah luar biasa (SLB).

Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Proses sertifikasi di Amerika pada awalnya diberikan berdasarkan dokumen-dokumen yang mendukung profesionalisme keguruan  dan karakter baik yang dimiliki guru. Selanjutnya, proses sertifikasi dilakukan melalui suatu pelatihan yang diselenggarakan oleh universitas. Persayaratan untuk memperoleh sertifikat sertifikasi berbeda untuk setiap negara bagian.  Lama waktu dan materi yang diberikan pada pelatihan profesi guru pada setiap negara bagian pun terdapat perbedaan.  Setifikat sertifikasi hanya berlaku untuk jangka waktu 3-5 tahun. Untuk memperoleh sertifikasi sebagai guru profesional, seorang guru harus memiliki jam mengajar mulai dari 30 jam hingga 75 jam  (berbeda-beda untuk setiap negara bagian).  Walaupun guru telah bersertifikat sebagai guru profesional, tapi area kerja  guru tetap dibatasi oleh negara bagian masing-masing dan tidak bisa mengajar di negara bagian lain.

Salah  satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional adalah melalui program peningkatan kompetensi guru.  Program atau upaya tersebut berupa  supervisi guru melalui pengawasan kepala sekolah, pengawas sekolah,  dandiknas; program  inservice training; kebijakan pemerintah; program sertifikasi, peningkatan kualitas LPTK, lesson study, ujian kompetensi guru (UKG) dan lain-lain.  Kepala Sekolah, Pengawas sekolah, dan Diknas memiliki hubungan  komando yang tegas dalam menentukan bentuk kegiatan guru di kelas. Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah memiliki lima aspek kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan yang dapat diarahkan untuk peningkatan kompetensi guru. Sedangkan Inservis training merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru melalui penyelenggarakan penataran, pelatihan,  dan workshop.  Pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan dilakukan melalui dua cara yaitu  penilaian portofolio guru dan jalur pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG). Penilaian portofolio dilakukan terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru yang meliputi berbagai aspek.  Penilaian portofolio ini mengandung sisi kelemahan, para guru yang mengejar gaji menyiasati portofolio dengan berbagai cara yang bertentangan dengan prinsip pendidikan. Guru yang belum lulus sertifikasi melalui jalur portofolio diwajibkan mengikuti PLPG.  Guru dinyatakan lulus bila memenuhi persayaratan yang diberikan, dan persyaratan tersebut sama untuk setiap daerah di Indonesia.  Guru yang dinyatakan lulus sertifikasi akan diberi sertifikat sertifikasi yang akan terus berlaku selama guru yang bersangkutan mampu menunjukkan batas kompetensi minimum yang dipersyaratkan.  Guru IPA yang telah tersertifikasi memiliki kewajiban mengajar sebanyak 24-40 jam per minggu. Mulai tahun 2016 sistem sertifikasi guru dalam jabatan melalui PLPG dihentikan, proses sertifikasi selanjutnya disiapkan untuk calon guru melalui jalur Program Pendidikan Guru (PPG).  PPG dilaksanakan selama 2 semester (bagi lulusan LPTK) atau 3 semester (bagi lulusan non LPTK) dengan sebagian besar waktunya digunakan untuk workshop dan latihan di sekolah.

Pemerintah juga telah menggulirkan program pengujian kompetensi guru yang disebut Uji Kompetesnsi Guru (UKG) yang dilakukan secara periodik.  UKG wajib diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik PNS maupun Non PNS.  Pelaksanaan UKG melibatkan berbagai instansi antara lain BPSDMPK-PMP, LPMP, dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kota/kabupaten. Hasil UKG difokuskan untuk identifikasi kelemahan guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik dan profesional.  Adapun tujuan UKG bagi guru adalah untuk pemetaan kompetensi pedagogik dan profesional guru, melaksanakan program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan, serta sebagai alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.

Pembinaan Profesionalisme Melalui Organisasi Profesi

Terdapat beberapa organisasi pendidikan di Amerika, beberapa diantaranya adalah adalah Holmes Group, American Federation of Teachers (AFL), the American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE) dan the National Education Association (NEA).  Holmes Group merupakan organisasi yang memiliki fokus pada PDSs (Professional Development Schools) dengan cara menghubungkan sekolah tinggi kependidikan dengan sekolah-sekolah yang ada, sehingga guru-guru yang berpengalaman, guru-guru baru, pembimbing guru, serta tenaga kependidikan semua bisa bekerjasama dalam suatu komunitas pembelajar.  AFL, AACTE dan NEA merupakan organisasi yang sejalan dengan PDSs, namun seringkali terhambat oleh masalah dana dan kerjasama antar institusi. Selain itu terdapat organisasi Renaissance Group, organisasi ini berpendapat memiliki pendapat bahwa pelatihan guru seharusnya terintegrasi selama pembelajaran mahasiswa di universitas, bukan hanya terkonsentrasi di akhir tahun.

Pembinaan profesionalitas guru di Indonesia selain dilakukan oleh unsur yang berasal dari kelembagaan pemerintah, terdapat pula pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Himpunan Sarjana Pendidikan dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia (HISPPIPAI), Asosiasi Guru Sains Indonesia (AGSI), dan organisasi lainnya. PGRI merupakan organisasi guru terbesar dan terlama beranggotakan semua guru di Indonesia berasal dari berbagai tingkatan sekolah. Sesuai dengan misinya, PGRI berusaha dengan sungguh-sungguh agar guru menjadi profesional sehingga pembangunan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat direalisasikan. Organisasi ini melakukan fungsi pembinaan profesional guru melalui perintisan penyusunan berbagai aturan, perundangan, hak-hak dan kewajiban guru serta aspek hukum yang berkaitan dengan perlindungan profesi keguruan. HISPPIPAI berkiprah dalam pembinaan profesionalisme guru IPA melalui seminar-seminar dan lokakarya yang diselenggarakan secara periodik. AGSI organisasi baru yang kiprahnya cukup dapat diperhitungkan, berkomitmen untuk melakukan pembinaan kepada guru IPA melalui kegiatan public lecture, menyelenggarakan diklat, seminar, dan workshop bekerjasama dengan lembaga diklat lain.  Pada tingkat sekolah pembinaan profesional guru IPA dilakukan melalui organisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA (Depdiknas, 2008).  Bentuk program pembinaan profesionalitas guru IPA berbasis MGMP yang sangat potensial dan masih dilakukan sampai saat ini adalah program lesson study (Hendayana, 2006)

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan pembahasan yang telah dijabarkan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Alasan yang mendorong sesorang menjadi guru diantaranya adalah kecintaan terhadap anak-anak; keinginan untuk memberikan pengetahuan; ketertarikan dalam kegiatan mengajar; keinginan untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat; adanya job scurity; keuntungan tunjangan pensiun; persiapan menjadi guru lebih mudah dibandingkan pada profesi lain; mengajar membantu siswa tumbuh dan belajar; mengajar merupakan kegiatan yang menantang; suasana kerja yang menyenangkan; terinspirasi guru favorit, dan sense of vocation and honor of teaching.
  2. Minat masyarakat menjadi guru dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini bersesuainan dengan kekurangan guru di berbagai daerah, baik pada sekolah negeri maupun swasta. Kekurangan guru terutama terjadi pada daerah-daerah dengan tingkat urban tinggi. Kebutuhan guru pada bidang-bidang khusus seperti pada pendidikan siswa dengan disabilitas, remedial education, pendidikan bilingual, pendidikan matematika dan sains, serta pendidikan bahasa asing akan terus meningkat
  3. Gaji dan keuntungan yang diperoleh guru diantaranya adalah gaji pokok, tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan daerah, tunjangan kegiatan tambahan, tunjangan pensiunan, asuransi kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lain yang berlaku. Dibandingkan dengan profesi lain pada tingkat pendidikan yang sama, awalnya gaji guru lebih rendah, namun demikian saat ini gaji guru tidak kalah besar dengan gaji untuk profesi lain.
  4. Terdapat beberapa program pendidikan calon guru yang dilakukan di Amerika, diantaranya adalah Fifth Year and Five-Year Programs, dan Reflective Teaching, program literasi teknologi dan komputer, program mengajar siswa dengan disabilitas melalui pembimbingan tenaga professional, kursus atau pelatihan, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat membekali kemampuan calon guru untuk mengajar pada lingkungan yang beragam.
  5. Umumnya guru menyatakan puas atas pekerjaannya sebagai guru. Nilai kepusan tersebut meningkat dari tahun ketahun, dengan kata lain kepuasan guru saat ini lebih besar dibandingkan dengan kepuasan pada saat awal menjadi guru.  Namun demikinan masih terdapat sebagaian guru yang merasa belum atau tidak puas dengan pekerjaannya.  Ketidakpuasan tersebut dikarenakan alasan ketidak cukupan waktu dalam membimbing dan dalam merencanakan pembelajaran, ketidakjelasan keinginan atasan, administrasi yang kurang tanggap, fasilitas yang tidak memadai, pelatihan yang kurang memadai, gaji yang kurang memadai, dan adanya keputusan-keputusan organisasi yang kurang mengakomodasi masukan dari guru.
  6. Beberapa bentuk program atau pembinaan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru di Amerika diantaranya adalah program sertifikasi bagi guru dalam jabatan, program alternatif sertifikasi guru (alternative certification program); Teach for America (TFA); Urban Teacher Residency; No Child Left Behind Act (NCLB); Teacher Assistance Corps; organisai guru seperti Holmes Group, American Federation of Teachers (AFL), The American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE), The National Education Association (NEA), Renaissance Group; dan beberapa bentuk reformasi seperti School Based Management, Lead Teachers, dan Professional Practice Communities.

Implikasi

Sistem pendidikan di Amerika mengilhami rumusan sistem pendidikan di Indonesia.  Banyak kebijakan pendidikan Amerika yang mempengaruhi kebijakan pendidikan di Indonesia.  Beberapa kebijakan tersebut terlihat padas standar pengembangan profesionalitas guru, pola pendidikan dan penyiapan calon guru, upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, dan bentuk pembinaan profesionalisme guru melalui organisasi profesi pendidikan.

Rekomendasi

Pemerintah Indonesia harus melakukan kajian secara mendalam dan komprehensif sebelum melakukan pengadopsian berbagai kebijakan pendidikan Amerika ke dalam sistem pendidikan nasional.  Tidak semua kebijakan pendidikan Amerika cocok dan sesuai diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia.  Kebijakan-kebijakan yang diadobsi harus disesuaikan dengan budaya bangsa yang beridelogi Pacasila.

 

DAFTAR PUSTAKA

(Request melalui m.sutarno@unib.ac.id)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: