HAKIKAT IPA, HAKIKAT PENDIDIKAN IPA DAN INKUIRI

19 September 2015

HAKIKAT SAINS (IPA)

Secara etimologi kata sains berasal dari bahasa latin, yaitu scientia yang berarti pengetahuan atau knowlegde (Fisher, 1975). Sains merupakan rangkaian konsep dan skema konseptual yang saling berhubungan yang dikembangkan dari hasil eksperimen dan observasi, serta sesuai dengan eksperimen dan observasi berikutnya (Jenkins, 1974), merupakan struktur bangunan dari fakta-fakta (Chalmer, 1980), merupakan tubuh dari pengetahuan (body of knowledge) yang dibentuk melalui proses inkuiri yang terus menerus (Fisher, 1975; Zuhdan dalam Istiyono, 2010). Sains pada hakikatnya merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuiri secara terus-menerus yang melibatkan operasi mental, keterampilan dan strategi dengan dilandasi sikap ingin tahu, keteguhan hati, dan ketekunan yang dilakukan untuk menyingkap alam semesta, serta dapat diuji kembali kebenarannya. Dengan demikian paling tidak ada tiga komponen yang terkandung pada hakikat sains, yaitu (a) kumpulan konsep, prinsip, hukum dan teori, (b) proses ilmiah baik secara fisik maupun mental dalam mencermati gejala alam termasuk juga penerapannya, dan (c) sikap keteguhan hati, keingintahuan dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam.

Baca entri selengkapnya »


Energi Listrik dari Urin

7 Mei 2013

Urin bisa menjadi bahan bakar yang melimpah untuk pembangkit listrik, demikian menurut para ilmuwan Inggris dalam studi yang pertama dari jenisnya. Para peneliti dari University of the West of England, Bristol, telah mendeskripsikan sebuah cara langsung dalam menghasilkan listrik dari urin dengan menggunakan Sel-sel Bahan Bakar Mikroba (MFC). Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal terbaru Royal Society of Chemistry, Physical Chemistry Chemical Physics. Baca entri selengkapnya »


PRAKTIKUM VIRTUAl BERBASIS SIMULASI KOMPUTER

12 April 2013

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang begitu pesat  banyak mempengaruhi kehidupan manusia diberbagai negara termasuk di Indonesia. Kemajuan IPTEK akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan sektor kehidupan masyarakat lainnya. Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kemajuan IPTEK, anggota masyarakat Indonesia haruslah berkualitas, dalam arti memiliki kemampuan berpikir, cara hidup, kemampuan berkomunikasi dan sikap yang baik. Setiap anggota masyarakat Indonesia dituntut untuk “melek” sains, karena sesungguhnya kemajuan di bidang teknologi itu terjadi akibat perkembangan di bidang sains. Baca entri selengkapnya »


Keterampilan Proses Sains (Bag 2)

21 Oktober 2012

Indikator Keterampilan Proses Sains

Istilah keterampilan proses sains dipopulerkan melalui proyek kurikulum Science-A Process Approach (SAPA), keterampilan proses sains (Science Process Skills) dapat diartikan sebagai satu set keterampilan yang dapat ditransfer dan menggambarkan kebiasaan seorang peneliti (Scientist). SAPA mengelompokkan keterampilan proses sains menjadi dua kelompok yaitu keterampilan proses sains dasar (Basic Science Process Skills) yang terdiri dari mengamati (observing), menyimpulkan (inferring), mengukur (measuring), mengkomunikasikan (communicating), mengklasifikasi (classifying), meramalkan (predicting) dan keterampilan proses sains terintegrasi (Integrated Science Process Skills) yang terdiri dari mengontrol variabel (controlling varables), mendefinisikan secara operasional (defining operationally), merumuskan hipotesis (formulating hypotheses), menginterpretasi data (interpreting data), melakukan percobaan (experimenting) dan memformulasikan model (formulating models) (Padilla, 1990). Sedangkan Rustaman (2005) tidak menglompokkan jenis-jenis keterampilan proses sains secara lebih spesifik. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan adanya perbedaan standar pendidikan sains lokal, daerah ataupun nasional (Ash, 2000).

Baca entri selengkapnya »


Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

21 Oktober 2012

Model pembelajaran discovery pertama kali dikemukakan oleh Jerome Bruner, beliau berpendapat bahwa belajar penemuan (discovery learning) sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, siswa belajar terbaik melalui penemuan sehingga berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benarbenar bermakna. Dengan model pembelajaran discovery pengetahuan yang diperoleh siswa akan lama diingat, konsep-konsep jadi lebih mudah diterapkan pada situasi baru dan meningkatkan penalaran siswa (Dahar, 1989:103). Beberapa ahli berpendapat tentang belajar penemuan atau discovery, diantaranya:

Baca entri selengkapnya »