PANDANGAN ALTERNATIF TERHADAP EVALUASI PROGRAM (ALTERNATIVE VIEWS OF EVALUATION)

1 Maret 2016

M.Sutarno dan Andi Wahyudi

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang evaluasi sangat penting bagi semua praktisi sebagai bentuk profesionalismenya. Walaupun evaluasi ini penting, tetapi sulit untuk menemukan makna atau sekedar definisi yang hakiki bagi evaluasi. Ketika kita mempelajari buku tentang evaluasi selalu ditemukan makna atau definisi evaluasi yang berbeda dari setiap buku. Evaluasi sering disandingkan dengan pengukuran (measurement) atau penilaian (assesment), walaupun pada hakikatnya satu sama lain memiliki perbedaan. Tanpa disadari sebenarnya setiap orang telah melakukan evaluasi, akan tetapi jika mereka ditanya tentang makna atau definisi tentang evaluasi mereka akan kebingungan.

Baca entri selengkapnya »


STANDAR KOMPETENSI GURU IPA

9 Februari 2016

Oleh : M. Sutarno, S.Si, M.Pd

I. PENDAHULUAN

Banyak pihak yang mengkaitkan kemerosotan bangsa kita dengan pendidikan, karena mutu pendidikan yang rendah menyebabkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka interaksi belajar mengajar harus berkualitas. Salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses belajar mengajar adalah guru. Usaha peningkatan mutu pendidikan harus dimulai dari usaha peningkatan mutu guru. Keberadaan guru yang profesional sangatlah penting. Salah satu aspek profesionalitas guru adalah kompetensi guru.

Kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.

Baca entri selengkapnya »


ASESMEN PORTOFOLIO

9 Februari 2016

Oleh : M.Sutarno S.Si, M.Pd

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Era global yang menuntut peningkatakan daya saing dalam kompetisi yang terbuka telah menimbulkan orientasi baru dalam pendidikan. Buchori (2000) menekankan bahwa pendidikan yang bermakna dapat menolong kita, sedangkan pendidikan yang tidak bermakna hanya menjadi beban hidup. Karena itu kebermaknaan belajar menjadi isu penting dalam pendidikan seperti yang telah dilaporkan oleh the International Commission on Education for the Twenty-first Century (Delors, 1995), suatu komisi yang dibentuk oleh UNESCO dan bertugas mengkaji pendidikan yang tepat untuk abad ke-21. Laporan itu mengatakan bahwa untuk memenuhi tuntutan kehidupan masa depan, pendidikan tradisional yang sangat quantitatively-oriented and knowledge-based tidak lagi relevan. Melalui pendidikan, setiap individu mesti disediakan berbagai kesempatan belajar sepanjang hayat; baik untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap maupun untuk dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang kompleks dan penuh dengan saling ketergantungan. Untuk itu, pendidikan yang relevan harus bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, yakni pebelajar mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, yakni pebelajar menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, yakni pebelajar belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together, yakni pebelajar belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia.

Baca entri selengkapnya »


HAKIKAT IPA, HAKIKAT PENDIDIKAN IPA DAN INKUIRI

19 September 2015

HAKIKAT SAINS (IPA)

Secara etimologi kata sains berasal dari bahasa latin, yaitu scientia yang berarti pengetahuan atau knowlegde (Fisher, 1975). Sains merupakan rangkaian konsep dan skema konseptual yang saling berhubungan yang dikembangkan dari hasil eksperimen dan observasi, serta sesuai dengan eksperimen dan observasi berikutnya (Jenkins, 1974), merupakan struktur bangunan dari fakta-fakta (Chalmer, 1980), merupakan tubuh dari pengetahuan (body of knowledge) yang dibentuk melalui proses inkuiri yang terus menerus (Fisher, 1975; Zuhdan dalam Istiyono, 2010). Sains pada hakikatnya merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuiri secara terus-menerus yang melibatkan operasi mental, keterampilan dan strategi dengan dilandasi sikap ingin tahu, keteguhan hati, dan ketekunan yang dilakukan untuk menyingkap alam semesta, serta dapat diuji kembali kebenarannya. Dengan demikian paling tidak ada tiga komponen yang terkandung pada hakikat sains, yaitu (a) kumpulan konsep, prinsip, hukum dan teori, (b) proses ilmiah baik secara fisik maupun mental dalam mencermati gejala alam termasuk juga penerapannya, dan (c) sikap keteguhan hati, keingintahuan dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam.

Baca entri selengkapnya »


Energi Listrik dari Urin

7 Mei 2013

Urin bisa menjadi bahan bakar yang melimpah untuk pembangkit listrik, demikian menurut para ilmuwan Inggris dalam studi yang pertama dari jenisnya. Para peneliti dari University of the West of England, Bristol, telah mendeskripsikan sebuah cara langsung dalam menghasilkan listrik dari urin dengan menggunakan Sel-sel Bahan Bakar Mikroba (MFC). Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal terbaru Royal Society of Chemistry, Physical Chemistry Chemical Physics. Baca entri selengkapnya »