Kegiatan Laboratorium Verifikasi vs Problem Solving

Berikut ini adalah penjelasan ringkas tentang  perbedaan kegiatan laboratorium verifikasi dengan kegiatan laboratorium berbasis problem solving :

Model Kegiatan Laboratorium Verifikasi

Pada umumnya kegiatan praktikum atau percobaan sains yang diselenggarakan baik sekolah menengah maupun di perguruan tinggi merupakan praktikum tradisional. Pola kegiatan/aktivitas laboratorium tradisional adalah sebagai berikut; siswa  diberi tahu prinsip/teori/konsep sains. Setelah itu siswa menguji/memverifikasi  kebenaran teori/prinsip/konsep tersebut. Kegiatan laboratorium seperti ini cenderung mendorong siswa untuk  tidak jujur, karena hasil pengamatannya dikendalikan oleh teori/prinsip/ konsep yang sudah diketahuinya. Jika demikian halnya, kegiatan laboratorium sains yang diharapkan sebagai wahana pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah malah menjadi kebalikannya. Kelemahan lainnya terletak pada proses kegiatannya, modul praktikum pada laboratorium tradisional disajikan secara rinci memuat prosedur-prosedur baku yang harus dilaksanakan siswa tahap demi tahap. Petunjuk praktikum yang terlalu rinci mengakibatkan kurang merangsang siswa untuk mengembangkan daya nalarnya untuk merencanakan dan menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Kegiatan Laboratorium Berbasis Problem Solving

Inovasi pembelajaran dalam kegiatan praktikum ini diilhami oleh kegiatan praktikum yang didesain dan dikembangkan di Universitas Minnesota serta di Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI, yang memberikan penekanan utama pada aspek problem solving. Kegiatan laboratorium ini terintegrasi dengan pembelajaran. Tujuannya  seperti dikemukakan oleh Heller&Heller adalah menjadikannya sarana bagi siswa untuk : (a) mengkonfrontasi konsep awal mereka dengan bagaimana alam bekerja; (b) melatih skill problem solving; (c) belajar menggunakan alat;  (d) belajar mendesain ekperimen; (e) mengobservasi sebuah peristiwa yang memerlukan penjelasan yang tidak mudah sehingga mereka menyadari bahwa diperlukan ilmu untuk menjawabnya; (f) mendapatkan apresiasi kesulitan dan kegembiraan saat melakukan eksperimen; (g)mengalami pengalaman seperti ilmuwan asli dan (h) merasa senang melakukan kegiatan yang lebih aktif daripada duduk dan mendengarkan. Berdasarkan desain problem solving laboratory yang dikembangkan di universitas Minnesota dan FPMIPA UPI, komponen-komponen kegiatan laboratoriumnya diuraikan sebagai berikut:

a.  Petunjuk Praktikum

Perbedaan yang mencolok adalah tidak adanya dasar teori dan langkah-langkah percobaan pada petunjuk praktikum yang akan dikembangkan. Peniadaan dasar teori didasarkan pada alasan untuk menegaskan bahwa kegiatan praktikum ini merupakan bagian terintegrasi dengan pembelajaran, sehingga teori yang mendasari praktikum dapat digali dan dibaca sebanyak-banyaknya dari buku-buku paket sekolah. Adanya prediksi dan pertanyaan metode dalam petunjuk praktikum dimaksudkan untuk men-trigger penggalian teori oleh siswa. Sedangkan peniadaan langkah-langkah percobaan yang mendetil dalam petunjuk praktikum dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melatih skill problem solvingnya, sehingga dengan demikian kemampuan problem solvingnya dapat terus dipertajam. Berikut perbandingan antara petunjuk praktikum lama dan petunjuk praktikum problem solving.

Petunjuk praktikumnya terdiri dari langkah-langkah: permasalahan yang dijumpai dalam kehidupan siswa disajikan, kemudian disediakan alat dan bahan yang diperlukan. Siswa diarahkan untuk memprediksi tentang alternatif solusi dari masalah yang disajikan. Untuk mengarahkan siswa agar dapat melakukan eksplorasi dengan benar, maka guru memberikan pertanyaan-pertanyaan metode/pengarah.  Jika langkah kerja yang akan dilakukan siswa sudah sesuai, kemudian dilakukan eksplorasi dan pengukuran untuk memperoleh data yang akan dianalisis. Dari hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan berupa suatu konsep yang utuh

b. SettingKegiatan Praktikum

Perbedaan seting kegiatan praktikum lama adalah diawali dengan pengumpulan tugas awal untuk dinilai dan tanya jawab tentang penggunaan alat dan proses pengukuran, pada seting baru diadakan tahap pra eksperimen (pre-experiment) yang berbentuk diskusi. Diskusi ini diadakan untuk memonitor prediksi dan jawaban pertanyaan metode dari setiap anggota kelompok untuk kemudian diseragamkan menjadi prediksi kelompok. Sedangkan tujuan pasca eksperimen (post-experiment) adalah mendiskusikan data yang diperoleh dari hasil pengukuran untuk memantau kelengkapan data dan ketepatannya, jika terjadi kekeliruan dapat segera diadakan perbaikan. Perbedaannya dapat dilihat pada Tabel 2.

Pada setting kegiatan praktikum problem solving, dapat dijelaskan bahwa dua hari menjelang pembelajaran dilakukan, kelompok siswa diberi LKS pre eksperimen yang berisi tahap: penyajian masalah, pengenalan alat-alat eksperimen, prediksi yang harus dilakukan siswa dan penyampaian pertanyaan-pertanyaan metode/pengarah.  LKS pre eksperimen ini dikerjakan secara berkelompok di rumah siswa. Pada saat pembelajaran berlangsung maka hasil rumusan masalah, pemilihan alat eksperimen, hasil prediksi siswa dan langkah-langkah eksperimen didiskusikan sebelum melakukan eksplorasi. Jika langkah kerja yang akan dilakukan siswa sudah sesuai, kemudian dilakukan eksplorasi dan pengukuran untuk memperoleh data yang akan dianalisis. Dari hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan berupa suatu konsep yang utuh. Kegiatan analisis data, perolehan kesimpulan dan penentuan solusi masalah disebut kegiatan post eksperimen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s