Inferensi Logika

Inferensi logika adalah kemampuan siswa dalam menggunakan logika untuk malakukan penafsiran atau penarikan kesimpulan. Inferensi logika ini terintegrasi dalam proses ilmiah yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran atau suatu kegiatan percobaan atau eksperimen.  Menurut Brotosiswoyo (2000) dalam melakukan inferensi logika siswa mempertanyakan apa saja konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat ditarik dari gejala-gejala yang teramati. Konsekuensi-konsekuensi logis yang muncul harus dapat diterjemahkan kembali dalam ungkapan-ungkapan riil sebagai gejala atau perilaku alam baru, yang sebaiknya dapat diamati atau diukur. Jika hasil pengamatan atau pengukuran, gejala atau perilaku alam baru menunjukkan bahwa hal itu benar, maka bertambahlah khasanah siswa tentang gejala dan perilaku alam yang dapat dirangkum oleh hukum alam yang sudah dimiliki.

 Inferensi logika merupakan salah satu dari sejumlah kemahiran generik siswa yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran fisika. Sejumlah kemahiran generik yang dapat ditumbuhkan melalui pengajaran fisika, yaitu : 1) pengamatan, 2) kesadaran tentang skala besaran (sense of scale), 3) bahasa simbolik, 4) kerangka logika taat asas (logical self consistensy), 5) inferensi logika, 6) hukum sebab akibat (causality), 7) pemodelan matematik, dan 8) membangun konsep (Brotosiswoyo, 2000).

Brotosiswoyo (2000) menjelaskan bahwa keyakinan dalam pengendalian hukum alam menyebabkan matematika menjadi “bahasa” hukum alam yang sangat ampuh. Dari sebuah aturan yang diungkapkan dalam matematika, kita dapat menggali konsekuensi-konsekuensi logis yang dilahirkan semata-mata lewat inferensi logika. Tanpa melihat bagaimana makna konkret sesungguhnya, langkah semacam itu sering dilakukan dalam ilmu fisika. Seorang masinis kereta api yang memasuki terowongan yang gelap dan panjang. Dia dia tidak kenal sekelilingnya, tetapi ada keyakinan selama dia melewati rel yang tersedia, suatu saat dia akan melihat alam terbuka kembali.

Inferensi logika merupakan proses abstrak yang terjadi di dalam pikiran atau otak. Inferensi logika yang terjadi akan dipengaruhi oleh pengetahuan, kepercayaan, pikiran dan perasaan. Dalam hal ini Colson (2005) menyatakan bahwa suatu masalah timbul bila “tahu”, “percaya”, “pikir”, dan “rasa” secara konsisten digunakan keterhubungannya pada suatu proses inferensi logika. Terdapat beberapa perbedaan substansif yang dirasakan antara pengetahuan, kepercayaan, pikiran, dan perasaan. Dapat dikatakan bahwa inferensi logika adalah ekspresi ideide atau penggabungan kembali setiap ekspresi dalam hal kepercayaan sebelumnya dengan suatu kenyataan baru, selanjutnya tidak dapat dihindari akan mengubah seluruh kepercayaan, hal ini akan dipegang kuat untuk setiap prediksi ke depan sebagai sebuah keyakinan bahkan bila hal itu salah.

 Ilmuwan mencoba memahami alam melalui proses ilmiah. Proses ini meliputi langkah-langkah : memikirkan dan mengeksplorasi gejala atau masalah, mengemukakan hipotesis atau penjelasan sementara, memikirkan cara pengujian hipotesis dan memprediksikan hasilnya, mengumpulkan data melalui pengamatan serta pengukuran, selanjutnya membandingkan data tersebut dengan konsekuensi logis dari hipotesis yang telah dibuat (Lawson, 1995).

 Proses ilmiah tersebut dapat dinyatakan dalam pola pikir jika …. maka …. , berpikir dengan pola demikian dapat dilakukan dengan menggunakan inferensi logika. Jika data sesuai dengan konsekuensi logis itu maka hipotesis mendapat dukungan sehingga diperoleh ilmu pengetahuan baru yang bersifat tentatif, dan jika tidak sesuai maka hipotesis ditolak atau harus dimodifikasi.

 Lawson memberikan contoh :

Jika “ikan salmon menggunakan matanya untuk menemukan jalan kembali ke tempat kelahirannya” (hipotesis),

 Dan “sebagian ikan salmon ditutup matanya, sebagian lainnya tidak ditutup” (rancangan percobaan),

 Maka “ikan salmon yang ditutup matanya tidak berhasil, sedangkan yang tidak ditutup berhasil” (prediksi).

Dalam hal ini Marciszewski (1999) menyatakan dalam suatu pernyataan logis mengandung pola-pola kondisi tertentu yang disebut dengan aturan logika. Pertanyaan tentang apakah pengetahuan seseorang terkondisi dengan aturan logika atau proposisi yang dimiliki agar sesuai dengan teori pengetahuan, seandainya metode berbeda dari suatu substansi pada kasus lain. Pola aturan logika tersebut dapat dinyatakan dengan “jika … maka … “. Penggunaan “jika … maka … “ sebagai simbol dalam inferensi logika.

Ketika seorang ilmuwan menghadapi suatu gejala alam yang mengusik rasa ingin tahunya, dia akan mengeksplorasi pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan gejala tersebut. Setiap pertanyaan dibuat dugaan jawaban atau penjelasannya. Selanjutnya memikirkan bagaimana menguji setiap jawaban tersebut dengan cara merancang percobaan, dan memprediksikan gejala yang akan terjadi jika rancangan itu direalisasikan.

Kegiatan laboratorium (percobaan) inkuiri/problem solving memberikan pengalaman yang berguna bagi siswa dalam mengembangkan kemahiran berfikir menggunakan inferensi logika. Selain itu memberikan pengalaman bahwa dalam kegiatan laboratorium siswa tidak harus selalu digiring untuk mengusulkan hipotesis yang “benar” mendapat dukungan data. Dalam hal ini yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengembangkan pola pikir yang biasa dilakukan oleh ilmuwan, yaitu pola pikir jika … maka …, secara jujur dan konsisten. Dengan menggunakan pola pikir tersebut yang ditindaklanjuti dengan pengumpulan data dan melalui percobaan terkontrol, siswa akan membuktikan sendiri apakah hipotesis yang diajukan mendapat dukungan data, atau sebaliknya. (Wiyanto, 2004)

 Melalui inferensi logika siswa menggunakan seluruh kemampuan proses berpikirnya guna mendapatkan suatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu melalui inferensi logika dapat diketahui jalan pikiran atau penalaran siswa. Dalam hal ini Conati (2001) menyatakan bahwa inferensi logika dapat digunakan untuk mengases pengetahuan dan penalaran siswa.

 Referensi : Sayuthi. (2005). Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Inferensi Logika. Thesis. SPS UPI Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: