PERAN PEDAGOGIK DALAM PENDIDIKAN IPA BERBASIS STUDENT CENTERED LEARNING

Oleh : M. Sutarno, S.Si.,M.Pd

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pedagogik dalam konteks pendidikan merupakan ilmu yang mampu memberi warna dan nuasa dalam kehidupan manusia di dalam mempertahankan martabat kemanusiaannya dan memberikan nuansa kemaslahatan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Pedagogik diartikan dengan ilmu mendidik, lebih menitikberatkan kepada pemikiran dan perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing dan mendidik peserta didik. Pemikiran ini erat kaitannya dengan karakteristik pendidikan IPA.

IPA adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuiri yang dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) secara terus menerus; merupakan suatu upaya manusia yang meliputi operasi mental, keterampilan, dan strategi memanipulasi dan menghitung, yang dapat diuji kembali kebenarannya dengan dilandasi sikap keingintahuan (curiousity), keteguhan hati (courage), ketekunan(persistence) yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta.

Tujuan pendidikan IPA pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat sains (proses dan produk serta aplikasinya) dengan mengembangkan sikap ingin tahu, keteguhan hati, ketekunan dan sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta terjadi pengembangan ke arah sikap positif.  Secara lebih rinci, tujuan pendidikan IPA mencakup lima dimensi, yaitu pengetahuan dan pemahaman (scientific information); penggalian dan penemuan (exploring and discovering; scientific process); imajinasi dan kreativitas, sikap dan nilai; dan penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari

Guru IPA yang memahami landasan pedagogik akan senantiasa melaksanakan pembelajaran IPA yang mendorong sebanyak mungkin pelibatan siswa dalam proses pembelajaran. Guru IPA harus menggeser paradigma pembelajaran dari teacher centered approach menjadi student centered approach.  Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri melalui pembelajaran dengan cara mengalami.  Salah satu strategi pembelajaran yang mendukung penggunaan pendekatan student center adalah pembelajaran berbasis proyek (project based learning).

Makalah ini disajikan dalam empat bagian yaitu bagian pertama berisi latar belakang dan permasalahan; bagian kedua berisi kajian teori tentang landasan pedagogik, hakikat IPA,  pengembangan program pembelajaran IPA, dan peran landasan pedagogik dalam pengembangan program IPA; bagian ketiga berisi pembahasan tentang pendekatan student center dalam pembelajaran IPA dan model pembelajaran berbasis proyek (project based learning), bagian empat berisi kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi.

Rumusan Masalah

Kajian teoritik yang dilakukan dalam makalah ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana karakteristik pengembangan program pendidikan IPA? (2) Bagaimana peran landasan pedagogik pada pengembangan program pendidikan IPA? (3) Bagaimana karakteristik pendekatan student center pada pembelajaran IPA? (4) Bagaimana karakteristik pembelajaran berbasis proyek pada pembelajaran IPA?

PEMAHAMAN LANDASAN PEDAGOGIK DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN IPA

Landasan Pedagogik

Landasan bermakna prinsip-prinsip dasar yang dijadikan sebagai pedoman atau tempat berpijak. Pedagogik adalah ilmu tentang perkembangan dan pendidikan anak atau ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu agar kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya (Langeveld dalam Suyitno, 2008). Landasan pedagogik merupakan prinsip-prinsip dasar yang dijadikan pedoman dalam mendidik peserta didik.  Terdapat perbedaan pengertian pedagogik dan pedagogi. Pedagogik diartikan sebagai ilmu mendidik, lebih menitikberatkan pada pemikiran dan perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing dan mendidik anak. Sedangkan pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktik, menyangkut kegiatan mendidik dan membimbing anak.  Kiprah ilmu mendidik dalam pendidikan diantaranya bertujuan untuk mendewasakan anak menjadi dewasa; memanusiakan manusia; mencerdaskan bangsa; mendidik peserta didik; dan mengembangkan potensi fisik, sosial, mental (kecerdasan intelektual, emosional dan moral) dan potensi spriritual.

Pedagogik dalam konteks pendidikan berkaitan dengan implementasi ‘mendidik’ meliputi bahasan tentang konsep dasar tentang pendidikan, landasan filosofis, historis, psikologis, sosioantropologis, dan landasan manajemen serta teknologi pendidikan. Pedagogik dalam konteks pendidikan merupakan ilmu yang mampu memberi warna dan nuansa dalam kehidupan manusia di dalam mempertahankan martabat ke’-manusia’annya dan memberikan nuansa kemaslahatan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Hakikat IPA

Secara etimologi kata sains berasal dari bahasa latin, yaitu scientia yang berarti pengetahuan atau knowlegde (Fisher, 1975). Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya merupakan ilmu pengetahuan yang dibentuk dari proses inkuiri yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan melalui tahapan-tahapan eksperimental yang dikenal sebagai metode ilmiah. Proses inkuiri yang merupakan ciri khas IPA mengandung tiga komponen utama yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu aspek produk IPA, proses IPA, dan sikap ilmiah. Produk IPA merupakan sekumpulan hasil keilmuan yang mencakup konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori yang dikembangkan melalui serangkaian proses ilmiah. Proses IPA merupakan cara sistematis untuk mengungkap fenomena alam melalui kegiatan dan keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, menginferensi, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis bukti, dan mengkomunikasikan temuan. Keterampilan-keterampilan tersebut selanjutnya dikenal sebagai keterampilan proses sains. Serangkaian proses ilmiah yang dilakukan dalam inkuiri akan menghasilkan sikap keteguhan hati,  keingintahuan dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam.

Pengembangan Program Pendidikan IPA

Pendidikan IPA pada hakikatnya merupakan usaha membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat sains (proses dan produk serta aplikasinya) mengembangkan sikap ingin tahu, keteguhan hati, ketekunan, kesadaran akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, serta mengembangkan sikap positif siswa. Pengembangan program IPA harus didasarkan pada key result areas pendidikan IPA yaitu memahami dan mengapresiasi evolusi hakikat pengetahuan ilmiah; memahami hakikat IPA sebagai usaha manusia, sejarahnya, hubungannya dengan usaha manusia lainnya dan kontribusinya terhadap masyarakat; memahami bahwa pengetahuan ilmiah telah diorganisasi oleh masyarakat ilmiah ke dalam suatu disiplin; menerapkan pengetahuan ilmiah untuk menjelaskan dan memprediksi suatu peristiwa; menggunakan praktik dan karakter pendidikan ilmiah, refleksi dan analisis untuk memperhalus pengetahuan; mengembangkan karakter serta kejujuran ilmiah dan komitmen pada penalaran ilmiah; menggunakan bahasa ilmiah; menggunakan proses pembuatan keputusan yang melibatkan pertimbangan etik dari dampak IPA terhadap manusia dan lingkungan; menggunakan praktek dan karakter kerja ilmiah pada semua disiplin (Mariana & Praginda, 2009).

Pengembangan program pendidikan IPA harus diarahkan pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk mempelajari prinsip-prinsip dan konsep-konsep ilmu pengetahuan, memperoleh penalaran dan keterampilan prosedural, dan memahami sifat ilmu sebagai bentuk khusus dari usaha manusia. Siswa harus mampu merancang dan melakukan investigasi untuk menguji ide-ide mereka dan perlu memahami mengapa investigasi tersebut unik dan bermakna. Siswa diberi kesempatan untuk melatih dan menumbuhkan sikap ilmiah dirinya melalui kegiatan penyelidikan dalam praktikum.

Pengembangan program pendidikan IPA harus merujuk pada penyelenggaraan pembelajaran yang berbasis pada aktivitas siswa (student centered learning). Pembelajaran student centered memiliki ciri-ciri antara lain peserta didik aktif terlibat dalam proses belajar, subyek pembelajaran harus memotivasi; dan pengalaman belajar diperoleh melalui suasana yang nyata. Pembelajaran student centered menekankan peran guru sebagai fasilitator dan mitra atau pendamping bagi siswa dalam proses pembelajarannya. Guru bertugas menciptakan rasa nyaman dalam proses pembelajaran sehingga siswa memiliki keberanian untuk menggungkapkan atau mendiskusikan perasaan dan keyakinannya.

Peran Landasan Pedagogik dalam Pengembangan Program IPA

Landasan pedagogik pada pendidikan IPA merupakan prinsip-prinsip dasar yang dijadikan pedoman dalam melakukan pendidikan IPA.  Indikator standar pendidikan guru sains menurut NSTA (1998) yang memenuhi kriteria landasan pedagogik IPA adalah:

  • Tingkatan Pre Service. Indikator untuk tingkatan pre service yaitu guru harus mampu: (a) Merencanakan kegiatan-kegiatan untuk menyampaikan hakikat sains dan aplikasinya termasuk bermacam cara dalam mengkreasikan pengetahuan ilmiah, pengetahuan tentatif dan kreativitas berbasis bukti empiris, (b) Membandingkan dan membedakan karakteristik pengetahuan dalam sains dengan pengetahuan yang lain. (c) Menjelaskan ketentuan-ketentuan dalam penelitian, fakta-fakta, hukum-hukum, teori-teori dan hipotesis, (d) Menyediakan contoh tentang berbagai perubahan dalam pengetahuan sains dari masa ke masa.
  • Tingkatan Induksi. Indikator untuk tingkatan induksi yaitu guru harus mampu: (a) Menyampaikan hakikat sains dasar dan aplikasinya, termasuk bermacam cara dalam mengkreasikan pengetahuan ilmiah, pengetahuan tentatif dan kreativitas berbasis bukti empiris. (b) Melibatkan siswa secara teratur dalam berpikr ilmiah, mengintegrasikan kriteria sains dalam penyelidikan dan studi kasus (c) Menunjukkan pertanyaan dan desain penelitian serta intepretasi data berdasarkan aturan-aturan sains dan konsep-konsep tentang hakikat pengetahuan.
  • Tingkatan Profesional. Indikator untuk tingkatan profesional yaitu guru harus mampu (a) Secara konsisten mengintegrasikan kegiatan pembelajaran untuk mengkreasikan pengetahuan ilmiah, pengetahuan tentatif dan kreativitas berbasis bukti empiris. (b) Mendesain pembelajaran efektif yang membedakan sains dan non sains serta mengacu pada satu kesatuan kriteria terhadap fakta-fakta. (c) Mendesain pembelajaran yang memperlihatkan bagaimana pertanyaan dan desain penelitian serta interpretasi data berdasarkan aturan-aturan dan konsep-konsep tentang hakikat pengetahuan. (d) Secara sistematis melibatkan siswa dalam membahas hakikat IPA.

DeBoor (1991) menyatakan bahwa kurikulum dan arah sains dalam pendidikan harus sesuai dengan tujuan sains yaitu agar peserta didik dapat memperoleh capaian seperti yang diharapkan. Adapun tujuan pendidikan sains yang diharapkan adalah: (1) Meningkatkan  kesejahteraan masyarakat umum melalui pendidikan, dengan penyebaran informasi tentang kehidupan sehari-hari, (2) Mengembangkan hubungan sains dan keindahan alam. (3) Menarik minat peserta didik untuk mempelajari sains. (4) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengobservasi, membuat pengukuran yang teliti terhadap suatu fenomena, mengklasifikasikan pengamatan dan membuat penalaran secara jelas terhadap hasil pengamatan. (5) Pemahaman yang jelas tentang prinsip-prinsip masing-masing cabang sains meliputi: fisika, kimia dan biologi.

PENDIDIKAN IPA DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTER MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK

Pendekatan Student Centered Learning (SCL)

Landasan Pendekatan Student Centered Learning

Penekanan pembelajaran dengan pendekatan Student Center Learning (SCL) sesungguhnya telah diisyaratkan dalam  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab III pasal 4 ayat (3) yang memuat ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Selanjutnya, pasal 4 ayat (4) menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

SCL merupakan pendekatan pembelajaran yang memberdayakan peserta didik selama proses pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat kaku dari pendidik dirubah menjadi pembelajaran yang memberi kesempatan peserta didik menyesuaikan kemampuannya dan berperilaku langsung dalam menerima pengalaman belajarnya. Landasan pemikiran SCL didasarkan pada teori belajar konstruktivis (Weswood, 2008). Prinsip teori konstruktivis adalah  memusatkan proses pembelajaran pada perubahan perilaku peserta didik melalui pengalaman langsung untuk membentuk konsep belajar.

Karakteristik Pendekatan Student Centered Learning

O’Neill (2005) menyatakan beberapa karakteristik dari pendekatan SCL berkaitan dengan aspek pengajar, siswa, materi dan teknik penyampainnya, yaitu : (1) Pengajar berperan sebagai penunjang, dalam hal ini bertugas sebagai perantara pembelajaran yang membantu mengarahkan siswa, dan apabila perlu ikut dalam membantu siswa dalam mengembangkan materi yang ada. (2) Pengajar berwawasan luas dan bersifat terbuka terhadap masukan maupun kritikan yang membangun bagi siswanya. (3) Pengajar menggunakan cara penyampaian materi yang dianggap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang pengajar menggunakan cara pengajaran yang berbeda untuk setiap kelas. (4) Siswa merupakan tokoh utama pembelajaran yang memiliki wewenang untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari terkait dengan materi yang ada termasuk cara penyampaiannya. Siswa merupakan tokoh yang aktif pada proses pembelajaran yang senantiasa memberikan gagasan, baik saran dan kritik. Mereka bukan hanya menerima materi dari pengajar melainkan juga ikut serta dalam merumuskan, mengembangkan dan memproses materi pembelajaran. (5) Siswa mampu untuk mengembangkan materi belajar secara mandiri, dimana saja, kapan saja, bukan hanya di kelas atau di tempat pengajar berada. (6) Siswa mampu merumuskan harapan mereka terhadap proses pembelajaran dan mengukur kinerja mereka sendiri. (7) Siswa saling berkoloborasi satu sama lain. (8) Siswa memantau pembelajarannya sendiri, sehingga mampu untuk merumuskan strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai hasil yang  optimal. (9) Siswa termotivasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkannya sendiri. (10) Siswa memilih anggota kelompoknya sendiri dan menemukan bagaimana cara bekerja dalam kelompok tersebut. (11) Materi pembelajaran bersifat sebagai arahan bukan patokan pembelajaran, sehingga pengajar dan siswa tidak hanya terpaku pada materi yang ada, namun kreatif untuk mengembangkannya secara berkelanjutan. (12) Pembelajaran adalah proses pencarian ilmu pengetahuan secara aktif atau proses perumusan ilmu bukan proses penangkapan ilmu semata. (13) Siswa membangun pengetahuannya sendiri melalui proses pembelajaran pribadi yang dilaluinya.

Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa

Penilaian hasil belajar siswa pada SCL ditekankan pada knowledge, attitudes dan skills sebagai satu kesatuan yang utuh. Domain penilaian meliputi tanggung jawab siswa dalam pembelajaran, kegiatan yang bersifat independen dan kooperatif, pemecahan masalah, pemahaman materi pembelajaran, dan keterampilan berpikir kritis. Penilaian hasil belajar di dalam SCL juga dapat meliputi formative assessment (untuk memberi umpan balik kepada siswa tentang pembelajarannya) dan summative assessment dengan menggunakan criterion-referenced assessment. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa baik guru maupun siswa dapat mengetahui secara mudah tentang letak keberhasilan dan ketidak berhasilannya. Hasil penilaian tadi dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan datang (Ingleton, 2001).

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Base Learning

Defenisi dan Karakteristik

Model project base learning adalah suatu model pembelajaran efektif yang berfokus pada kreatifitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi antara siswa untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru.  Model problem base learning dilakukan dalam konteks pembelajaran berpusat pada siswa (student centered learning) (Akinoglu & Tandogan, 2007) dan merupakan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan faham pembelajaran konstruktivis (Doppelt, 2003).

Thomas (2000) menyebutkan bahwa project-based learning memiliki karakteristik, yaitu: (1) adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik; (2) peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan; (3) peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; (4) proses evaluasi dijalankan secara kontinyu; (5) peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;  (6) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan (7) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan. Menurut Akcay (2009) pembelajaran berbasis proyek dicirikan oleh: (1) adanya pengajuan masalah atau pertanyaan yang berorientasi pada situasi kehidupan nyata yang autentik dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi. (2) berfokus pada keterkaitan anatar disiplin ilmu (3) Penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk/karya nyata.

Landasan Model Project Based Learning

Kecenderungan abad XXI ditandai oleh peningkatan kompleksitas peralatan teknologi, dan munculnya gerakan restrukturisasi korporatif yang menekankan kombinasi kualitas teknologi dan manusia.  Dunia kerja akan memprioritaskan orang yang dapat mengambil inisiatif, berpikir kritis, kreatif, dan cakap dalam memecahkan masalah. Hubungan “manusia-mesin” bukan lagi merupakan hubungan mekanistik akan tetapi merupakan interaksi komunikatif yang menuntut kecakapan berpikir tingkat tinggi.

Kecenderungan-kecenderungan tersebut mulai direspon oleh dunia pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2000 pemerintah Indonesia menerapkan empat pendekatan pendidikan, yaitu (1) pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skills), (2) kurikulum dan pembelajaran berbasis kompetensi, (3) pembelajaran berbasis produksi, dan (4) broad-based education. Orientasi baru pendidikan itu bermaksud menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan kecakapan hidup, bertujuan mencapai kompetensi, menekankan proses pembelajaran otentik dan kontekstual yang dapat menghasilkan produk bernilai, dan pemberian layanan pendidikan berbasis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan (Depdiknas, 2003).

Pendidikan berorientasi kecakapan hidup, berbasis kompetensi, dan proses pembelajaran yang dapat menghasilkan produk bernilai menuntut lingkungan belajar yang kaya dan nyata (rich and natural environment) yang dapat memberikan pengalaman belajar secara integratif. Lingkungan belajar yang dimaksud ditandai oleh situasi belajar, lingkungan, isi dan tugas-tugas yang relevan, realistik, otentik, dan menyajikan kompleksitas alami dunia nyata (Cord, 2001).

Konsep Model Project-Based Learning

Project-based learning adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran inovatif yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Project-based learning berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang mahasiswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistik (Almanza & Cakely, 1997).

Berbeda dengan model-model pembelajaran tradisional yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek, terisolasi/lepas-lepas, dan aktivitas pembelajaran berpusat pada guru, model project-based learning lebih menekankan pada kegiatan belajar yang relatif berdurasi panjang, holistik-interdisipliner, perpusat pada pebelajar, dan terintegrasi dengan praktik dan isu-isu dunia nyata. Model project-based learning menempatkan siswa belajar dalam situasi problem nyata yang dapat melahirkan pengetahuan yang bersifat permanen dan mengorganisir proyek-proyek dalam pembelajaran (Thomas, 2000).

Langkah-Langkah Model Project Based Learning

Langkah-langkah model Project based learning (Almanza & Cakely, 1997) yaitu: (1) Praproyek. Guru merancang deskripsi proyek, menyiapkan media dan berbagai sumber belajar, dan menyiapkan kondisi pembelajaran.  (2) Fase identifikasi masalah. Siswa melakukan pengamatan terhadap objek tertentu, mengidentifikasi masalah dan membuat rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan. (3) Fase membuat desain dan jadwal pelaksanaan proyek.  Siswa secara kolaboratif dengan anggota kelompok ataupun guru untuk merancang proyek, menentukan penjadwalan, dan melakukan aktivitas persiapan lainnya, (4) Fase melaksanakan penelitian. Siswa melaksanakan kegiatan penelitian awal dengan mengumpulkan data dan selanjutnya menganalisis data. (5) Fase menyusun draf/prototipe produk. Siswa mulai membuat produk awal sebagaimana rencana dan hasil penelitian yang dilakukan. (6) Fase mengukur, menilai, dan memperbaiki produk. Siswa melihat kembali produk awal yang dibuat, mencari kelemahan, dan memperbaiki produk tersebut dengan meminta pendapat atau kritik dari anggota kelompok lain ataupun pendapat guru. (7) Fase finalisasi dan publikasi produk. Siswa melakukan finalisasi produk. Setelah diyakini sesuai dengan harapan, produk dipublikasikan. (8) Pascaproyek. Guru menilai, memberikan penguatan, masukan, dan saran perbaikan atas produk yang telah dihasilkan siswa.

Kelebihan Model Project Based Learning

Beberapa kelebihan menggunakan model project based learning adalah dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting; meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah; membuat siswa lebih aktif dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks; meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama; mendorong siswa mempraktikkan keterampilan berkomunikasi;  meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber daya;  memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasi waktu, dan mengelola sumber daya seperti peralatan dan bahan untuk menyelesaikan tugas; melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata; dan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan (Thomas, 2000).

Kelemahan model project based learning adalah memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah, membutuhkan biaya yang cukup banyak, banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana guru memegang peran utama di kelas, banyaknya peralatan yang harus disediakan, peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan, ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok, dan etika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan (Thomas, 2000).

Penilaian Model Project Based Learning

Penilaian pada model project based learning harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian dapat mengacu pada teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk.  Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Keimpulan yang diperoleh berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya adalah: (1) Pengembangan program pendidikan IPA harus diarahkan pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk mempelajari prinsip-prinsip dan konsep-konsep ilmu pengetahuan, memperoleh penalaran dan keterampilan prosedural, dan memahami sifat ilmu sebagai bentuk khusus dari usaha manusia. Siswa harus mampu merancang dan melakukan investigasi untuk menguji ide-ide mereka dan perlu memahami mengapa investigasi tersebut unik dan bermakna. Siswa diberi kesempatan untuk melatih dan menumbuhkan sikap ilmiah dirinya melalui kegiatan penyelidikan. Pengembangan program pendidikan IPA harus diarahkan pada pembelajaran dengan pendekatan student center. (2) Landasan pedagogik pada pendidikan IPA merupakan prinsip dasar yang dijadikan pedoman dalam menyelenggarakan pembelajaran IPA. Landasan pedagogik akan menuntun guru mampu merencanakan kegiatan-kegiatan untuk menyampaikan hakikat IPA dan aplikasinya; menyediakan contoh-contoh tentang perubahan pengetahuan sains dari masa ke masa; mengintegrasikan kegiatan pembelajaran untuk mengkreasikan pengetahuan ilmiah; mendesain pembelajaran yang efektif; mendesain pembelajaran yang memperlihatkan pertanyaan, desain penelitian, dan interpretasi data berdasarkan aturan sains dan konsep  hakikat pengetahuan. (3) Karakteristik pembelajaran IPA dengan pendekatan student center yaitu: guru berperan sebagai fasilitator; guru berwawasan luas dan terbuka terhadap masukan maupun kritikan yang membangun; siswa merupakan tokoh utama pembelajaran; siswa mampu untuk mengembangkan materi belajar secara mandiri; siswa mampu merumuskan harapan mereka terhadap proses pembelajaran dan mengukur kinerja mereka sendiri; siswa berkoloborasi satu sama lain; siswa memantau pembelajarannya sendiri; siswa termotivasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkannya sendiri; dan materi pembelajaran bersifat sebagai arahan bukan patokan pembelajaran; (3) Model project based learning memiliki karakteristik adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik; peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan; peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; proses evaluasi dijalankan secara kontinyu; peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan; produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Implikasi

Pemahaman landasan pedagogik pada Pendidikan IPA akan menuntun guru untuk menyelenggarakan pembelajaran IPA menggunakan pendekatan student center.  Pendekatan student center sangat sesuai dengan hakikat pendidikan IPA. Guru menempatkan diri sebagai fasilitator dan pendamping bagi siswa dalam proses pembelajarannya. Guru bertugas menciptakan rasa nyaman dalam proses pembelajaran sehingga siswa termotivasi untuk mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri. Siwa juga akan memeiliki keberanian untuk menggungkapkan atau mendiskusikan perasaan dan keyakinannya.

Rekomendasi

Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang pembelajaran IPA dengan pendekatan student center menggunakan model problem based learning. Berbagai keunggulan dan manfaat problem based learning yang telah diuraikan hendaknya dapat memotivasi guru untuk menyelenggarakan pembelajaran IPA sesuai dengan hakikat pendidikan IPA.  Siswa harus dilibatkan secara aktif dalam membangun pengetahuannya. Siswa harus dibiasakan melakukan refleksi diri terhadap apa-apa yang telah dicapai dan dapat menentukan target pembelajaran berikutnya yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

(Request melalui m.sutarno@unib.ac.id)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: