PRAKTIKUM VIRTUAl BERBASIS SIMULASI KOMPUTER

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang begitu pesat  banyak mempengaruhi kehidupan manusia diberbagai negara termasuk di Indonesia. Kemajuan IPTEK akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan sektor kehidupan masyarakat lainnya. Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kemajuan IPTEK, anggota masyarakat Indonesia haruslah berkualitas, dalam arti memiliki kemampuan berpikir, cara hidup, kemampuan berkomunikasi dan sikap yang baik. Setiap anggota masyarakat Indonesia dituntut untuk “melek” sains, karena sesungguhnya kemajuan di bidang teknologi itu terjadi akibat perkembangan di bidang sains.

Pemerintah telah mengembangkan kurikulum pendidikan sains yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan pebelajar dalam bidang sains agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dan kemajuan teknologi.  Hal ini tercermin dari fungsi dan tujuan pembelajaran sains di sekolah yang digariskan dalam kurikulum, yaitu: 1) memupuk sikap ilmiah, 2) mengembangkan kemampuan analisis induktif dan deduktif,  3) menguasai pengetahuan, konsep, dan prinsip sains, serta keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan 4) membentuk sikap positif (Puskur-Balitbang Depdiknas, 2002 dalam Bashori, 2010).

Hasil evaluasi kurikulum menunjukkan pada kenyataannya belum semua pesan kurikulum dapat diwujudkan dalam pembelajaran sains. Penekanan pembelajaran sains termasuk fisika pada umumnya masih terbatas pada penguasaan kumpulan  pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip. Itu pun tingkat aktualisainya masih relatif rendah. Rendahnya pencapaian pendidikan sains di Indonesia dapat ditunjukkan oleh berbagai indikator. Hasil The Third International Mathematics and Science Study atau TIMSS (Miller, 2009) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki urutan ke-35 dalam IPA dan urutan ke-36 dalam matematika diantara 48 negara yang mengikuti studi itu. Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 memperlihatkan Indonesia berada pada urutan 60 dalam literasi sains dari 65 negara peserta (Elianur, 2011).

Ketidakmampuan pendidikan sains dalam mengembangkan berbagai keterampilan berpikir dan  bersikap ilmiah tercermin dari banyak gejala sosial masyarakat, seperti cara berpikir, cara hidup, cara memperlakukan produk teknologi, sikap kebanyakan anggota masyarakat kita yang menunjukkan seakan-akan pendidikan sains yang diperoleh di sekolah tidak berbekas dalam kehidupannya. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan dalam cara belajar sains dari belajar untuk memahami konsep sains menjadi belajar untuk menguasai keterampilan-keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti berpikir kritis dan logis, keterampilan menganalisis, berpikir kreatif, serta memecahkan masalah (Paton, 1996 dalam Bashori, 2010).

Agar pendidikan sains dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka dalam pelaksanaannya harus dirancang dan diarahkan pada sebanyak mungkin pelibatan pebelajar dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan sains sendiri melalui proses sains. Pebelajar harus diberi pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui kegiatan : merancang percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, menyusun laporan, serta mengkomunikasikan hasilnya baik secara lisan maupun tertulis. Untuk kepentingan ini laboratorium sains merupakan  wahana yang paling tepat. Persoalannya adalah secara umum prasarana, peran, dan fungsi laboratorium yang terdapat di sekolah-sekolah maupun LPTK pada umumnya masih memprihatinkan. Minimnya prasarana laboratorium  sains yang dimiliki institusi pendidikan tersebut dapat menghambat pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan pembelajaran sains akibat minimnya prasarana laboratorium adalah melalui praktikum virtual berbantuan simulasi komputer.  Praktikum virtual tetap memungkinkan munculnya kegiatan minds-on dan hands-on sehingga dapat digunakan untuk melatih keterampilan proses sains guna melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi  (Manurung dan Rustaman, 2010).  Penyelenggaraan praktikum virtual  dapat memberikan efisiensi pembiayaan yang lebih baik dibandingkan dengan pengadaan fasilitas laboratorium sesuai standar kebutuhan minimal.  Keberadaan laboratorium /prasara komputer yang ada di setiap sekolah lanjutan dan LPTK memberikan peluang besar bahwa sekolah memiliki prasarana komputer yang dapat dimanfaatkan untuk menyelenggarakan praktikum virtual menggunakan simulasi komputer.

 Praktikum Virtual

Praktikum virtual merupakan praktikum dengan memanfaatkan media virtual seperti simulasi komputer atau media laboratorium virtual.  Laboratorium virtual adalah  visualisasi konsep dan fenomena alam  ke dalam bentuk  simulasi interaktif  melalui teknologi komputer (Hut, 2006). Laboratorium virtual merupakan pemodelan dari setiap komponen laboratorium nyata ke dalam simulasi virtual (Liem, dkk, 2009). Manfaat dari praktikum virtual menurut Hut (2006) adalah : 1) Memudahkan siswa melakukan praktikum karena semua alat dan bahan telah disediakan secara virtual. 2) Membantu guru mengelola dan melaksanakan praktikum. 3) memberikan pereduksian waktu pembelajaran. 4) Mengembangkan potensi praktikum menjadi pembelajaran mandiri dan meningkatkan fleksibilitas dalam belajar.

Berdasarkan kajian literatur, diketahui  bahwa terdapat beberapa model laboratorium virtual sains yang telah berhasil dikembangkan dan dapat diakses secara bebas melalui internet.  Laboratorium virtual tersebut diantaranya Electronics Workbench (EWB) dipakai untuk praktikum rangkaian listrik, Microcondria Lab dipakai untuk praktikum Biologi, dan Translation Lab untuk praktikum membuat urutan RNA sederhana.  Selain itu, situs depdiknas yang beralamat URL http://depdiknas.edukasi.go.id   juga menyediakan cukup banyak bahan ajar yang berisi simulasi yang dapat dipakai untuk praktikum.  Namun demikian, dapat diidentifikasi bahwa laboratorium virtual yang telah tersedia tersebut umumnya hanya dikembangkan untuk suatu suatu topik tertentu  saja dan belum dilengkapi perangkat pembelajaran seperti kumpulan  teori dasar yang melandasi setiap percobaan, petunjuk penggunaan simulasi, panduan praktikum,  tujuan praktikum, lembar kerja siswa, lembar latihan, dan lembar evaluasi.  Selain itu, laboratorium virtual sains yang telah tersedia belum dirancang secara spesifik untuk membidik aspek khusus tertentu seperti keterampilan, keterampilan berpikir kritis, problem solving, dan sebagainya.

Catatan :

  1. Apakah anda tertarik mengembangkan model praktikum virtual berbasis simulasi komputer?
  2. Apakah anda membutuhkan contoh LKS (lembar kerja siswa) pada praktikum virtual?

 

Berikut adalah contoh LKS Virtual Berbasis Simulasi Komputer  :

LKS Virtual Bandul Fisis

 

3 Balasan ke PRAKTIKUM VIRTUAl BERBASIS SIMULASI KOMPUTER

  1. Anonim mengatakan:

    as.baik tu pa, tuk menggantikan real laboratory pada beberapa aspek. tetapi tuk peningkatan aspek psikomotorik real laboaratory salam dari adam malik your friend when study at UPI 2008-2010

  2. Pujo Cahyono mengatakan:

    Ijinkan saya mengomentari,
    Bagus, informasinya.

  3. radius mengatakan:

    1. Tulisan inisangat menarik bagi saya.
    2. Saya butuh contoh LKS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: