STANDAR KOMPETENSI GURU IPA

Oleh : M. Sutarno, S.Si, M.Pd

I. PENDAHULUAN

Banyak pihak yang mengkaitkan kemerosotan bangsa kita dengan pendidikan, karena mutu pendidikan yang rendah menyebabkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka interaksi belajar mengajar harus berkualitas. Salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses belajar mengajar adalah guru. Usaha peningkatan mutu pendidikan harus dimulai dari usaha peningkatan mutu guru. Keberadaan guru yang profesional sangatlah penting. Salah satu aspek profesionalitas guru adalah kompetensi guru.

Kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.

 II. PEMBAHASAN

A. Standar Kompetensi Guru

Standar dapat dipahami sebagai apa yang orang harus tahu dan mampu lakukan untuk dianggap kompeten dalam domain tertentu (OECD, 2013). Standar dapat digunakan untuk menggambarkan dan mengkomunikasikan apa yang hendak dicapai. Standar juga dapat digunakan sebagai ukuran untuk pengambilan keputusan, yang menunjukkan jarak antara kinerja aktual dan tingkat minimum kinerja yang diperlukan.

Standar profesionalisme guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas mengajar dan melakukan pembelajaran yang efektif. National Board for Professional Teaching Standard (NBPTS) menyatakan bahwa standar profesional guru bertujuan untuk “What teacher should know and be able to do”. Standar profesionalisme guru dengan demikian dapat digunakan untuk menggambarkan visi praktek mengajar, berdasarkan konsensus nilai-nilai profesional dan keyakinan. Standar profesional guru berbeda dari setiap bangsa, berikut adalah standar mengajar di beberapa negara:

Standar Kompetensi Guru di Indonesia

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan beberapa standar yang perlu digunakan untuk menseragamkan pendidikan nasional, salah satunya adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Berdasarkan peraturan pemerintah No. 74 Tahun 2008, terdapat standar pendidik yang perlu dipenuhi untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu: (a) memiliki kualifikasi S1/D-IV, (b) memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, dan (c) memiliki sertifikat pendidik.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 memuat standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang dikembangkan   secara   utuh   dari   empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional terintegrasi dalam kinerja guru. Secara rinci Standar kompetensi Guru tersebut dijelaskan sebagai berikut :

Kompetensi Pedagogi

Guru mata pelajaran harus mampu : (a) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. (b) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. (c) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. (d) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. (e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, (f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. (g) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. (h) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. (i) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. (j) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi Kepribadian

Guru harus mampu : (a) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. (b) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyaraka. (c) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil,dewasa, arif, dan berwibawa.  (d) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri. (e) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Kompetensi Sosial

Guru harus mampu : (a) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. (b) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. (c) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. (d) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional yang harus dimiliki oleh guru IPA adalah :

  1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, terdiri atas : (1) Memahami konsep-konsep, hukum hukum, dan teori-teori IPA penerapannya secara fleksibel. (2) Memahami proses berpikir IPA dlam mempelajari proses dan gejala alam. (3) Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala alam. (4) Memahami hubungan antar brbagai cabang IPA, dan hubungan IPA dengan matematika dan teknologi. (5) Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum alam sederhana. (6) Menerapkan konsep, hukum, dan teori IPA untuk menjelaskan berbagai fenomena alam. (7) Menjelaskan penerapan hukum-hukum IPA dalam teknologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. (8) Memahami lingkup dan kedalaman IPA sekolah. (9) Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan IPA. (10) Menguasai prinsip dan teori-teori pengelolaan dan kesela-matan kerja/belajar di la IPA sekolah. (11) Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas dan lab. (12) Merancang   eksperimen   IPA   untuk keperluan   pembelajaran penelitian. (13) Melaksanakan eksperimen IPA dengan cara yang benar. (14) Memahami   sejarah   perkembangan IPA   dan   pikiran-pikiran   yang mendasari perkembangan tersebut.
  2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, yaitu :(1) Memahami standar kompetensi mata pelajaran yang diampu, (2) Memahami kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, (3) Memahami tujuan pembelajaran yang diampu.
  3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, yaitu : (1) Memilih materi pembelajaran yang diampu sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. (2) Mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
  4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, yaitu : (1) Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus. (2) Memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan. (3) Melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan. (4) Mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri, yaitu : (1) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi. (2) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.

Standar Kompetensi Guru IPA di Amerika

National Board for Profesional Teaching Skill (2002) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do, di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:

  • Teachers are Committed to Students and Their Learning yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.
  • Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran, (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).
  • Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.
  • Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience mencakup: (a) Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik, (b) guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.
  • Teachers are Members of Learning Communities mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan orang tua siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.

National Science Education Standards (1996) mengungkapkan standar kompetensi guru sains yaitu seorang guru sains harus memiliki kemampuan praktis dan pengetahuan teoritis mengenai sains, pembelajaran dan pengetahuan belajar mengajar. Standar kompetensi guru sains tidak mungkin ideal, karena itu standar kompetensi guru sains dipusatkan pada kualitas yang berkaitan dengan pengajaran sains dan visi pendidikan sains. Fokus standar guru sains dimulai dari standar perencanaan, standar dalam memudahkan pelajaran, standar penilaian, standar pengelolaan lingkungan kelas, standar pemberdayaan lingkungan sekolah, standar perencanaan kurikulum. Secara lebih rinci diuraikan dalam Tabel 2.

gbr2

  1. Standar Kompetensi Guru IPA di Australia

Standar kompetensi guru di Australian menginformasikan perkembangan tujuan pembelajaran profesional, menyediakan kerangka kerja dimana guru dapat menilai keberhasilan belajar mereka dan membantu refleksi diri dan penilaian diri (AITSL, 2011). Standar berkontribusi terhadap profesionalisasi mengajar dan meningkatkan status profesi. Akreditasi standar profesionalisme guru di Australia dilakukan oleh Board of Studies Teaching and Educational Standard (BOSTES).

Domain pengetahuan profesional berkaitan dengan kemampuan guru menggambarkan rumpun keilmuan profesional dan penelitian untuk menanggapi kebutuhan siswa mereka dalam konteks pendidikan mereka. Domain praktek profesional merujuk pada kemampuan guru dalam merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran yang menarik. Guru harus mampu menciptakan dan memelihara lingkungan belajar yang aman, inklusif dan menantang serta melaksanakan rencana manajemen perilaku yang adil dan merata dengan menggunakan teknik komunikasi yang komunikatif. Selain itu, guru juga harus memiliki kemampuan dalam menilai, memberikan umpan balik dan melaporkan hasil belajar siswa Domain keterlibatan profesional merujuk pada kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran yang efektif. Guru mengidentifikasi kebutuhan belajar mereka sendiri, menganalisis, mengevaluasi serta melakukan pembelajaran secara professional.

gbr3

B. Perbaikan dan Pengembangan Kompetensi Guru di Indonesia

Kebijakan Pengembangan Profesi Guru

Mendidik merupakan suatu proses usaha yang kompleks, karena mendidik dapat dianggap sebagai praktek perbaikan manusia yang melibatkan sifat tak terduga dan belum tentu semua orang dapat melakukannya. Tantangan pendidik terkait dengan perannya dalam membina masyarakat yang kuat, demokratis dan sejahtera merupakan suatu penghayatan yang penting. Nilai yang tinggi ditempatkan bagi pendidik tercermin dalam inisiatif kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat sistem pendidikan saat ini. Hal ini merupakan usaha untuk meningkatkan dan lebih memahami kebijakan yang terbaik dalam konteks perbaikan kualitas pendidikan.

Lahirnya Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen merupakan bentuk nyata pengakuan atas guru dengan segala dimensinya. UU No.14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebagai implikasi dari UU No. 14 Tahun 2005, guru harus menjalani sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Guru yang diangkat sejak diundangkannya UU ini, menempuh program sertifikasi guru dalam jabatannya sebagai bentuk bukti otentik akan profesionalismenya.

Gagasan-gagasan terhadap pengakuan profesi guru memunculkan upaya untuk merumuskan kebijakan dan pengembangan profesi guru, sehingga akhir- akhir ini makin kuat dorongan untuk mengkaji ulang sistem pengelolaan guru, terutama dalam hal penyediaan, rekrutmen, pengangkatan dan penempatan, sistem distribusi, sertifikasi, peningkatan kualifikasi dan kompetensi, penilaian kinerja, uji kompetensi, penghargaan dan perlindungan, kesejahteraan, pembinaan karier, pengembangan keprofesian berkelanjutan, pengawasan etika profesi, serta pengelolaan guru di daerah khusus yang relevan dengan tuntutan kekinian dan masa depan.

Pasca lahirnya UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, diikuti dengan beberapa produk hukum yang menjadi dasar implementasi kebijakan. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud (2014) menggambarkan milestone pembinaan profesi guru yang tersaji pada Gambar 1. Aneka produk hukum itu semua bermuara pada pembinaan dan pengembangan profesi guru, sekaligus sebagai pengakuan atas kedudukan guru sebagai tenaga profesional. Pada tahun 2012 dan seterusnya pembinaan dan pengembangan profesi guru harus dilakukan secara simultan, yaitu mensinergikan dimensi analisis kebutuhan, penyediaan, rekrutmen, seleksi, penempatan, terdistribusi, evaluasi kinerja, pengembangan keprofesian berkelanjutan, pengawasan etika profesi, dan sebagainya.

Pembinaan Kompetensi Guru IPA

Pemerintah telah memberlakukan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dalam rangka menjamin mutu pendidikan nasional. Secara lebih rinci SNP bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. SNP berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. SNP disempurnakan secara terencana, terarah dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. SNP terdiri atas standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, standar penilaian pendidikan. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional adalah melalui program peningkatan kompetensi guru. Program atau upaya yang dilakukan diantaranya berupa supervisi guru melalui pengawasan kepala sekolah, pengawas sekolah, dandiknas; program inservice training; kebijakan pemerintah; program sertifikasi, peningkatan kualitas LPTK, lesson study, ujian kompetensi guru (UKG) dan lain-lain.

Program supervisi pada dasarnya berisi segala bentuk usaha yang sifatnya memberikan bantuan, nasihat dorongan, dan kesempatan pada guru-guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mereka mampu melaksanakan tugas utamanya dengan baik, yaitu memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Tujuan akhir supervisi akademik adalah meningkatkan mutu hasil belajar murid. Oleh karena itu mutu pengajaran tergantung pada mutu mengajar guru, maka kegiatan pembinaan harus menaruh perhatian yang serius terhadap peningkatan profesional guru, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Dengan demikian kriteria utama keberhasilan pelaksanaan program supervisi harus dilihat dampaknya pada peningkatan mutu hasil belajar siswa (Satori, 2003).

Alur untuk mewujudkan guru yang benar-benar profesional dapat dilakukan melalui: (1) penyediaan guru berbasis perguruan tinggi, (2) induksi guru pemula berbasis sekolah, (3) profesionalisasi guru berbasis prakarsa institusi, dan (4) profesionalisasi guru berbasis individu atau menjadi guru madani. Pembinaan profesionalisme guru IPA di Indonesia dilaksanakan oleh berbagai pihak, mulai dari tingkat pemerintahan pusat (Depdiknas), pemerintah daerah (Dinas), dan tingkatan sekolah. Pembinaan dilakukan juga oleh Ditjen Dikti/LPTK dan berbagai organisasi profesi seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

gbr4

Pembinaan di Tingkat Pusat

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (P4TK IPA) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMPK-PMP) mempunyai visi mewujudkan layanan prima pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan IPA yang profesional, komprehensif, dan bermartabat.

P4TK IPA melakukan berbagai penelitian dan pengkajian permasalahan pembelajaran IPA di sekolah kemudian mengembangkan program untuk membina dan meningkatkan kualitas pembelajaran guru IPA melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat), workshop, seminar, konferensi, festival sains, dsb. Peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) IPA melalui diklat merupakan salah satu upaya untuk pencapaian standar kompetensi profesi PTK dan salah satu sarana pengembangan keprofesian berkelanjutan. Program-program yang sudah dilaksanakan antara lain:

  • Pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) berjenjang dan berkelanjutan, yaitu jenjang dasar, menengah, lanjut, dan tinggi.
  • Diklat dengan sistem in-on-in. Peserta mengikuti in service 1 di tempat diklat dilanjutkan dengan on the job learning di tempat asalnya/sekolah, dan melaporkan hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan pada tahap in service 2 termasuk mengemukakan permasalahan yang ditemukan dan alternative solusi yang sudah dilakukan.
  • Diklat dengan sistem pendampingan. Guru IPA mendapat pendampingan pembelajaran di sekolah dengan fokus pada konten IPA dan pedagogi, materi bervariasi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok guru berdasarkan hasil Test Need Assessment (TNA).
  • Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU), peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru yang dalam pelaksanaannya melibatkan banyak pihak seperti BPSDMPMP (Bindiklat, Profesi), DIKTI (Ketenagaan), P4TK, LPMP, LPTK, Kelompok Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, Jardiknas (Pustekkom), Balitbang (Puslitjaknov, Puspendik). P4TK IPA bertugas membentuk tim pengembang, mengembangkan modul-modul pelatihan yang akan digunakan di MGMP dan KKG, memberikan pelatihan kepada Provincial Core Team (PCT) dan Distric Core Team (DCT), serta mengkoordinasikan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan KKG dan MGMP secara regional. Outcome dari program ini adalah Pengembangan Profesional Berkelanjutan dan Peningkatan Kualitas Guru.
  • Program-program diklat reguler lainnya yang penekanannya selalu pada konten IPA dan pedagogi dilakukan untuk menjadikan P4TK IPA sebagai pusat penjaminan mutu pendidikan IPA di Indonesia.

Pembinaan Profesionalisme di Tingkat Provinsi

Unit pelaksana teknis (UPT) BPSDMPK-PMP di tingkat provinsi adalah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Dalam kapasitasnya sebagai penjamin mutu tenaga kependidikan, lembaga ini berperan dalam merumuskan standar-standar mutu, melakukan uji mutu profesionalisme guru, dan mengawasi bagaimana sekolah menjalankan standar mutu. LPMP juga berperan sebagai penyelengara program sertifikasi guru yang akan menjadi lisensi terhadap seseorang untuk layak menjadi guru. Program yang dikembangkan oleh LPMP dalam rangka membina profesionalisme guru IPA lebih bersifat memfasilitasi kebutuhan guru berupa pendampingan karena LPMP bukan lembaga diklat. Program yang sedang mendapat perhatian tinggi LPMP saat ini adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS).

Pembinaan Profesionalisme di Tingkat Kabupaten/Kota

Terdapat MGMP yang merupakan wadah pertemuan antar guru IPA yang berasal dari sekolah-sekolah di kabupaten/kota, disebut sebagai jaringan lintas sekolah. Dalam kegiatan MGMP, guru IPA dapat menjalin kemitraan pembelajaran dan berbagi pengalaman. Unsur Pembina yang biasa memberikan materi adalah pengawas dan nara sumber dari berbagai institusi. Melalui MGMP guru-guru IPA dapat mengajukan usulan anggaran kepada LPMP dan atau dinas pendidikan kabupaten/kota untuk kegiatan pengembangan profesionalisme.

Pembinaan Profesionalisme di Tingkat Sekolah

Guru hendaknya mendapatkan pembinaan secara maksimal di sekolah karena pembinaan yang dilakukan ketika proses sedang berlangsung jauh akan lebih bermakna daripada yang sudah tersimpan lama. Program pembinaan yang seharusnya dilakukan di sekolah adalah :

Bagi guru pemula, diperlukan adanya kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan, dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran pada sekolah di tempat tugasnya, dengan tujuan agar guru pemula segera dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah dan melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional di sekolah. Program ini disebut Program Induksi Guru Pemula (PIGP) sesuai dengan Permendiknas no 27 tahun 2010. PIGP dilaksanakan oleh pembimbing yaitu guru yang ditugaskan oleh kepala sekolah atas dasar profesionalisme dan kemampuan interpersonal yang baik selama satu tahun.

Kepala sekolah. Kepala sekolah pemegang kunci manajemen sekolah, efektivitas kegiatan sekolah secara langsung dipengaruhi kepala sekolah. Banyak kasus ditemukan bahwa pembelajaran IPA di sekolah terkendala oleh minimnya fasilitas, tidak tersedianya laboratorium dan alat bahan untuk praktikum, atau rendahnya kemampuan guru IPA dalam menggunakan alat yang ada dan guru tidak diberi kewenangan untuk menentukan kebutuhan pembelajaran IPA, padahal aspek kunci kepemimpinan dalam pendidikan adalah memberikan kewenangan kepada guru-guru untuk mengatasi permasalahan pembelajaran (Sallis, 1993). Kepala sekolah harus berkomitmen terhadap pengembangan guru IPA dan bisa merancang pengembangan profesionalisme guru sesuai dengan perannya dalam pembinaan guru yaitu, memfasilitasi, mengembangkan sumber, mendorong, mengkomando, membimbing, dan memimpin. Bentuk pembinaan lain yang seharusnya berada di bawah pengawasan kepala sekolah adalah MGMP sekolah bidang studi IPA.

Pengawas sebagai supervisor bertugas melakukan supervisi baik akademik maupun klinis. Supervisi akademik adalah bantuan profesional kepada guru melalui siklus perencanaan yang sistematis, pengamatan yang cermat, dan umpan balik yang objektif dan segera dalam meningkatkan kemampuan profesional guru dan kualitas proses pembelajaran sehingga guru dapat membantu siswa untuk belajar lebih banyak, lebih cepat, lebih mudah, lebih menyenangkan, dan lebih efektif dan bermakna. Kegiatan pembinaan professional diwujudkan oleh para pengawas dalam bentuk sikap dan tindakan yang dilakukan dalam interaksi antara guru-guru dan kepala sekolah dengan memperhatikan hal-hal berikut: supervisi dimulai dari hal-hal positif, didasarkan atas hubungan kerabat kerja sebagai professional, pandangan yang objektif, hubungan manusiawi yang sehat penuh rasa kekeluargaan, mendorong pengembangan potensi, inisiatif dan kreatifitas guru, dilaksanakan terus menerus, dan sesuai dengan kebutuhan (Satori, 2005).

Pembinaan Profesionalisme Melalui Organisasi Profesi

Selain unsur yang berasal dari kelembagaan pemerintah, terdapat pula pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Himpunan Sarjana Pendidikan dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia (HISPPIPAI), Asosiasi Guru Sains Indonesia (AGSI), dan organisasi lainnya.

PGRI merupakan organisasi guru terbesar dan terlama beranggotakan semua guru di Indonesia berasal dari berbagai tingkatan sekolah. Sesuai dengan misinya, PGRI berusaha dengan sungguh-sungguh agar guru menjadi profesional sehingga pembangunan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat direalisasikan. Organisasi ini melakukan fungsi pembinaan profesional guru melalui perintisan penyusunan berbagai aturan, perundangan, hak-hak dan kewajiban guru serta aspek hukum yang berkaitan dengan perlindungan profesi keguruan.

HISPPIPAI berkiprah dalam pembinaan profesionalisme guru IPA melalui seminar-seminar dan lokakarya yang diselenggarakan secara periodik. AGSI organisasi baru yang kiprahnya cukup dapat diperhitungkan, berkomitmen untuk melakukan pembinaan kepada guru IPA melalui kegiatan public lecture, menyelenggarakan diklat, seminar, dan workshop bekerjasama dengan lembaga diklat lain.

Pembinaan Profesionalisme Melalui LPTK

Mutu pendidikan nasional sangat erat kaitannya dengan kualitas layanan pendidikan di sekolah dan kualitas sumber pendidik dan tenaga kependidikannya. Karena itu kualifikasi akademik guru IPA yang ditandai dengan kepemilikan sertifikat pendidik menjadi hal yang sangat penting. Sertifikat pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, dan ditetapkan oleh pemerintah.

LPTK menyelenggarakan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi pengajar yang belum memiliki sertifikat sebagai pendidik atau mereka yang berlatar belakang ilmu murni tetapi ingin mengajar. Upaya ini membantu meningkatkan profesionalisme guru. Pengajar di perguruan tinggi, khususnya program studi pendidikan IPA juga banyak melakukan kegiatan penelitian yang berhubungan dengan permasalahan pembelajaran IPA di sekolah. Melalui implimentasi hasil kajian penelitian, secara tidak langsung LPTK berperan dalam membina profesionalisme guru.

III. PENUTUP

Upaya untuk melakukan sosialisasi kebijakan untuk meningkatkan kompetensi guru telah cukup baik dilakukan, namun tidak diikuti bagaimana memantau dan mengevaluasi kebijakan, serta bagaiamana upaya pemecahan masalah yang muncul. Semua pihak menyadari bahwa kompetensi guru masih rendah, akan tetapi solusi untuk mengatasinya belum diikuti oleh kebijakan yang mengacu kepada aspek pendidikan. Aspek lain misalnya politik, ekonomi, ikut berperan serta. Peningkatan keprofesionalan guru seringkali dijawab dengan kebijakan pelatihan dan penataran, tanpa diikuti upaya monitoring dan evaluasi. Para guru hanya diberi prinsip-prinsip atau teori, tetapi tidak dibimbing bagaimana menerapkan teori dan prinsip tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Para guru yang ditatar dan dilatih tidak menerapkan pengetahuannya setelah mereka kembali ke sekolah. Mereka terjebak ke dalam pola pembelajaran lama yang berpusat kepada guru, bukan berpusat kepada siswa. Hal-hal pokok seperti teori pembelajaran, model-model pembelajaran, pendekatan pembelajaran, penggunaan media, sumber belajar serta asesmen dan evaluasi pembelajaran hanya merupakan pengetahuan yang berhenti sebagai sesuatu yang diketahui, tetapi sulit untuk diterapkan di kelas. Para guru mengalami kesulitan dalam menyusun silabus, RPP, LKS, dan bagaimana menerapkannya dalam proses pembelajaran.

Pengembangan praktek profesional guru IPA seharusnya diorientasi kepada hakekat IPA yaitu sebagai proses dan produk. Artinya pembelajaran IPA tidak cukup dilaksanakan dengan penyampaian informasi mengenai konsep dan prinsip- prinsip IPA. Para siswa ketika belajar IPA harus memahami proses terjadi fenomena IPA melalui penginderaan sebanyak mungkin. Ketika belajar IPA para siswa harus secara aktif mengamati, mencoba, berdiskusi dengan sesama siswa dan guru yang secara populer dikenal dengan konsep pembelajaran “Hands-on and Minds-on activity’’. Konsep pembelajaran IPA seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan oleh guru yang betul-betul memahami karakteristik IPA dan strategi-strategi pembelajarannya. Merancang model pembelajaran IPA yang sesuai dengan karakteristik IPA sangat menuntut kreativitas guru sebagai bagian integral pembelajaran IPA. Unsur kreativitas guru tersebut sangat penting, karena berkaitan dengan kesanggupan guru menciptakan kondisi yang dapat memberikan kemudahan belajar siswa.

REFERENSI

(Referensi dapat direquest melalui msutarno_unib@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: