Bagaimana Seharusnya Membelajarkan Fisika?

Sudah dikenal umum bahwa fisika merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan alam yang tergolong “susah”, artinya tidak mudah dipahami. Bahkan telah berkembang di kalangan siswa dan guru suatu mitos bahwa dari sononya fisika memang sulit dipelajari. Fisika kemudian menjadi momok yang ditakuti banyak siswa. Fisika dianggap sebagai onggokan rumus-rumus, yang menjerumuskan siswa dengan hafalan yang memusingkan kepala. Alhasil, nilai fisika para siswa termasuk yang terendah di antara seluruh mata ajaran di sekolah pada semua jenjang, mulai SD (pelajaran IPA) sampai perguruan tinggi.

Hal ini sungguh memprihatinkan, karena fisika merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai terlebih dulu dalam rangka penguasaan teknologi pada jaman modern ini. Fisika mempelajari watak dan perilaku alam, sehingga memungkinkan kita memanfaatkan dan mempekerjakan alam untuk kepentingan hidup manusia. Di negara maju, fisika selalu bahu membahu dengan ilmu lain di garis depan dalam usaha untuk mengembangkan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Pengalaman keseharian

Manusia belajar tentang alam yang menjadi tempat hidupnya sejak ia dilahirkan. Apa-apa yang dialaminya kemudian menjadi pengalamannya. Bayi yang sudah dapat memegang sesuatu akan segera melongokkan kepalanya ke bawah jika barang mainannya terjatuh, semuda itu ia sudah mengalami gejala gravitasi! Pengalamannya tentang gejala alam yang lain seperti : gerakan, bunyi (melalui telinga), cahaya (melalui mata), panas, melengkapi pelajarannya tentang alam ini.

Jika gejala alam sudah mulai dipelajari sedemikian dini, mengapa pada umumnya siswa merasa sulit mempelajari ilmu alam yang diberikan di sekolah? Seharusnya dengan pengalaman sehari-hari seperti itu, setiap orang akan merasa mudah mempelajari fisika. Fisika tidak mempelajari sesuatu yang abstrak, melainkan hal-hal nyata yang ada di alam sekitar. Adakah sesuatu yang salah pada pengajaran ilmu alam?

Pengamatan pada metode pengajaran ilmu alam di sekolah-sekolah menelurkan dugaan, bahwa siswa kurang diberi pengalaman, kurang diberi kesempatan untuk mengalami sendiri gejala-gejala alam yang nantinya harus mereka pelajari dan kuasai. Ilmu alam tidak boleh dipisahkan dari watak alamiahnya. Gejala yang dipelajari di dalamnya betulbetul ada di alam sekitar, bukan semata-mata berupa simbol-simbol di atas kertas. Cara penyampaiannya pun harus disesuaikan dengan tingkat penalaran yang dimiliki oleh peserta didik yang menerimanya. Siswa sekolah dasar yang daya analisanya belum berkembang, tidak boleh dijejali dengan konsep-konsep abstrak berupa hukum-hukum, rumus, dan sejenisnya. Mereka perlu berkenalan terlebih dulu dengan gejala-gejala alam, orang bilang tak kenal maka tak sayang. Minat yang timbul dari keheranan, rasa ingin tahu dan kekaguman, menjadi modal yang amat besar bagi siswa untuk mempelajari dan memperdalamnya di kelak kemudian hari. Tampaknya para siswa telah menjadi korban salah asuhan metode pengajaran yang kurang tepat.

Pengajaran di sekolah

Kecenderungan yang umum terjadi dalam pengajaran fisika dewasa ini adalah penekanan yang terlalu besar pada pengerjaan soal-soal kuantitatif (melalui hitungan matematis). Padahal permasalahan pokok dalam fisika bersifat kualitatif (pemahaman perilaku alam). Kalaupun dilakukan perhitungan, hasil perhitungan itu harus dapat diterjemahkan arti fisisnya. Semua rumus yang dipakai memiliki cerita yang melatarbelakangi suatu konsep atau hukum. Rumus-rumus itu bukanlah sekumpulan simbol-simbol
matematik tak bermakna yang mengerikan.

Jalan pintas dengan menghafalkan rumus dan contoh soal tanpa disertai pemahaman cerita yang ada di baliknya membuat para siswa frustrasi. Hal ini dapat dilihat jika soalnya kemudian dimodifikasi, tampaklah bahwa siswa akan kebingungan. Frustrasi menghasilkan kebencian. Pada fase mental seperti ini, pengajaran fisika dengan metoda apapun sudah tidak ada gunanya lagi.

Cara pengajaran fisika harus dikembalikan ke alam sesuai dengan domain yang dipelajarinya. Siswa diberi pengalaman, diajak melakukan pengamatan di alam sekitar atau secara terstruktur dalam laboratorium. Setelah cukup pengalamannya, barulah diajak mengkaji perilaku gejala-gejala alam tersebut. Untuk ini semua diperlukan alat-alat peraga dan praktikum, baik yang fisik (alat peraga di depan kelas, peralatan praktikum), maupun yang non-fisik (film, video, simulasi komputer).

Kesinambungan cara penyampaiannya sejak tingkat dasar sampai perguruan tinggi amat penting untuk menunjang keberhasilan pengajaran fisika. Tingkat penalaran siswa sesuai dengan umurnya menentukan metoda yang harus dipakai. Berikut ini adalah cara pengajaran fisika yang ideal di berbagai jenjang pendidikan :

a. Tiga tahun pertama Sekolah Dasar

Kata kunci : MENGENAL GEJALA ALAM
Anak-anak masih suka bermain, mereka belum memiliki daya penalaran sistematika keilmuan. Dalam fase ini ilmu alam diajarkan sambil bermain, perkenalan mereka yang pertama terhadap gejala-gejala alam di sekitar. Contoh kasus : air dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain. Siswa diajak mengamati sungai, selokan, aliran air dalam pipa.

b. Tiga tahun kedua Sekolah Dasar

Kata kunci : MENGENALI GEJALA ALAM
Anak-anak sudah dapat diajak untuk memahami hubungan sebab-akibat. Keberadaan suatu gejala alam akan mengakibatkan terjadinya gejala yang lain. Contoh kasus : perbedaan tinggi tempat menyebabkan aliran air. Siswa diajak mengamati air terjun, aliran dari tandon air, membuat parit, sehingga mereka tahu jika ada aliran air tentu ada perbedaan tinggi tempat.

c. Sekolah Menengah Pertama

Kata kunci : MENALAR GEJALA ALAM
Siswa sudah mampu menggunakan penalaran yang sistematis. Pengenalan hukum dan formulasi matematika gejala alam mulai diberikan. Konsep-konsep dasar mulai ditanamkan, keterampilan menghitung mulai dilatih. Praktikum mulai diadakan, untuk mengajak siswa mengenal langsung gejala alam secara sistematik dalam laboratorium. Contoh kasus : aliran air tunduk pada gravitasi bumi. Siswa diajak mengaitkan aliran air dengan gejala benda jatuh.

d. Sekolah Menengah Umum

Kata kunci : MENGANALISA GEJALA ALAM
Siswa diajak memperdalam pengertian tentang suatu gejala alam melalui model sederhana. Analisa konsep sudah mulai dilakukan. Eksperimen dalam laboratorium dipakai sebagai ajang pengujian hubungan sebab-akibat dalam konsep-konsep fisika. Contoh kasus : hukum Bernoulli memberikan deskripsi tentang aliran sederhana. Siswa mulai diajak menganalisa model aliran sederhana secara lebih rinci.

e. Perguruan Tinggi

Kata kunci : MEMAHAMI GEJALA ALAM
Secara menyeluruh mahasiswa di tingkat dasar diminta memahami gejala alam, dengan tujuan bersiap diri mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep yang ada sesuai dengan bidang yang ditekuni. Di sini model-model yang dipelajari sudah meninggalkan bentuk sederhana dan mendekati alam nyata. Hal ini baru dapat dilakukan di perguruan tinggi karena matematika siswa sudah mencapai tingkat yang memadai untuk membedah persamaan-persamaan matematik yang dimiliki gejala alam. Contoh kasus : model aliran zat cair sudah memperhatikan kekentalan, kemampatan, dan turbulensi (olakan) yang membuat persamaannya menjadi persamaan matematik
yang kompleks.

Penutup

Pengajaran fisika harus memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai landasan, oleh sebab itu perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa materi pelajaran fisika tidak jauh dari kehidupan ini. Siswa harus diberi kesempatan melihat dan mengalami sendiri apa yang sedang dipelajarinya, baik melalui demonstrasi, praktikum, film, dan sebagainya. Jika bangsa kita ingin menguasai alam dan teknologi, saluran pengajaran fisika yang selama ini buntu harus segera dibuka.

Kurikulum fisika harus dibuat secara terpadu pada seluruh jenjang pendidikan, dengan memperhatikan usia siswa yang mempelajarinya. Tindakan terburu-buru dengan usaha menanamkan konsep dan tuntutan melakukan perhitungan-perhitungan sedini mungkin akan menjadi bumerang. Siswa mempelajari fisika dengan porsi yang sesuai dengan daya nalarnya pada saat ia belajar.

Ada motto dalam pengajaran ilmu pengetahuan alam yang amat baik dicamkan oleh para guru kita :

Saya mendengar, saya lupa
Saya melihat, saya ingat
Saya melakukan, saya mengerti

(oleh : Sugata Pikatan)

Satu Balasan ke Bagaimana Seharusnya Membelajarkan Fisika?

  1. saskia mengatakan:

    memang sulit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: