HAKIKAT PENALARAN

Penalaran (reasoning) merupakan suatu konsep umum yang menunjuk pada salah satu proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai  pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Copi (1986) menyebut penalaran sebagai cara berpikir spesifik untuk menarik kesimpulan dari premis-premis. Piaget (1964) memberikan garis besar sistem intelektual anak pada tahap perkembangan yang menggambarkan tingkat penalaran yang dimilikinya. Perkembangan kognitif siswa yang dikemukakan terdiri dari empat tahap yaitu : (a) sensori motorik (0-2 tahun), (b) pra operasional (2-7 tahun), (c) operasional konkret (7-11 tahun) dan (d) operasional formal (11 tahun ke atas). Masing-masing tahap perkembangan kognitif tersebut dijelaskan sebagai berikut :

(1) Tahap Sensori Motorik

Tahap ini dicirikan oleh giatnya skemata sensori motoris yang mengatur indra dan gerakan. Dalam periode ini tidak ada kegiatan-kegiatan simbolis. Secara berangsur-angsur lewat kegiatan sensori dan gerakan motorisnya, anak belajar untuk mengkoordinir berbagai macam pola tindakan. Dalam keadaan kesatuan osmose afektif, lama-lama mereka mulai sadar untuk membedakan dengan dunia luar. Kesadaran akan diri sebagai subyek dan pembentukan obyek terjadi secara serentak. Pembentukan obyek ini bukanlah satu kenyataan primer tetapi sebuah konstruksi yang terjadi secara bertahap. Pembentukan obyek ini akan berkembang menjadi kesadaran akan permanensi obyek yang berarti timbulnya kesadaran sebuah obyek yang walaupun tidak dapat diraba secara langsung, toh masih betul-betul berada terus jika suatu saat obyek tersebut tersembunyi bagi si subyek.

(2) Tahap Pra Operasional

Tahap ini dicirikan oleh berangsur-angsurnya pertambahan daya mengabstraksi, yang berarti memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari kenyataan yang konkret secara berganti-ganti. Periode ini dibagi dalam dua sub taraf. (a). pra konseptual (2-4 tahun) dan (b). Sub taraf intuitif (4 – 7 tahun). Dalam taraf pra konseptual perkembangan mental telah berubah karena sudah terjadi perpindahan aksi-aksi sebagai representasi sesaat. Fungsi simbolis berarti kemampuan untuk mewakili sesuatu yang intern (misalnya  perasaan dan pikiran). Simbol tidak menujuk pada diri sendiri, tetapi gambaran yang menunjuk kepada sesuatu yang lain. Perluasan realitas simbolis ini khususnya terjadi dalam bentuk permainan, tiruan dan bahasa. Ketiga faktor tersebut merupakan cara yang khas untuk menghadirkan sesuatu yang secara nyata tidak hadir. Sub taraf pra konseptual ini selanjutnya dicirikan lagi oleh sifat egosentrisme. Anak masih menganggap diri sebagai titik pusat mutlak dari dunianya dan menentukan diri sebagai patokan dan ukuran mutlak untuk setiap penilaian dan pertimbangan sehingga anak tidak dapat menempatkan diri dalam sudut pandangan orang lain. Pikiran anak masih bersifat terpusat (sentrasi). Anak yang berhadapan dengan suatu dimensi yang berbeda-beda secara serentak, hanya dapat memfokuskan kepada satu dimensi saja. Aspek yang paling menonjol dalam Sub taraf intuitif, anak sudah berhasil mengumpulkan sejumlah benda yang berbeda-beda menurut bentuk, besar dalam satu kategori tunggal. Anak sudah mampu melihat relasi-relasi koheren tetapi tidak berhasil menguraikan relasi-relasi koheren tersebut karena cara berpikirnya masih bersifat intuitif. Pada taraf ini anak mulai menangkap realitas secara logis dan munculnya aspek konservasi. Aspek konservasi ini merupakan kesadaran bahwa substansi atau benda (tanah, besi, kayu, air ) tidak kehilangan sifat tetentu (berat, volume ) walaupun secara jelas terjadi perubahan bentuk tertentu (transformasi, seperti bentuk bulat berubah menjadi pipih). Tercapainya aspek transformasi ini menandai kepada peralihan pemikiran menuju konkret operasional.

(3)  Tahap Operasional Konkrit

Tahap ini dicirikan oleh penghapusan berbagai keterbatasan yang ada pada taraf sebelumnya. Cara berpikir anak semakin kurang egosentris dan menjadi lebih terdesentrir. Dua ciri yang paling mencolok dari taraf ini adalah sifat operasional dan reversible. Dalam pemikiran operasional, melalui tindakan berpikirnya, anak dapat membuat suatu dengan cara membayangkannya. Perbuatan mental semata-mata dilakukan pada tingkat yang konkret. Tindakannya masih bergantung pada kehadiran nyata obyek-obyek konkret. Dalam prinsip reversibilitas, anak dapat kembali kepada titik tolaknya dan dapat memperbaiki tindakan mentalnya dengan melakukan kembali secara mental urutan yang sebaliknya. Dalam hal ini anak mampu mengantisipasi dan memperhitungkan apa yang akan terjadi.

Proses-proses penting selama tahapan operasioanal kongkrit adalah :       (a) Pengurutan, yaitu kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. (b) Klasifikasi, yaitu kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. (c) Decentering, yaitu anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. (d) Reversibility yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. (e) Konservasi, yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. (f) Penghilangan sifat egosentrisme, yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

(4)  Tahap Operasional Formal

Erwin dan Nuriyah (2001) mendefinisikan penalaran formal sebagai kemampuan berpikir benar dalam mencapai kebenaran, dapat membedakan antara kenyataan yang diterima dan harapan yang diinginkan. Siswa yang sudah berusia 11 tahun ke atas telah memiliki penalaran formal. Siswa pada usia tersebut telah mampu berpikir secara simbolik dan berpikir abstrak terhadap obyek yang diamati, sistematis, terarah dan  akan dicapai, di samping mampu berpikir induktif, deduktif dan empiris rasional. Aspek penalaran formal meliputi penalaran kombinatorial, penalaran korelasional dan penalaran proporsional. Flavell mengemukakan beberapa karakteristik dari berpikir operasional formal, yaitu : (a) berpikir hipotesis deduktif. Ia dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menanggapi masalah dan mencek data terhadap setiap hipotesis untuk membuat keputusan yang layak. Tetapi ia belum mempunyai kemampuan untuk menerima dan menolak hipotesis. (b) berpikir proporsional, seorang anak pada tahap operasional formal dalam berpikir tidak dibatasi pada benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang konkret, ia dapat menangani pernyataan atau proporsi yang memerikan data konkrit. Ia bahkan dapat menangani proporsi yang berlawanan dengan fakta. (c) berpikir kombinatorial. Kegiatan berpikir yang meliputi semua kombinasi benda-benda, gagasan-gagasan atau proporsi-proporsi yang mungkin. (d) berpikir refleksif. Anak-anak dalam periode ini berpikir sebagai orang dewasa. Ia dapat berpikir kembali pada satu seri operasional mental. Ia juga dapat menyatakan operasi mentalnya dengan simbol-simbol (Dahar, 1989).

Lawson menyebutkan ada lima karakteristik bernalar formal, yaitu : (a) identifikasi dan pengontrolan variabel : mendefinisikan identifikasi dan pengontrolan variabel sebagai kemampuan siswa dalam mengidentifikasi variabel yang paling tepat terutama dalam memecahkan masalah, (b) kemampuan berpikir kombinatorial : kemampuan berpikir yang menggabungkan beberapa faktor kemudian menyimpulkan sebagai hasil penggabungan tersebut terutama dalam memecahkan masalah, (c) kemampuan berpikir korelasional : kemampuan menganalisis masalah dengan menggunakan hubungan-hubungan atau sebab akibat, (d) kemampuan berpikir probabilitas : Cara berpikir untuk memecahkan masalah melalui berbagai kecenderungan mendorong siswa untuk mencari probabilitas  (e) kemampuan berpikir proporsional : kemampuan memecahkan masalah secara proporsi dan menggabungkan proporsi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian anak pada tahap operasional formal menggunakan kelima cara tersebut dalam penalarannya.

Inhelder dan Piaget membuat suatu inventory untuk mengukur tingkat operasional formal.  Inventory ini mengacu pada skemata yang disesuaikan dengan tingkat operasional formal seseorang. Terkait dengan pengetahuan ilmiah yang harus dimiliki seseorang pada tingkat operasional formal ini, Inhelder dan Piaget memberikan beberapa ciri (Travers, 1982), yaitu : operasi kombinasi (combinatorial operation), perbandingan (proportions), koordinasi terhadap Dua sistem acuan (the coordination of two system of rRefference), proses keseimbangan mekanik (The Process of Mechanical Equilibrium),  probabilitas (probability), korelasi (correlation), konsep kekekalan (concepts of conservation).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran formal adalah kapasitas siswa untuk melakukan operasi-operasi formal yang meliputi : berpikir kombinatorial, berpikir proporsi, berpikir koordinasi, berpikir keseimbangan mekanik, berpikir probabilitas, berpikir korelasi, berpikir kompensasi dan berpikir konservasi.

Daftar Pustaka (Bisa diposting bila diperlukan)

5 Balasan ke HAKIKAT PENALARAN

  1. Rin-rin LoveLy Rinah mengatakan:

    salam…
    mohon maaf sebelumnya apakah bisa sy minta sumber atau daftar pustakanya pak? kebetulan penelitian saya berkaitan dengan berpikir formal. saya agak kesusahan mencari sumbernya. terimah kasih.

  2. sri mengatakan:

    boleh mnta daftar pustakanya pak?

  3. rofiq mengatakan:

    apakah dengan pembelajaran yg mengacu pd pembelajaran kontekstual dpt membantu meningkatkan kemampuan penalaran siswa?

  4. widi mengatakan:

    Bagus materinya mas. tetapi bisa ngga diposting juga sekalian cara mengukur atau mengetahui tingkat penalaran siswa dari observasi?mhon infonya… trims

    • fisika21 mengatakan:

      Trmksh sdh mengunjungi Fenomena Fisika. Ada sebuah tes baku untuk mengukur tingkat penalaran siswa yang sudah teruji reliabilitas dan validitasnya, dinamakan TOLT (test of logical thinking), selain itu ada juga GALT…. coba searching aja di google dengan kata kunci tersebut. Trmksh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: