PANDANGAN ALTERNATIF TERHADAP EVALUASI PROGRAM (ALTERNATIVE VIEWS OF EVALUATION)

M.Sutarno, S.Si.,M.Pd  dan Andi Wahyudi, M.Pd

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang evaluasi sangat penting bagi semua praktisi sebagai bentuk profesionalismenya. Walaupun evaluasi ini penting, tetapi sulit untuk menemukan makna atau sekedar definisi yang hakiki bagi evaluasi. Ketika kita mempelajari buku tentang evaluasi selalu ditemukan makna atau definisi evaluasi yang berbeda dari setiap buku. Evaluasi sering disandingkan dengan pengukuran (measurement) atau penilaian (assesment), walaupun pada hakikatnya satu sama lain memiliki perbedaan. Tanpa disadari sebenarnya setiap orang telah melakukan evaluasi, akan tetapi jika mereka ditanya tentang makna atau definisi tentang evaluasi mereka akan kebingungan.

Bagi praktisi pendidikan, evaluasi biasanya hanya terbatas pada penilaian hasil belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah bahwa pendidikan merupakan upaya memberikan suatu perlakuan pembelajaran kepada peserta didik. Kesuksesan hasil belajar mereka dapat diketahui melalui kegiatan penilaian. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi jika evaluasi dipandang secara luas maka akan terdapat berbagai pandangan lain, khususnya ketika kita berbicara tentang evaluasi program pendidikan. Memahami berbagai pandangan alternatif terhadap evaluasi sangat penting, karena pandangan atau teori evaluasi yang digunakan akan menuntun kita pada cara melakukan evaluasi.

Makalah ini adalah bentuk laporan bab dari buku yang berjudul program evaluation: alternative approach and practical guidelines. Pada makalah ini akan dibahas mengenai berbagai pandangan alternatif terhadap evaluasi, pentingnya memahami setiap pandangan alternatif terhadap evaluasi, perbedaan filosofis dan metodologis dari setiap pandangan, kategorisasi pendekatan evaluasi dan rasionalisasinya, serta isu-isu praktis yang berkontribusi pada keragaman pendekatan evaluasi. Pandangan alternatif terhadap evaluasi menjadi dasar bagi kita untuk memahami tentang evaluasi program pendidikan.

PEMBAHASAN

Awalnya ketika evaluasi dipraktekkan di lapangan, permasalahan muncul terkait definisi dan ideologi dari evaluasi. Banyak buku menuliskan berbeda tentang pengertian, konsep dan cara melakukan evaluasi. Tahun 1960 sampai 1990, sekitar 60 proposal yang berbeda mengedarkan tentang bagaimana evaluasi harus dikumpulkan dan dikembangkan. Proposal tersebut mendiskusikan tentang pendekatan evaluasi (Gephart, 1978) dan pengembangan dari model-model evaluasi (Stufflebeam, 2010b). Mengacu pada ketaatan, evaluasi dirancang pada setiap kerangka konseptual yang ada, dan jika berhasil digunakan pendekatan evaluasi yang lain. Hal ini menyebabkan pendekatan mengenai evaluasi semakin beragam.

Berbagai pendekatan atau teori diajukan oleh evaluator untuk merias atau memperbaiki konsep evaluasi. William Shadish (profesor universitas of california, seorang ahli statistik dan pengukuran) menjelaskan pada asosiasi evaluasi Amerika pada tahun 1997 “Evaluation theory is who are” dan berpendapat bahwa “penting bagi evaluator untuk mengerti tentang teori evaluasi karena hal tersebut merupakan sentral dari identitas profesionalismenya (1998). Shadish (1998) juga mengemukakan bahwa teori evaluasi akan menuntun kita untuk lebih jauh mengembangkan tentang evaluasi dan sebagai basis pengetahuan tentang profesi kita. Stufflebeam, juga menekankan pentingnya mempelajari teori evaluasi dan pendekatannya. Ia menulis, “The study of alternative evaluation approaches is important for professionalizing program evaluation and for its scientific advancement and operation”. Seperti komentar yang digambarkan oleh Shadish dan Stufflebeam, beberapa evaluator menggunakan istilah “teori”, “models” ataupun “pendekatan”. Pada bagian ini selanjutnya akan lebih digunakan istilah pendekatan karena memandang sifatnya yang lebih luas untuk membimbing bagaimana evaluasi tersebut dipraktekan.

Sampai saat ini belum ada pendekatan evaluasi yang dominan digunakan oleh evaluator, meskipun demikian penting bagi kita untuk mengetahui beragam jenis pendekatan tersebut. Selain sebagai bentuk profesionalisme evaluator dan dasar pengetahuannya, memahami beragam pendekatan tersebut juga akan membantu evaluator untuk membuat pilihan sadar terhadap pilihan pendekatan yang mereka gunakan. Misalnya untuk beberapa evaluasi program yang didanai, funder telah menentukan pendekatan evaluasi yang harus digunakan oleh evaluator, meskipun evaluator dapat melakukan negosiasi dengan funder jika merasa pendekatan yang dipilih tidak sesuai atau tidak dipahaminya dengan konteks dan program yang digunakan, akan tetapi dengan minimnya pengetahuan pendekatan evaluasi yang dimiliki oleh evaluator, akan membuat pemangku kepentingan terlibat dalam metode dan alat pengumpulan data untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Pendekatan evaluasi yang paling umum dan biasa digunakan akan dibahas selanjutnya. Pendekatan ini mengembangkan alat-alat konseptual yang digunakan untuk merancang sebuah evaluasi. Selain itu, bagian selanjutnya juga akan membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan pendekatan, bagaimana pendekatan tersebut dikategorikan, dan bagaimana konseptual pendekatan yang umum digunakan.

Perbedaan Konsepsi Terhadap Evaluasi Program
Sekian banyak pendekatan evaluasi yang telah muncul sejak Tahun 1960 berkisar dari model yang komprehensif dan tindakan yang akan diambil. Beberapa penulis memilih pendekatan komprehensif untuk menilai program, sementara penulis lain memandang evaluasi sebagai proses mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi untuk membantu para pembuat keputusan. Banyak orang juga memandang bahwa evaluasi adalah sinonim dari professional judgment, judgment terhadap mutu program berdasarkan pendapat ahli. Pada lingkup sekolah evaluasi dipandang sebagai proses membandingkan antara data kinerja siswa dengan tujuan dan capaian pembelajaran yang diharapkan, dari sana evaluasi bisa dipandang sebagai sinonim dari controlled experimental research. Pandangan tersebut membangun hubungan kausal antara program dan hasil. Beberapa fokus menyoroti pentingnya permintaan naturalistik atau dorongan akan nilai pluralisme yang perlu diakui, ditampung dan dijaga. Fokus lain juga menyoroti pentingnya “social equity”, berpendapat bahwa orang-orang yang terlibat pada entitas evaluasi harus memainkan peranan yang penting, bahkan peran utama, peran untuk menetapkan arah tentang studi evaluasi yang diambil dan bagaimana melakukannya.

Berbagai model evaluasi yang dikembangkan di atas sering berbeda, bahkan bertentangan dengan konsep dan definisi evaluasi. Berikut ini terdapat beberapa contoh pandangan evaluasi dalam bidang pendidikan:

1. Salah satu pandangan yang telah dibahas bahwa evaluasi adalah sinonim dari professional judgment, pandangan tersebut menerapkan bahwa nilai dari program pendidikan akan dinilai oleh ahli (sering juga materi subyek yang dipelajari) yang mengamati kegiatan program, menguji material-material kurikulum, atau juga pengujian terhadap rekaman informasi kebijakan.

2. Evaluasi dipandang juga sebagai perbandingan antara kinerja siswa dengan indikator dan tujuan yang hendak dicapai. Jika evaluasi dipandang seperti itu maka standar-standar akan ditetapkan antara kurikulum dan pengetahuan atau keterampilan siswa yang diukur terhadap ukuran ini, berdasarkan masing-masing standar atau instrumen yang dikembangkan evaluator.

3. Evaluasi dipandang sebagai cara untuk mendapat informasi sebagai bahan mengambil keputusan, evaluator bekerja sama dengan pengambil keputusan untuk mengidentifikasi keputusan yang akan dibuat dan mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit tentang kerugian dan keuntungan relatif dari masing-masing keputusan alternatif, sehingga diperoleh keputusan yang terbaik. Evaluator mungkin akan membantu mengumpulkan informasi untuk membantu mendefinisikan atau menganalisis keputusan yang dibuat, jika keputusan alternatif yang dibuat tersebut ambigu.

4. Evaluasi menekankan pada pendekatan partisipatif. Evaluator akan mengidentifikasi kelompok pada pihak-pihak terkait yang relevan dan informasi mencari informasi pandangan mereka terhadap program serta informasi yang dibutuhkan. Pengumpulan data akan berfokus pada pengukuran kualitatif seperti wawancara, observasi, dan analisis isi dokumen. Desain menggunakan banyak pandangan pada program. Stakeholders akan terlibat pada setiap tahap evaluasi untuk membantu membangun kapasitas evaluasi, memastikan metode yang digunakan, interpretasi hasil dan merefleksikan kesimpulan akhir dari berbagai pandangan stakeholders.

5. Evaluasi dipandang sebagai evaluasi kritis untuk menentukan hubungan kausal antara aktivitas program dan hasil. Evaluator mungkin akan memberikan penugasan secara acak kepada siswa, guru, atau sekolah untuk program dan alternatifnya, mengumpulkan data kuantitatif untuk mencapai hasil yang diinginkan; dan menarik kesimpulan mengenai keberhasilan program dalam mencapai hasil tersebut.

Asal mula Munculnya Pandangan Alternatif Terhadap Evaluasi
Keragaman pendekatan evaluasi muncul dari latar belakang yang berbeda seperti pengalaman dan pandangan penulis yang mengakibatkan orientasi filosofis, metodologi, dan pilihan praktek yang beragam. Perbedaan predisposisi ini telah menyebabkan penulis dan pemeluknya mengusulkan metode yang sangat berbeda untuk melakukan evaluasi, mengumpulkan dan menafsirkan informasi dan data. Perbedaan dalam pendekatan evaluasi ini dapat ditelusuri langsung ke para pemeluknya, yang memperlihatkan perbedaan tidak hanya pada sifat evaluasi tetapi juga pada sifat realitas (ontologi) dan pengetahuan (epistomologi).

Perbedaan Ideologi dan Filosofi

a. Positivisme logis
Awalnya evaluasi muncul dari bidang sosial-sains dalam pendidikan khusus dan psikologi, di saat itu paradigma yang dominan adalah positivism. Logis positivis adalah cabang filsafat yang lebih ekstrim dari positivisme. Logis positivisme berpendapat bahwa pengetahuan sepenuhnya diperoleh dari pengalaman, khususnya melalui pengamatan, dan pengumpulan data. Mereka berpendapat bahwa (a) ada satu realitas benda-benda yang kita pelajari. Tujuan peneliti dan evaluator adalah menggunakan metode penelitian sosial sains dan teori tentang probabilitas statistik untuk menemukan suatu realita dan untuk menetapkan hukum-hukum dan teori-teori tentang bagaimana sesuatu bekerja dan (b) untuk mendapatkan pengetahuan secara efektif terhadap suatu realitas, peneliti harus “scientifically objective”. Komponen kunci dari pendekatan itu adalah bahwa para peneliti harus menjaga jarak tertentu dari program yang sedang diteliti, sehingga tidak mempengaruhi program itu sendiri, para peserta atau hasil penelitian. Metode yang digunakan biasanya kuantitatif. Objektivitas atau objectivism, berarti bahwa pandangan peneliti dan nilai-nilai tidak mempengaruhi hasil yang diperoleh adalah prinsip utama positivisme.

b. Postpositivisme
Fokus dari postpositivist adalah memeriksa hubungan kausal untuk membangun hukum dan teori untuk mendeskripsikan dunia eksternal, walaupun biasanya satu tidak memberikan fillabilitas pengetahuan. Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme yang dianggap memiliki kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran post-positivisme bersifat critical realism dan menganggap bahwa realitas memang ada dan sesuai dengan kenyataan dan hukum alam tapi mustahil realitas tersebut dapat dilihat secara benar oleh peneliti. Secara epistomologis: Modified dualist/objectivist, hubungan peneliti dengan realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan tapi harus interaktif dengan subjektivitas seminimal mungkin. Secara metodologis adalah modified experimental/ manipulatif.

Post positivisme memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan antara keduanya bahwa post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu ilmu memang betul mencapai objektivitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan berbagai cara.

c. Paradigma Konstruktivis
Paradigma konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu.

Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Pada paradigm konstruktivisme ketika evaluasi dilaksanakan, evaluator melihat bahwa konteks dan nilai memainkan peran yang sangat penting dalam evaluasi. Tidak seperti kebanyakan hukum sains yang dapat digeneralisasi, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu program pendidikan, sosial dan ekonomi dapat berbeda secara dramatis, juga klien dan pemangku kepentingan untuk evaluasi biasanya punya informasi yang dibutuhkan.

d. Paradigma Transformatif
Paradigma yang paling terbaru adalah paradigma transformatif, paradigma ini sangat berkembang di Negara-negara maju. Paradigma ini tidak menaruh perhatian banyak terhadap pemilihan metodologis dan lebih menaruh perhatian kepada sifat masalah yang hendak diselesaikan. Paradigma ini juga menaruh perhatian kepada pemberdayaan masyarakat lemah, seperti orang miskin, golongan ras minoritas, wanita dan penyandang disabilitas (cacat). Fokus evaluasinya adalah membantu kelompok-kelompok tersebut membangun pengetahuannya sendiri dan memberdayakan mereka sepenuhnya sebagai peran utama.

e. Pengaruh paradigma terhadap praktek evaluasi
Paradigma-paradigma filosofis ini dan implikasinya terhadap pemilihan metodologi, telah mempengaruhi perkembangan pendekatan-pendekatan evaluasi yang berbeda-beda. Beberapa ahli berpendapat bahwa paradigma-paradigma dan metode kuantitatif dan kualitatif tidak dapat digabungkan karena sumber utama keduanya yaitu postpositifisme dan konstruktifisme sangat bertentangan. Tetapi pandangan yang paling benar adalah para evaluator jangan terpaku pada paradigma atau metode (kuantitatif/kualitatif), tetapi harus melihat argument ontologis dan epistemologisnya sehingga dari sana dapat dipilih dan dipertimbangkan pendekatan mana yang terbaik atau paling cocok. Dengan kata lain pemilihan metodologi atau evaluasi tidak berdasarkan paradigma atau pandangan filosofis, tetapi dari spesifikasi praktis dan konsep yang terdapat pada evaluasi program yang hendak dipelajari.

Latar Belakang dan Kecenderungan Metodologi
Metodologi evaluasi berasal dari paradigma yang telah dibahas sebelumnya, yaitu paradigma positivisme, post positivisme, konstruktivis, dan transformatif. Paradigma positivisme logis berfokus kepada metode kuantitatif sebagai cara yang lebih baik untuk mendapatkan informasi yang objektif tentang hubungan sebab-akibat di antara fenomena yang dikaji evaluator dan peneliti. Metode kuantitatif meliputi tes, persentase kelulusan siswa dari sekolah, kandungan alkohol, jumlah pengangguran untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi dan sebagainya. Metode kuantitatif biasanya menggunakan desain eksperimental atau kuasi eksperimental, atau metode multivariate untuk melihat hubungan.
Konstruktivis lebih menekankan terhadap pendeskripsian, pengkajian dan penemuan teori baru. Konstruktivis juga melihat keuntungan dari studi hubungan sebab-akibat, tetapi mereka lebih menekankan kepada memahami hubungan sebab-akibat itu daripada membangun kesimpulan dan kaitan antara program dengan luaran. Oleh karena itu konstruktivis menyukai pengukuran kualitatif. Contoh pengukuran kualitatif adalah wawancara, observasi dan analisis konten.

Beberapa evaluator telah menulis bahwa pendekatan kuantitatif biasanya digunakan untuk mengetes teori atau konfirmasi sementara pendekatan kualitatif biasanya digunakan untuk eksplorasi dan pengembangan teori (Sechrest & Figueredo, 1993; Tashakkori & Teddlie, 1998). Jika program yang hendak dievaluasi itu berbasis teori yang telah mapan sedangkan evaluasi yang hendak dilakukan adalah menentukan apakah teorinya dapat diterapkan pada setting baru, maka pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk menentukan jika memang mekanisme kausal (sebab-akibat) atau efek hipotesis dari teori tidak muncul. Contohnya , program membaca yang berbasis kepada teori yang telah mapan sedang dicoba kepada kelompok yang lebih muda dengan setting baru. Fokusnya adalah untuk menentukan apakah teori tersebut bekerja pada setting baru untuk meningkatkan pemahaman membaca pada setting yang berbeda. Siswa mungkin diberi tugas acak dibandingkan metode lain atau kelompok umur lain, kemudian data dapat dikumpulkan melalui tes pemahaman membaca.

Pada tahun-tahun awal evaluasi, kebanyakan evaluator bekerja pada metode kuantitatif. Ini mungkin benar pada evaluator yang berasal dari disiplin psikologi, pendidikan dan sosiologi. Munculnya metode kualitatif pada evaluasi yang telah menyediakan metodologi baru pada mulanya ditolak oleh mereka yang biasa menggunakan kuantitatif. Sekarang evaluator dan peneliti data lebih luwes dalam memilih metode, tidak terpaku kepada satu metode saja, karena permasalahan di luar sana bisa jadi harus secara kualitatif, bisa jadi harus kuantitatif, atau bahkan metode campuran (Mixed Methods), oleh karena itu semua metode haruslah dikuasai oleh evaluator dan peneliti.

Satu pandangan penting untuk menjelaskan perbedaan di antara evaluator dan di antara pendekatan-pendekatan telah dikemukakan oleh Stevenson dan Thomas (2006). Mereka mengidentifikasi tiga tradisi dalam evaluasi, yaitu sebagai berikut:

a) Tradisi eksperimental tersusun oleh orang-orang yang terlatih dalam psikologi dan sosiologi, dan dalam metode kuantitatif dengan fokus kepada membangun hubungan sebab akibat. Donald Campbell adalah yang pertama kali menggunakan tradisi ini.

b) Tradisi konteks/kasus, dipimpin oleh Ralph Tyler dan muridnya Lee Cronbach, gerakan ini akarnya pada pengujian dan assessment siswa, tetapi digerakkan untuk mendeskripsikan program dan kerja dengan guru untuk meraih pemahaman terhadap apa yang terjadi.

c) Kebijakan yang mempengaruhi tradisi tersusun atas orang yang terlatih dalam ilmu politik dan biasanya bekerja pada pemerintahan federal. Pemimpin dalam tradisi ini adalah Carol Weiss dan Joseph Wholey. Mereka bekerja dalam kebijakan, sedikit keluar dari program individual, tetapi membantu memilih dan ditunjuk pemerintah untuk mengambil keputusan arah kebijakan pemerintah.

Walaupun evaluator telah bertemu pada pertemuan-pertemuan professional penting seperti pertemuan American Evaluation Assosiation yang dihadiri oleh sekitar 2000 evaluator, ini tidaklah cukup. Mereka terus belajar dari masing-masing mereka, sedikit-sedikit tapi berlanjut terus. Mereka belajar dari saling bertukar pandangan tentang isu di lingkungan mereka dan dari materi pelatihan yang didapat. Menurut Scriven (1991c) evaluasi bukan disiplin tunggal, tapi merupakan transdisiplin, seperti logika, desain dan statistika, karena diaplikasikan pada rentang yang luas.

Klasifikasi Pendekatan atau Teori Evaluasi

Kritik dan Kategori yang Muncul
Pada saat ini, banyak evaluator telah melakukan pengkategorian teori evaluasi untuk berbagai kegunaan. Buku karangan Shadish, Cook dan Levington’s (1995) sangat berpengaruh dalam hal pengulasan teori evaluasi yang penting. Buku tersebut membahas sejarah evaluasi sampai teori-teori yang terpenting. Shadish dkk mengidentifikasi tiga tahapan teori evaluasi di Amerika.

Tahap pertama, pada tahun 1960 berfokus pada penggunaan metode evaluasi saintifik yang teliti untuk penyelesaian permasalahan sosial atau mengkaji keefektifan program pemerintah. Penekanan tahap ini adalah pada pemeriksaan efek kausal program dan dengan informasi ini dapat dijadikan pertimbangan terhadap keberlanjutan program. Tahap dua evaluator fokus pada penggunaan metode evaluasi untuk menumbuhkan dan meubah keadaan, seperti memacu evaluator supaya menguatkan relasi dengan pemangku kepentingan dan memfasilitasinya, juga memperluas penggunaan metode untuk mengakomodasi informasi dan nilai-nilai penting yang dimiliki pemangku kepentingan lain. Tahap ketiga evaluator memperkenalkan konsep baru seperti pengembangan teori program sosial dan mengevaluasinya.

Stufflebeam (2001b) menganalisis teori evaluasi yang dia sebut “pendekatan”. Setidaknya terdapat 20 pendekatan berbeda, dari situ Stufflebeam mengelompokkan lagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

a) Question and/or Method-oriented Approach
Metode ini meliputi 13 dari 20 pendekatan. Pendekatan pada kelompok ini meliputi strategi untuk menentukan apa yang harus dievaluasi (objective oriented & theory based approaches (orientasi objektif dan pendekatan berbasis teori)), metode tertentu untuk mengambil data (tes objektif, tes kinerja, studi eksperimental, studi kasus, analisis biaya keuntungan) atau untuk mengorganisasi data (Sistem informasi manajemen), atau metode tertentu untuk menyajikan dan mempertimbangkan hasil (clarification hearing).

b) Improvement/Accountability approaches
Meliputi pendekatan yang lebih menyeluruh dalam evaluasi program untuk menimbang kepantasan dan kebernilaian program. Contohnya adalah pendekatan akreditasi/sertifikasi dan pendekatan Scriven consumer oriented untuk mempertimbangkan kualitas produk bagi konsumen potensial.

c) Social agenda/advocacy approaches
Pendekatan ini bekerja dalam pemberdayaan kelompok yang memiliki keterbatasan atau kelemahan ekonomi, pendekatan ini meliputi Stake’s client-centered atau responsive evaluation dan evaluasi deliberative democratic.

Skema Klasifikasi untuk Pendekatan Evaluasi
Skema klasifikasi pendekatan evaluasi digunakan untuk memudahkan pembaca dalam mengklasifikasikan beragam pendekatan evaluasi. Terdapat empat kategori pendekatan evaluasi terhadap faktor primer yang memandu atau terhubung langsung dengan evaluasi. Empat skema tersebut adalah sebagai berikut:

a) Pendekatan-pendekatan berorientasi pada pertimbangan menyeluruh dari kualitas program atau produk; Pendekatan-pendekatan ini meliputi evaluasi berorientasi keahlian dan evaluasi berorientasi konsumen. Ini adalah pendekatan-pendekatan tertua dalam evaluasi, telah digunakan sebelum pendekatan-pendekatan evaluasi formal dikembangkan. Kita akan mendiskusikan tulisan Elliot Eisner tentang connoisseurship dan kritisme, akreditasi dan tipe lain dari evaluasi berorientasi keahlian dan Pendekatan evaluasi berorientasi konsumen dari Michael Scriven. Evaluasi berbasis konsumen dan keahlian keduanya berbeda sekali tergantung siapa yang mengarahkan dan metodologinya, tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama mengevaluasi langsung dengan berfokus terhadap nilai dan pertimbangan kualitas dari objek yang mereka evaluasi.

b) Pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada karakteristik program; Pendekatan-pendekatan ini meliputi evaluasi berbasis objektif, berbasis standar, dan berbasis teori. Dari masing-masing pendekatan, evaluator menggunakan karakteristik program, tujuannya, standar capaian atau teori dasar yang menjadi basis program untuk mengidentifikasi pertanyaan evaluasi mana yang akan menjadi fokus dari evaluasi.

c) Pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada keputusan yang harus dibuat tentang program; Pendekatan ini meliputi Context-Input-Process-Product (CIPP) dari Daniel Stufflebeam dan evaluasi berbasis kebermanfaatan, dan juga assessment dan monitoring performa. Pendekatan ini berfokus kepada penyediaan informasi untuk meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh pemangku kepentingan dan organisasi.

d) Pendekatan–pendekatan yang berorientasi pada partisipasi pemangku kepentingan; Pendekatan-pendekatan ini meliputi evaluasi responsive Robert Stake, evaluasi partisipasi praktis, evaluasi perkembangan, evaluasi pemberdayaan dan evaluasi berorientasi demokratis.

PERBANDINGAN DENGAN BUKU LAIN

Pada bagian awal bab empat menjelaskan berbagai pandangan melalui evaluasi dan pengaruh dari pandangan tersebut terhadap cara atau metode nantinya untuk melakukan evaluasi. Pada buku lain Royse, Thyer, & Padget (2010) dalam bukunya yang berjudul program evaluation mengemukakan bahwa evaluasi program merupakan penelitian terapan sebagai bagian dari proses manajerial untuk membuat keputusan administratif tentang layanan program. Pada buku tersebut juga dijelaskan mengenai perbedaan antara penelitian dan evaluasi. Penelitian lebih mengarahkan pada perluasan pengetahuan dan evaluasi program mengarah pada pembuatan keputusan untuk menguji derajat kesesuaian dengan keterlaksanaan, atau melakukan prediksi keperluan dana selanjutnya. Program perlu dievaluasi karena dibutuhkannya akuntabilitas kepada sponsor atau agen pemberi dana, atau karena kompetisi program yang ada dari pemberi dana yang hanya membutuhkan salah satu program. Oleh karena itu pemberi dana mencari program yang paling efektif, melalui evaluasi.

Beberapa pandangan evaluasi program dipengaruhi oleh landasan filosofis yang berbeda, seperti positivisme logis, post positivisme, kontruktivisme, transformatif. Wiersma dalam bukunya yang berjudul Research Methods In Education melihat keempat pandangan tersebut dari segi metodologi penelitian. Wiersma (1995) menyatakan bahwa positivisme logis merupakan pandangan terhadap penggunaan metode ilmiah yang dirumuskan pada hipotesis antar variabel-variabel penelitian dengan tujuan mencari sebab akibat. Post-positivisme merupakan pengembangan dari positivism dengan mempertimbangkan nilai kondisi dan teori. Konstruktivis merupakan pandangan untuk membangun teori dari data yang teruji. Transformatif merupakan pandangan bahwa realitas sosial dipengaruhi oleh etnik, jenis kelamin, budaya, ekonomi dan lain-lain.

Royse, Thyer, & Padget (2010) menyatakan lebih beragam mengenai landasan filosofis yang mendasari evaluasi program, yaitu realsime, determinisme, positivisme, rasionalisme, empirisme, operasionalisme, parsimoni, pragmatisme dan skeptisme saintific.

  • Realisme adalah pandangan bahwa dunia memiliki eksistensi yang independen atau tujuan dan terlepas dari pandangan observer
  • Determinisme adalah asumsi bahwa semua fenomena memiliki penyebab fisik yang berpotensi sesuai dengan penyelidikan ilmiah.
  • Positivisme merupakan kepercayaan tentang pengetahuan yang valid dapat diperoleh dari penelitian ilmiah.
  • Rasionalisme mempercayai bahwa penalaran dan logika merupakan alat untuk memperoleh kebenaran.
  • Empirisme merupakan kecenderungan untuk mempercayakan pada bukti yang diperoleh secara sistematis melalui pengamatan atau eksperimen.
  • Operasionalisme merupakan kepercayaan bahwa ketegasan atau tuntutan merupakan sesuatu yang penting dalam mengembangkan pengukuran fenomena yang reliabel jika dilakukan oleh yang lain.
  • Parsimoni merupakan sifat keringkasan yaitu ketika kondisi sebuah fenomena atau masalah yang kompleks dijelaskan dan dipecahkan melalui gambaran yang sederhana.
  • Pragmatisme merupakan pandangan bahwa makna atau kebenaran dari apa pun berada pada konsekuensinya.
  • Skiptisme Saintifik merupakan pandangan bahwa semua klaim harus dipertimbangkan dan diragukan validitasnya sampai diperoleh data yang kredibel.

Perbedaan pandangan terhadap pendekatan evaluasi tidak hanya menyebabkan karena perbedaan makna dan hakikat evaluasi tapi juga aspek ontologi dan epistimologi. Tafsir (2004) mengemukakan bahwa ontologi merupakan The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada. Dengan kata lain, Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan kepada logika semata. Adapun pengertian menurut istilah, Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakanultimate reality (kenyataan/realitas paling akhir) yang berbentuk jasmani/kongkret maupun rohani/abstrak, sedangkan epistomologi adalah epistemologi dapat diartikan sebagai suatu pemikiran mendasar dan sistematik mengenai ilmu pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan Epistemologi sebagai “The study of method and ground of knowledge, espicially with reference to its limits and validity”, atau kajian tentang metode dan dasar pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan batas-batas dan tingkat kebenarannya. Dengan kata lain, Epistemologi merupakan cabang Filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan.

PENUTUP

Teori atau pendekatan evaluasi dikembangkan melalui perjalanan yang panjang. Perumusan melalui pendekatan evaluasi didasarkan pada pandangan alternatif terhadap evaluasi. Pandangan alternatif terhadap evaluasi sangat beragam, hal tersebut dikarenakan beragam pula hal yang akan di evaluasi. Ragam pandangan evaluasi tersebut penting untuk dipelajari selain sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan, juga dapat membantu evaluator dapat membuat pilihan secara logis disertai dengan alasan yang konkret terhadap pilihan pendekatan yang akan mereka gunakan. Kemunculan pandangan alternatif terhadap evaluasi didasarkan pada landasan filosofis yang berbeda. Landasan filosofis tersebut adalah paradigma Positivisme logis, post-positivisme, konstruktivisme, dan transformatif.

Paradigma positivisme logis berfokus kepada metode kuantitatif sebagai cara yang lebih baik untuk mendapatkan informasi yang objektif tentang hubungan sebab-akibat di antara fenomena yang dikaji evaluator dan peneliti. Konstruktivis lebih menekankan terhadap pendeskripsian, pengkajian dan penemuan teori baru (kualitatif). Konstruktivis juga melihat keuntungan dari studi hubungan sebab-akibat, tetapi mereka lebih menekankan kepada memahami hubungan sebab-akibat itu daripada membangun kesimpulan dan kaitan antara program dengan luaran. Sekarang evaluator dan peneliti data lebih luwes dalam memilih metode, tidak terpaku kepada satu metode saja, karena permasalahan di luar sana bisa jadi harus secara kualitatif, bisa jadi harus kuantitatif, atau bahkan metode campuran (mixed methods), oleh karena itu semua metode haruslah dikuasai oleh evaluator dan peneliti. Evaluator perlu memahami semua bidang dalam melakukan evaluasi, karena evaluasi bukan disiplin tunggal, tapi merupakan transdisiplin, seperti logika, desain dan statistika, karena diaplikasikan pada rentang yang luas.

DAFTAR PUSTAKA

(Request daftar pustaka melalui m.sutarno@unib.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: