<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>FENOMENA FISIKA</title>
	<atom:link href="http://fisika21.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fisika21.wordpress.com</link>
	<description>Informasi Pendidikan &#38; Sains Terkini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 15:06:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fisika21.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>FENOMENA FISIKA</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fisika21.wordpress.com/osd.xml" title="FENOMENA FISIKA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fisika21.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>APLIKASI ACTIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/aplikasi-active-learning-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/aplikasi-active-learning-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 04:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak.  Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=573&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan <em>active learning</em> (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak.  Metode tersebut antara lain <em>Trading Place</em> (tempat-tempat perdagangan), <em>Who is in the Class</em>? (siapa di kelas), <em>Group Resume</em> (resume kelompok), <em>Prediction</em> (prediksi), TV Komersial, <em>the company you keep</em> (teman yang anda jaga), <em>Question Student Have</em> (Pertanyaan Peserta Didik), <em>Reconnecting</em> (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.</p>
<p><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> PERTANYAAN PESERTA DIDIK (<em><strong>QUESTION STUDENT HAVE</strong></em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan anak didik sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-573"></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bagikan kartu kosong kepada siswa</li>
<li>Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang dipelajari</li>
<li>Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika pertanyaan yang sama yang mereka ajuka</li>
<li>Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan. Jawab masing-masing pertanyaan tersebut dengan : Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani</li>
<li>Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat</li>
<li>Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan</li>
<li>Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara terbanyak</li>
<li>Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan berikutnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Variasi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Jika kelas terlalu besar dan memakan waktu saat memberikan kartu pada siswa, buatlah kelas menjadi sub- kelompok dan lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan</li>
<li>Meskipun meminta pertanyaan dengan kartu indeks, mintalah peserta menulis harapan mereka dan atau mengenai kelas, topik yang akan anda bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan mereka amati.</li>
<li>Variasi dapat pula dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut, sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi pertanyaan mana yang mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan anak terhadap objek yang dipertanyakan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"> <strong>MENGHUBUNGKAN KEMBALI<em>  </em>(<em>RECONNECTING</em>) </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode reconnecting (menghubungkan kembali) ini digunakan untuk mengembalikan perhatian anak didik pada pelajaran setelah beberapa saat tidak melakukan aktivitas tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ajaklah anak didik kembali kepada pelajaran. Jelaskan pada anak didik bahwa menghabiskan beberapa menit untuk mengaitkan kembali pelajaran dengan pengetahuan anak akan memberi makna yang berarti.</li>
<li>Tentukan satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada para peserta didik: Sudahkah anda membaca / berpikir /melakukan sesuatu yang dirangsang oleh pelajaran terakhir kita ?, Apa saja yang masih anda ingat tentang pelajaran terakhir kita ? apa saja yang masih bertahan dalam diri anda ?, Pengalaman menarik apa yang telah anda miliki di antara pelajaran-pelajaran?, Apa saja yang ada dalam pikiran anda sekarang (misal nya sebuah kekhawatiran) yang mungkin mengganggu kemampuan anda untuk memberi perhatian pebuh terhadap pelajaran hari ini?, Bagaimana perasaan anda hari ini? (Dapat dilakukan dengan memberikan metafor, seperti “Saya merasa bagaikan pisang busuk.</li>
<li>Dapatkan respons dengan menggunakan salah satu format, seperti sub-kelompok atau pembicara dengan urutan panggilan berikutnya</li>
<li>Hubungkan dengan topik sekarang</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Variasi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Lakukan sebuah ulasan tentang pelajaran yang telah lalu</li>
<li>Sampaikan dua pertanyaan, konsep atau sejumlah informasi yang tercakup dalam pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk memberikan suara terhadap sesuatu yang paling mereka sukai agar anda mengulas pelajaran tersebut. Ulaslah pertanyaan, konsep, atau informasi yang menang.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> PENGAJARAN SINERGETIK (<em>SYNERGETIC TEACHING</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bagi kelas menjadi dua kelompok</li>
<li>Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran</li>
<li>Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.</li>
<li>Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>KARTU SORTIR (<em>CARD SORT</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.</li>
<li>Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.</li>
<li>Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.</li>
<li>Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>TRADING PLACE</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar menukar pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau pemecahan baru terhadap berbagai masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol>
<li>Beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi para peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)</li>
<li>Mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari hal berikut : Sebuah nilai yang mereka pegang, sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini, sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang telah anda tentukan, sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari mata pelajaran, sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan anda,  sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran.</li>
<li>Mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil membaca tiap catatan milik peserta yang lain</li>
<li>Kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah diletakkan pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain. Pertukaran itu hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah nilai, pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta tertentu dalam waktu yang singkat. Buatlah aturan bahwa semua pertukaran harus menjadi dua jalan. Doronglah peserta didik untuk membuat sebanyak mungkin pertukaran yang mereka sukai.</li>
<li>Kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian. (misalnya : Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia telah membuat catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya menyukai perjalanan ke sana karena saya mempunyai nenek moyang yang berasal dari Hongaria dan Ukraina</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>WHO IN THE CLASS?</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini digunakan untuk memecahkan kebekuan suasana dalam kelas. Teknik ini lebih mirip dengan perburuan terhadap teman-teman di kelas daripada terhadap benda. Strategi ini membantu perkembangan pembangunan team (team building) dan membuat gereakan fisik berjalan tepat pada permulaan gerakan fisik berjalan tepat pada permulaan sebuah perjalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buatlah 6 sampau 10 pertanyaan deskriptif untuk melengkapi frase : Carilah seseorang yang………: Suka/senang menggambar,  Mengetahui apa yang dimaksud rebonding, mengira bahwa hari ini akan huja, Berperilaku baik, Telah mengerjakan PR, Punya semangat kuat dalam belajar, dll</li>
<li>Bagikan pernyataan-pernyataan itu kepada peserta didik dan berikah beberapaperintah berikut :<br />
Kegiatan ini seperti sebuah perburuan binatang, kecuali bahwa anda mencari orang sebagai pengganti benda. Ketika saya berkata “mulai” kelilingilah ruangan dengan mencari orang-orang yang cocok dengan pernyataan ini. Anda bisa menggunakan masing-masing orang hanya untuk sebuah pernyataan, meskipun dia memiliki kecocokan lebih dari satu. Tulislah nama orang tersebut</li>
<li>Ketika kebanyakan peserta didik telah selesai, beri tanda stop berburu dan kumpulkan kembali ke kelas.</li>
<li>Guru dapat menawarkan sebuah hadiah penghargaan teradap orang yang selesai pertama kali. Yang lebih penting surveilah kelas tersebut. Kembangkan diskusi singkat tentang beberapa bagian yang mungkin merangsang perhatian dalam topik pelajaran.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> RESUME KELOMPOK</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Teknik resume secara khusus menggambarkan sebuah prestasi , kecakapan dan pencapaian individual, sedangkan resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk membantu para peserta didi lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok yang para anggotanya telah mengenal satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bagilah peserta didik ke dalam kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota</li>
<li>beritahukan kelas itu bahwa kelas berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat</li>
<li>sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume kelompok.</li>
<li>berikan kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume mereka. Resume tersebut seharusnya memasukkan beberapa informasi yang bisa menjual kelompok tersebut secara keseluruhan. Data yang disertakan bisa berupa : latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah yang dimasuki pengetahuan tentang isi pelajaran pengalaman kerja posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan<br />
hobby, bakat, perjalanan, keluarga prestasi-prestasi</li>
<li>ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PREDIKSI (<em>PREDICTION</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini dapat membantu para siswa menjadi kenal satu sama lain</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>bentuklah sub-sub kelompok dari 3 sampai 4 orang siswa (yang relatif masih asing satu sama lain)</li>
<li>beritahukan pada peserta didik bahwa pekerjaan mereka adalah meramalkan bagaimana masing-masing orang dalam kelompoknya akan menjawab pertanyaan tertentu yang telah dipersiapkan untuk mereka, seperti :   kamu menyukai musik apa?, Apa di antara kegiatan waktu luang favorit anda?,  Berapa jam kamu bisa tidur malam?, Berapa saudara kandung yang kamu miliki dan kamu berada pada urutan berapa?, Di mana kamu dibesarkan?,   Seperti apa kamu ketika masih kecil?,       Apakah orang tua kamu bersikap toleran atau ketat?, Pekerjaan apa yang telah kamu miliki?</li>
<li>mintalah sub-sub kelompok mulai dengan memilih satu orang sebagaoi subyek pertamanya. Dorong anggota kelompok se spesifik mungkin dalam prediksi mereka mengenai orang itu. Beritahukan mereka agar tidak takut tentang tebakan-tebakan yang berani.</li>
<li>mintalah masing-masing anggota kelompok bergiliran sebagai orang fokus/utama.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>TV KOMERSIAL</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini dapat menghasilkan pembangunan team (team building) yang cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">
Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bagilah peserta didik ke dalam team yang tidak lebih dari 6 anggota</li>
<li>Mintalah team-team membuat iklan TV 30 detik yang meniklankan masalah pelajaran dengan menekankan nilainya bagi meraka atau bagi dunia</li>
<li>Iklan hendaknya berisi sebuah slogan (sebagai contoh “Lebih baik hidup dengan ilmu Kimia”) dan visual (misalnya, produk-produk kimia terkenal)</li>
<li>Jelaskan bahwa konsep umum dan sebuah outline dari iklan tersebut sesuai. Namun jika team ingin memerankan iklannya, hal tersebut baik juga.</li>
<li>Sebelum masing-masing team mulai merencanakan iklannya, maka diskusikan karakteristik dari beberapa iklan yang saat ini terkenal untuk merangsang kreatifitas (misalnya penggunaan sebuah kepribadian terkenal, humor, perbandingan terhadap persaingan, daya tarik sex)</li>
<li>Mintalah masing-masing team menyampaikan ide-idenya. Pujilah kreatifitas setiap orang.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>THE COMPANY YOU KEEP</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode ini digunakan untuk membantu siswa sejak awal agar lebih mengenal satu sama lain aktivitas kelas bergerak dengan cepat dan amat menyenangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buatlah datar kategori yang anda pikir mungkin tepat dalam sebuah kegiatan untuk lebih mengenal pelajaran yang anda ajar. Kategori-kategori tersebut meliputi :   bulan kelahiran,  orang yang suka atau tidak suka suatu objek,    kesukaan seseorang,    tangan yang digunakan untuk menulis,   warna sepatu,   setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan opini tentang sebuah isi hangat (misalnya “Jaminan pemeliharaan kesehatan hendaknya bersifat universal”). Catatan: Kategori dapat pula dikaitkan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan</li>
<li>Bersihkan ruang lantaiagar peserta didik dapat berkeliling dengan bebas</li>
<li>Sebutkan sebuah kategori. Arahkan para peserta didik untuk menentukan secepat mungkin semua orang yang akan mereka kaitkan dengan kategori yang ada. Misal para penulis dengan tangan kanan dan penulis dengan tangan kiri akan terpisah menjadi dua bagian.</li>
<li>Ketika para peserta didik telah membentuk kelompok-kelompok yang tepat, mintalah mereka berjabatan tangan dengan teman yang mereka jaga. Ajaklah semua untuk mengamati dengan tepat berapa banyak otang yang ada di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.</li>
<li>Lanjutkan segera pada kategori berikutnya. Jagalah peserta didik tetap bergerak dari kelompok ke kelompok ketika anda mengumumkan kategori-kategori baru.</li>
<li>Kumpulkan kembali seluruh kelas. Diskusikan perbedaan peserta didik yang muncul dari latihan itu.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/573/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=573&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/aplikasi-active-learning-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ACTIVE LEARNING</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/active-learning/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/active-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 03:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=570&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-570"></span><br />
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons.</li>
<li>law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar</li>
<li>law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"> Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons, sehingga respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan memberi kesan yang kuat pula pada diri anak didik, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya. Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut. Akibat dari hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam memory mereka dalam waktu yang lama (longterm memory), sehingga mereka mampu merecall apa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa mengalami hambatan apapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)<br />
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembelajaran konvensional </strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Berpusat pada guru</li>
<li>Penekanan pada menerima pengetahuan</li>
<li>Kurang menyenangkan</li>
<li>Kurang memberdayakan semua indera dan potensi anak didik</li>
<li>Menggunakan metode yang monoton</li>
<li>Kurang banyak media yang digunakan</li>
<li>Tidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembelajaran Active learning</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Berpusat pada anak didik</li>
<li>Penekanan pada menemukan</li>
<li>Sangat menyenangkan</li>
<li>Membemberdayakan semua indera dan potensi anak didik</li>
<li>Menggunakan banyak metode</li>
<li>Menggunakan banyak media</li>
<li>Disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah adA</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.<br />
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.  Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif. Menurut L. Dee Fink, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)</p>
<p><strong>Dialog dengan Diri (Dialogue with Self)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.</p>
<p><strong>Dialog dengan orang lain (Dialogue with Others)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue“</p>
<p>Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu., untuk melibatkan siswa ke dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara kreatif, misalnya mengajak siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya. baik yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui interaksi langsung atau secara tertulis.</p>
<p><strong>Mengamati (Observing)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Misalnya, guru olah raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya,</p>
<p style="text-align:justify;">Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat musik gitar, dan sebagainya. Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain, terkait dengan topik yang sedang dipelajari, misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.</p>
<p>Tindakan mengamati dapat dilakukan secara “langsung” atau “tidak langsung.” Pengamatan langsung artinya siswa diajak mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton film (video). Misalnya unruk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang situasi kehidupan di sebuah bank.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Melakukan (Doing)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini menunjuk pada proses pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas, L. Dee Fink menyampaikan 3 (tiga) saran, sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memperluas jenis pengalaman belajar</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Buatlah kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala.  Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain, di luar teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).  Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya.  Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Mengambil manfaat dari “Power of Interaction”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keempat bentuk belajar di atas, masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk belajar tersebut (Dialogue with Self, Dialogue with Others, Observing, dan Doing) dikombinasikan secara tepat, maka akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pendukung Problem-Based Learning menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan kegiatan “Doing”, dimana guru terlebih dahulu mengajukan berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya. Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan rekan-rekan sekelompoknya (Dialogue with Others) untuk menemukan cara-cara terbaik guna memecahkan masalah nyata yang telah diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi, selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar sesuai pilihannya, termasuk didalamnya melakukan Dialogue with Self dan Observing.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Membuat dialektika antara pengalaman dan dialog</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Melalui pengalaman (baik melalui doing dan observing) siswa memperoleh perspektif baru tentang apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui dialog dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi berbagai makna dan pemahamannya.</p>
<p>Untuk menyempurnakan prinsip interaksi sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/570/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=570&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2011/07/25/active-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sintaks Pembelajaran Karakter di Kelas</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/sintaks-pembelajaran-karakter-di-kelas/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/sintaks-pembelajaran-karakter-di-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 03:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[TAHAP PENDAHULUAN Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru: menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Contoh alternatif : Guru datang tepat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=557&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>TAHAP PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru: menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;</li>
<li>mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;</li>
<li>menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;</li>
<li>menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Contoh alternatif :</p>
<ol>
<li><em> </em>Guru datang tepat waktu <em>(contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)</em></li>
<li>Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas <em>(contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli)</em></li>
<li><em> </em>Berdoa sebelum membuka pelajaran <em>(contoh nilai yang ditanamkan: religius)</em></li>
<li><em> </em>Mengecek kehadiran siswa <em>(contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)</em></li>
<li>Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainny <em>(contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli)</em></li>
<li><em> </em>Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu <em>(contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)</em></li>
<li><em> </em>Menegur siswa yang terlambat dengan sopan <em>(contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli)</em></li>
<li><em> </em>Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter<em> </em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-557"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KEGIATAN INTI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai permen 41 tahun 2007 Pembelajatan melalui 3 tahapan yakni :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. </strong><strong>Eksplorasi (</strong>peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa)</p>
<ol>
<li>Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber <em>(contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir</em> <em>logis, kreatif, kerjasama)</em></li>
<li>Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain <em>(contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)</em></li>
<li>Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya <em>(contoh nilai yang ditanamkan:</em> <em>kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan)</em>.</li>
<li>Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran <em>(contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)</em></li>
<li>Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studi atau lapangan <em>(contoh nilai yang ditanamkan: <strong>mandiri, kerjasama, kerja keras</strong>).</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. </strong><strong>Elaborasi (</strong>peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam):</p>
<ol>
<li>Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugastugas tertentu yang bermakna <em>(contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif,</em> <em>logis)</em></li>
<li>Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis <em>(contoh nilai yang</em> <em>ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)</em></li>
<li>Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut <em>(contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri,</em> <em>kritis)</em></li>
<li>Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif <em>(contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)</em></li>
<li><em> </em>Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar <em>(contoh nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras,menghargai)</em></li>
<li><em></em>Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan<em> </em>maupun tertulis, secara individual maupun kelompok <em>(contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)</em></li>
<li><em></em>Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun<em> </em>kelompok <em>(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)</em></li>
<li><em></em>Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta<em> </em>produk yang dihasilkan <em>(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)</em></li>
<li><em></em>Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan<em> </em>kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik <em>(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>c. </em></strong><strong>Konfirmasi (</strong>peserta didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan, atau keberterimaan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa)</p>
<ol>
<li>Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik <em>(contoh nilai yang</em> <em>ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)</em></li>
<li>Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber <em>(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)</em></li>
<li>Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan <em>(contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan</em> <em>dan kekurangan</em><em>)</em></li>
<li>Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ul>
<li>berfungsi <strong>sebagai narasumber dan fasilitator </strong>dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar <em>(contoh nilai yang ditanamkan: <strong>peduli, santun</strong>)</em>;</li>
<li>membantu <strong>menyelesaikan masalah </strong><em>(contoh nilai yang ditanamkan: <strong>peduli</strong>)</em>;</li>
<li>memberi acuan agar peserta didik <strong>dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi </strong><em>(contoh nilai yang ditanamkan: <strong>kritis)</strong></em>;</li>
<li><strong>memberi informasi untuk bereksplorasi </strong>lebih jauh <em>(contoh nilai yang ditanamkan<strong>: cinta ilmu</strong>)</em>; dan</li>
<li><strong>memberikan motivasi </strong>kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif <em>(contoh nilai yang ditanamkan: <strong>peduli, percaya diri</strong>)</em>.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kegiatan penutup, guru:</p>
<ol>
<li>bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan</li>
<li>pelajaran <em>(contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis)</em>;</li>
<li>melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan</li>
<li><em></em>secara konsisten dan terprogram <em>(contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui</em></li>
<li><em>kelebihan dan kekurangan</em><em>)</em>;</li>
<li>memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran <em>(contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)</em>;</li>
<li>merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; danmenyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar internalisasi nilai-nilai terjadi dengan lebih intensif selama tahap penutup.</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Selain simpulan yang terkait dengan aspek pengetahuan, agar peserta didik difasilitasi membuat pelajaran moral yang berharga yang dipetik dari pengetahuan/keterampilan dan/atau proses pembelajaran yang telah dilaluinya untuk memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan pada pelajaran tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Penilaian tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada perkembangan karakter mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Umpan balik baik yang terkait dengan produk maupun proses, harus menyangkut baik kompetensi maupun karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif yang ditunjukkan oleh siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Karya-karya siswa dipajang untuk mengembangkan sikap saling menghargai karya orang lain dan rasa percaya diri.</p>
<p style="text-align:justify;">5.    Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok diberikan dalam rangka tidak hanya terkait dengan pengembangan kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.</p>
<p style="text-align:justify;">6.    Berdoa pada akhir pelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Faktor lain yang perlu diperhatikan:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Guru harus merupakan seorang model dalam karakter</strong>. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilainilai karakter yang hendak ditanamkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Guru harus memberikan <em>reward </em>kepada siswa yang menunjukkan karakter </strong>yang</p>
<p style="text-align:justify;">dikehendaki dan <strong>pemberian <em>punishment </em></strong>kepada mereka yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. <em>Reward </em>dan <em>punishment </em>yang dimaksud dapat berupa ungkapan <strong>verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat </strong>(misalnya<em> classroom award</em>) atau <strong>catatan peringatan, </strong>dan sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Hindari mengolok-olok siswa </strong>yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan dan/atau berpendapat kurang tepat/relevan. Pada sejumlah sekolah ada kebiasaan diucapkan ungkapan <em>Hoo … </em>oleh siswa secara serempak saat ada teman merekayang terlambat dan/atau menjawab pertanyaan atau bergagasan kurang berterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebiasaan tersebut harus dijauhi untuk menumbuhkembangkan sikap bertanggung jawab, empati, kritis, kreatif, inovatif, rasa percaya diri, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Guru memberi umpan balik </strong>dan/atau penilaian kepada siswa, guru <strong>harus mulai</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>dari aspek-aspek positif </strong>atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya,</p>
<p style="text-align:justify;">dan/atau sikap siswa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Guru menunjukkan kekurangan-</strong><strong>kekurangannya dengan ‘hati’.</strong>Dengan cara ini</p>
<p style="text-align:justify;">sikap-sikap saling menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun,dan sebagainya akan tumbuh subur</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/557/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=557&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/sintaks-pembelajaran-karakter-di-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter (Bag. 2)</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/pendidikan-karakter-bag-2/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/pendidikan-karakter-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 03:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=555&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-555"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis <em>(hard skill)</em> saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain <em>(soft skill)</em>. Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh <em>hard skill</em> dan sisanya 80 persen oleh <em>soft skill</em>. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan <em>soft skill</em> daripada <em>hard skill</em>. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/" target="_blank">Pendidikan karakter</a> adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (<em>stakeholders</em>) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan <em>grand design</em> pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. <em>Grand design</em> menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati <em>(Spiritual and emotional development)</em>, Olah Pikir <em>(intellectual development),</em> Olah Raga dan Kinestetik  <em>(Physical and kinestetic development),</em> dan Olah Rasa dan Karsa (<em>Affective and Creativity development). </em>Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada <em>grand design</em> tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif  tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/" target="_blank"><em>Pendidikan karakter </em></a><em>dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta.  Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai <em>best practices</em>, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengamalkan      ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;</li>
<li>Memahami      kekurangan dan kelebihan diri sendiri;</li>
<li>Menunjukkan      sikap percaya diri;</li>
<li>Mematuhi      aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;</li>
<li>Menghargai      keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam      lingkup nasional;</li>
<li>Mencari      dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain      secara logis, kritis, dan kreatif;</li>
<li>Menunjukkan      kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;</li>
<li>Menunjukkan      kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;</li>
<li>Menunjukkan      kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;</li>
<li>Mendeskripsikan      gejala alam dan sosial;</li>
<li>Memanfaatkan      lingkungan secara bertanggung jawab;</li>
<li>Menerapkan      nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan      bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik      Indonesia;</li>
<li>Menghargai      karya seni dan budaya nasional;</li>
<li>Menghargai      tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;</li>
<li>Menerapkan      hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan      baik;</li>
<li>Berkomunikasi      dan berinteraksi secara efektif dan santun;</li>
<li>Memahami      hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;      Menghargai adanya perbedaan pendapat;</li>
<li>Menunjukkan      kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;</li>
<li>Menunjukkan      keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa      Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;</li>
<li>Menguasai      pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;</li>
<li>Memiliki      jiwa kewirausahaan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan  karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/555/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=555&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/pendidikan-karakter-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Urgensi Pendidikan Karakter (Bag.1)</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/urgensi-pendidikan-karakter-bag-1/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/urgensi-pendidikan-karakter-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 03:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof . Suyanto Ph.D Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=552&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><em>Oleh: Prof . Suyanto Ph.D</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.</p>
<p style="text-align:justify;">Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).</p>
<p style="text-align:justify;">Memahami Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-552"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dampak Pendidikan Karakter</p>
<p style="text-align:justify;">Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>sumber : Ditjen Mandikdasmen – Kementerian Pendidikan Nasional</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=552&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2011/02/11/urgensi-pendidikan-karakter-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Laut : Bahan Bakar Alternatif ?</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/29/air-laut-bahan-bakar-alternatif/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/29/air-laut-bahan-bakar-alternatif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Oct 2010 06:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[Pepatah lama yang mengatakan bahwa air adalah lawan dari api mungkin sudah tidak relevan lagi digunakan pada zaman modern sekarang. Hal ini secara tidak sengaja ditemukan oleh seorang peneliti dari USA yang bernama John Kanzius, 63 tahun, yang telah berhasil menciptakan alternatif bahan bakar dari air laut. Secara kebetulan, teknisi broadcast ini menemukan sesuatu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=547&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pepatah lama yang mengatakan bahwa air adalah lawan dari api mungkin sudah tidak relevan lagi digunakan pada zaman modern sekarang. Hal ini secara tidak sengaja ditemukan oleh seorang peneliti dari USA yang bernama John Kanzius, 63 tahun, yang telah berhasil menciptakan alternatif bahan bakar dari air laut. Secara kebetulan, teknisi broadcast ini menemukan sesuatu yang menakjubkan. Pada kondisi yang tepat, air laut dapat menyala dengan temperatur yang luar biasa. Dengan sedikit modifikasi, tidak menutup kemungkinan di masa depan, hal ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan bakar untuk kendaraan bermotor.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-547"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan Kanzius menjadi inspirasi yang mengejutkan, bermula ketika dia di diagnosis menderita leukimia pada tahun 2003. Dihadapkan dengan treatment kemoterapi yang melelahkan, dia memilih mencoba untuk menemukan alternatif yang lebih baik dalam menghancurkan sel-sel kanker. Kemudian muncul alat Radio Frequency Generator (RFG), sebuah mesin yang menghasilkan gelombang radio dan memancarkannya ke suatu area tertentu. Kanzius menggunakan RFG untuk memanaskan pertikel metal kecil yang dimasukkan ke dalam tumor, menghancurkan sel tumor tanpa merusak sel yang normal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisannya yang berjudul “Observations of polarised RF radiation catalysis of dissociation of H2O-NaCl solutions”, Kanizius mengatakan bahwa, <a title="larutan" href="http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/cairan_dan_larutan/larutan/">larutan</a> garam (H2O-NaCl dengan konsentrasi 1 – 30%) akan menghasilkan gas <a title="hidrogen" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/hidrogen/">hidrogen</a> dan oksigen yang dapat menimbulkan nyala api, ketika dikenai gelombang radio sebesar 13,56 MHz pada suhu kamar.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, apa hubungannya antara kanker dengan bahan bakar air laut? Selama percobaannya dengan RFG, dia menemukan bahwa RFG dapat menyebabkan air yang berada di sekitar test tube mengembun. Jika RFG dapat menyebabkan air mengembun, seharusnya ini dapat juga memisahkan garam dari air laut. Mungkin, ini dapat digunakan untuk men-desalinitasi air laut. Sebuah peribahasa tua tentang laut, &#8220;Air, air dimana-mana, dan tidak satu tetes pun dapat diminum&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa negara mengalami kekeringan dan sebagian besar rakyatnya menderita kehausan, padahal 70% bumi adalah samudera yang notabene adalah air. Suatu metode yang efektif untuk menghilangkan garam dari air laut dapat menyelamatkan nyawa yang tak terhitung. Maka tidaklah heran jika Kanzius mencoba alat RFG-nya untuk tujuan desalinitasi air laut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada test pertamanya, dia melihat efek samping yang mengejutkan. Ketika dia arahkan RFG-nya pada tabung yang berisi air laut, air itupun seperti mendidih. Kanzius lalu melakukan test kembali. Saat ini dengan kertas tisue yang terbakar dan menyentuhkannya ke dalam air laut yang sedang di tembak oleh RFG. Dia sangat terkejut, air laut dalam tabung terbakar dan tetap menyala sementara RFG dinyalakan. Awalnya berita tentang eksperimen ini dianggap suatu kebohongan, tapi setelah para ahli kimia dari Penn State University melakukan percobaan ini, ternyata hal ini memang benar. RFG dapat membakar air laut. Nyala api dapat mencapai 3000 derajat Fahrenheit dan terbakar selama RFG dinyalakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin dalam benak kita timbul pertanyaan, bagaimanakah air laut dapat terbakar? Dan kenapa jika puntung rokok dilemparkan ke dalam laut tidak menyebabkan bumi meledak? Ini semua berhubungan dengan <a title="hidrogen" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/hidrogen/">Hidrogen</a>. Dalam keadaan normal, air laut mempunyai komposisi <a title="Natrium" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/natrium/">Natrium</a> Klorida (garam), Hidrogen, dan <a title="oksigen" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/oksigen/">Oksigen</a> (air) yang stabil. Gelombang radio dari RFG milik Kanzius mengacaukan kestabilan itu, memutuskan ikatan kimia yang terdapat dalam air laut. Penggunaan <a title="radiasi elektromagnetik" href="http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/spektrum_serapan_ultraviolet-tampak__uv-vis_/radiasi_elektromagnetik/">radiasi elektromagnetik</a> lemah yang berasal dari gelombang radio RFG mendisosiasi air menjadi hidrogen dan oksigen. Selain itu, spektral raman dari larutan garam menunjukkan bahwa adanya perubahan struktural pada struktur air yang terjadi sebelum dan sesudah pembakaran dilakukan. Hal ini melepaskan molekul hidrogen yang mudah menguap (volatil), dan panas yang keluar dari RFG memicu dan membakarnya dengan cepat. Jadi akankah di masa depan nanti mobil atau motor memakai air laut daripada bensin? Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Air Laut Sebagai Sumber Energi Alternatif</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman, Christian Friedrich Schönbein pada tahun 1838, sel bahan bakar telah berkembang dan menjadi salah satu sumber energi alternatif masa depan. Sel bahan bakar adalah alat yang menghasilkan energi listrik secara <a title="elektrokimia" href="http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/reaksi-anorganik/elektrokimia/">elektrokimia</a>. Seperti halnya sel elektrokimia, sel bahan bakar memiliki anoda dan katoda. Pada anoda terdapat bahan bakar gas <a title="hidrogen" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/hidrogen/">hidrogen</a>. Sedangkan pada katoda terdapat gas <a title="oksigen" href="http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/oksigen/">oksigen</a> yang digunakan sebagai oksidator. Hidrogen yang berasal dari anoda diubah menjadi ion hidrogen dan elektron. Pada katoda, oksigen direduksi dengan adanya elektron. Perbedaan potensial yang terjadi pada anoda dan katoda inilah yang  menghasilkan arus listrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sel bahan bakar telah menjadi salah satu fokus penelitian di negara- negara industri dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Dengan meningkatnya isu pemanasan global oleh gas rumah kaca, sel bahan bakar menawarkan energi ramah lingkungan yang tidak mengemisi gas CO2 sebagai penyumbang utama efek rumah kaca. Efisiensi sel bahan bakar secara teoritis dapat mencapai 100% adalah salah satu kelebihan yang tidak dapat dimiliki oleh pembangkit listrik dengan bahan bakar gas, minyak bumi dan batu bara yang menggunakan prinsip mesin Carnot. Dan yang terpenting adalah sumber bahan bakar yang melimpah, yaitu hidrogen. Dengan luas lautan mencapai dua pertiga permukaan bumi, air laut adalah salah satu sumber hidrogen yang tak terbatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkurangnya sumber daya minyak bumi dan tuntutan untuk mengurangi gas rumah kaca menjadikan sel bahan bakar ini suatu solusi energi alternatif utama guna mencegah krisis energi dan lingkungan dimasa yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=547&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/29/air-laut-bahan-bakar-alternatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lesson Study : Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/lesson-study-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/lesson-study-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 06:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=544&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-544"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang <em>Lesson Study,</em> yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (<em>teacher-centered</em>) dari pada bagaimana siswa belajar (<em>student-centered</em>), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok<em> laggard</em> (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, <em>Lesson Study </em>tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu<em> Lesson Study</em> dan bagaimana tahapan-tahapan dalam <em>Lesson Study</em>, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan <em>Lesson Study</em> lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Hakikat <em>Lesson Study</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Konsep dan praktik <em>Lesson Study</em> pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah <em>kenkyuu jugyo</em>. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan <em>kenkyuu jugyo</em> di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan <em>Lesson Study</em> tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang <em>Lesson Study</em> di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, <em>Lesson Study</em> dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Lesson Study</em> bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. <em>Lesson Study</em> bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam <em>Total Quality Management</em>, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. <em>Lesson Study</em> merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (<em>learning society</em>) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang <em>Lesson Study</em> sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan <em>mutual learning</em> untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp mengemukakan bahwa <em>Lesson Study</em> memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta <em>Lesson Study</em>; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari<em> Lesson Study</em>, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Tujuan      bersama untuk jangka panjang</em>. <em>Lesson study</em> didahului adanya      kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan      dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas,      misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan      kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa,      pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa      dalam belajar, dan sebagainya.</li>
<li><em>Materi      pelajaran yang penting. Lesson study</em> memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran      yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa      serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.</li>
<li><em>Studi      tentang siswa secara cerma</em>t. Fokus yang paling utama dari <em>Lesson Study</em> adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya,      apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana      siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas      yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas,      partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses      pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju      pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah      supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas      sekolah.</li>
<li><em>Observasi      pembelajaran secara langsung.</em> Observasi langsung boleh dikatakan merupakan      jantungnya <em>Lesson Study</em>. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan      pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan      cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (<em>Lesson Plan</em>)      atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses      pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data      yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan      utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali.      Penggunaan <em>videotape</em> atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas      pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa <em>Lesson Study</em> sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan <em>Lesson Study</em>), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “<em>The Eyes to See Students</em>” (<em>kodomo wo miru me</em>), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, menurut <em>Lesson Study Project</em> (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari <em>Lesson Study</em>, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari <em>Lesson Study</em>. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkait dengan penyelenggaraan <em>Lesson Study</em>, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan <em>Lesson Study</em>, yaitu L<em>esson Study </em>berbasis sekolah dan <em>Lesson Study </em>berbasis MGMP. <em>Lesson Study </em>berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan <em>Lesson Study</em> berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal keanggotaan kelompok, <em>Lesson Study Reseach Group</em> dari <em>Columbia University</em> menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai <em>decision maker</em> di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam <em>Lesson Study</em>, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui <em>Lesson Study.</em> Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Tahapan-Tahapan <em>Lesson Study</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam <em>Lesson Study</em> ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa <em>Lesson Study</em> dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep <em>Plan-Do-Check-Act</em> (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam <em>Lesson Study</em>, yaitu : (1) Perencanaan (<em>Plan</em>); (2) Pelaksanaan (<em>Do</em>) dan (3) Refleksi (<em>See</em>). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari <em>University of Wisconsin</em> mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Form a      Team</em>:      membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan      pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson      Study.</li>
<li><em>Develop      Student Learning Goals</em>: anggota tim memdiskusikan apa yang akan      dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari <em>Lesson Study</em>.</li>
<li><em>Plan      the Research Lesson</em>: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai      tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.</li>
<li><em>Gather      Evidence of Student Learning</em>: salah seorang guru tim melaksanakan      pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan      bukti-bukti dari pembelajaran siswa.</li>
<li><em>Analyze      Evidence of Learnin</em>g: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan      dalam pencapaian tujuan belajar siswa</li>
<li><em>Repeat      the Process</em>:      kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari      tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas,      dan tim melakukan <em>sharing</em> atas temuan-temuan yang ada.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep <em>Plan-Do-Check-Act</em> (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan <em>Lesson Study</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Tahapan Perencanaan (<em>Plan</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam <em>Lesson Study</em> berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi <em>sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang</em>, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Tahapan Pelaksanaan (<em>Do</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas <em>Lesson Study </em>yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Guru      melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.</li>
<li>Siswa      diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar      dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya      program <em>Lesson Study</em>.</li>
<li>Selama      kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu      jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun      siswa.</li>
<li>Pengamat      melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa,      siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan      instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun      bersama-sama.</li>
<li>Pengamat      harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi      guru.</li>
<li>Pengamat      dapat melakukan perekaman melalui <em>video camera</em> atau photo digital      untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan      perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.</li>
<li>Pengamat      melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran      berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan      dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses      konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat      berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum      dalam RPP.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Tahapan Refleksi (Check)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (<em>bukan terhadap guru yang bersangkutan</em>). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, <em>tidak berdasarkan opininya</em>. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Tahapan Tindak Lanjut (<em>Act</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (<em>check</em>) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta <em>Lesson Study,</em> tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam <em>Lesson Study</em>, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D. Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Lesson      Study</em> merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian      pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada      prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas      belajar.</li>
<li>Tujuan <em>Lesson      Study</em> adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang      bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil      tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan      pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui      inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana      seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</li>
<li>Ciri-ciri      dari <em>Lesson Study</em> yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka      panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara      cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung</li>
<li><em>Lesson      study</em> memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat      mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik      dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan      mendiseminasikan hasil akhir dari <em>Lesson Study</em></li>
<li>Penyelenggaraan      <em>Lesson Study </em>dapat dilakukan dalam dua tipe: (a)<em> Lesson Study</em> berbasis sekolah; dan (a) <em>Lesson Study</em> berbasis MGMP.</li>
<li><em>Lesson      Study</em> dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a)      tahapan perencanaan (<em>plan</em>); (b) pelaksanaan (<em>do</em>); (c)      refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (<em>act</em>).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber Bacaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp. <em>A Brief Introduction to College Lesson Study</em>. <em>Lesson Study Project</em>. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm</p>
<p style="text-align:justify;">Catherine Lewis (2004) <em>Does Lesson Study Have a Future in the United States?</em>. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm</p>
<p style="text-align:justify;">Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html</p>
<p style="text-align:justify;">Slamet Mulyana. 2007. <em>Lesson Study </em>(Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat</p>
<p style="text-align:justify;">Wikipedia.2007. <em>Lesson Study. </em>Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Sumber : (</strong><strong>Akhmad Sudrajat : http://akhmadsudrajat.wordpress.com)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/544/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=544&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/lesson-study-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ENERGI LISTRIK AIR LAUT</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/energi-listrik-air-laut/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/energi-listrik-air-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 06:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan seolah tidak bisa lepas dari penggunaan energi listrik.  Dalam era modern ini kebutuhan listrik mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung dengan energi listrik. Padamnya aliran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=540&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan seolah tidak bisa lepas dari penggunaan energi listrik.  Dalam era modern ini kebutuhan listrik mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung dengan energi listrik. Padamnya aliran listrik, membuat akvititas masyarakat menjadi terganggu, arus lalulintas terganggu dan bahkan hubungan yang lebih luas antar negara juga dapat terpengaruh akibat padamnya listrik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-540"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Persoalannya cadangan sumber energi yang sebagian besar menggunakan minyak bumi, jumlahnya semakin berkurang. Bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya krisis energi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber energi minyak bumi. Belakangn ini AS berencana menyerang Irak, salah satu alasannya adalah mencari sumber minyak bumi.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengatasi berkurangnya minyak bumi sebagai sumber energi, mulai dikembangkan sumber energi alternatif seperti panas bumi, gelombang air laut, sinar matahari dan angin. Bahkan dalam dasa warsa ini juga digunakan energi nuklir untuk mendapatkan listrik.  Hanya saja dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Seperti adanya Gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan penyakit pernafasan. Gas NOx yang bersama dengan gas SOx ditengarai penyebab fenomena hujan asam yang banyak terjadi di negara maju dan berkembang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan akibat PLTN antara lain, radiasi carbon 14 (C-14) dan gas radon yang terpancar dari uranium bagi pekerja di pertambangannya. radiasi gas Xenon atau Krypton, termasuk limbah nuklir yang harus mendapat penanganan khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu perlu dikembangkan sumber <strong>energi alternatif</strong>. Salah satu yang sampai saat ini belum banyak diteliti adalah <strong>energi air laut</strong> (bukan gelombangnya). Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan, seperti ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan banyak dana.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal Indonesia yang terletak di wilayah garis katulistiwa hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari, juga memiliki lautan yang sangat luas, karena 2/3 dari wilayahnya terdiri dari lautan. Garis lingkaran pantai <em>(coastal circumference)</em> sepanjang 80.917 kilometer. Panjang itu lebih dari jumlah garis pantai USA, Australia dan semua daratan non-benua di seluruh dunia, yang panjangnya hanya 31.545 kilometer. Artinya Indonesia memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya bangsa Indonesia tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi, bahkan potensi air laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi ini telah menarik perhatian MSA Sastroamidjojo M.Sc., PhD, Presiden Direktur Yayasan Langit Lintang Samudra (LLS) untuk lebih mendalami potensi energi yang dihasilkan oleh air laut. Setelah berkutat dengan berbagai teori dan penelitian lapangan, dia berhasil menemukan apa yang dinamakan sebagai Baterai Laut. Dan laut Indonesia merupakan baterai raksasa yang dapat memenuhi kebutuhan listrik dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan percobaan sederhana yang dilakukan LLS, dua liter air laut yang diambil dari pantai Parangtritis, sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan awal, ungkap Sastroamidjojo yang didampingi Wakil Direktur LLS, Kusmanto, ketika ditemui &#8220;PR&#8221; di laboratoriumnya di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, katoda yang digunakan adalah arang aktif dari batok kelapa, arang kayu biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata, arus listrik yang dihasilkan dari arang batok kelapa dan kayu tidak begitu besar. Namun begitu kedua arang dicampur, arus listrik yang dihasilkan lebih besar. Untuk mempermudah kemudian digunakan anoda Grafit Sentolo (percampuran antara arang batok kelapa dengan arang kayu).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam percobaan sederhana dipakai dua buah gelas yang dimasukan elektroda Grafit Senotolo dan Seng Galvanis (seng yang telah dilapisi zat kimia sehingga menghambat adanya korosi, seng yang biasa digunakan sebagai atap rumah). Rangkaian plus dan minus tersebut kemudian dialirkan ke lampu pijar (bohlam). Seketika itu juga lampu pijar menyala. Dan semakin banyak gelas atau sel yang dirangkai, maka nyala lampu juga semakin terang.</p>
<p style="text-align:justify;">Percobaan baterai laut dalam skala laboratorium ini kemudian diperbesar, yakni menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt. Aki bekas yang sebagian selnya sudah rusak tersebut kemudian dibuka, dan sel baterainya dibersihkan dengan air bersih biasa dengan maksud membuang kotoran yang ada di dalamnya. Sementara itu, pada bagian bawah aki diberi lubang sebanyak sel yang ada (dalam percobaan dibuat enam lubang, karena aki yang digunakan 12 volt, setiap sel dua volt). Pada bagian bawah lubang aki diberi tempat atau wadah untuk menampung air laut, yang keluar dari bagian bawah aki. Selanjutnya air tersebut dipompa kedalam ke dalam bak yang posisinya lebih tinggi, dengan bantuan selang air laut dapat kembali masuk ke dalam aki atau terjadi sirkulasi. Fungsi air laut dalam baterai adalah sebagai pengganti asam sulfat atau air aki.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya sekat yang terbuat dari <em>met</em> dipasang kembali, hal ini untuk menyelidiki ketahanan terhadap korosi. Sekat dari <em>met</em> dipasang kembali agar antara logam Pb (timbal) dan PbO (timbal oksidan) tidak berhubungan. Air laut tersebut juga ditimbang, untuk mengetahui berat jenisnya, 1.025 gr/liter, sedangkan derasnya aliran air yang melalui lubang baterai diukur debitnya. Hasil pengukuran 900 mili liter per lima detik per dua lubang sel.</p>
<p style="text-align:justify;">Tegangan yang ada dalam baterai yang telah dialiri air laut, hasil pengukurannya antara 9,2 &#8211; 11,8 volt. Setelah empat hari air laut tersebut digunakan secara terus menerus, tegangan yang dihasilkan juga menurun. &#8220;Lampu mobil yang kita nayalakan dengan baterai air laut ini ternayta nyalanya lebih terang dibandingkan lampu mobil,&#8221; ungkap Kusmanto yang telah bergabung dengan LLS sejak berdiri tahun 1994.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum menggunakan Seng Galvanis yang mudah diperoleh di sembarang tempat, percobaan untuk mengetahui energi listrik air laut ini juga menggunakan katoda dari besi, <em>stainles steel</em>, dan seng (zn) murni. Dari percobaan yang paling sederhana, ternyata dari Seng Galvanis, kita mendapat aurs listrik cukup besar. Dan saat katoda mengguanka seng asli, energi yang dihasilkan menjadi lebih besar, dalam arti lampu yang dijadikan indikatornya menyala lebih terang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan dari baterai ini tergantung dari kapasitas baterai atau aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut sekamin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, samudra merupakan baterai laut raksasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Di laboratoriumnya yang terlertak di pinggiran kota Yogyakarta, Sarstoamidjojo yang sudah berusia 81 tahun ini, LLS yang dipimpinnya tidak hanya meneliti energi air laut tetapi juga meneliti energi angin, tenaga surya dan tenaga laut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/540/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=540&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/27/energi-listrik-air-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Model Pembelajaran SSCS</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/12/model-pembelajaran-sscs/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/12/model-pembelajaran-sscs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 02:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[Search Solve Create and Share (SSCS) adalah model pembelajaran yang memakai pendekatan problem solving, didisain untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan meningkatkan pemahaman terhadap konsep ilmu (Baroto: 2009). Model pembelajaran Search, Solve, Create and Share melibatkan siswa dalam menyelidiki sesuatu, membangkitkan minat bertanya serta memecahkan masalah-masalah yang nyata. Ada 4 tahapan atau fase yang terdapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=538&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Search Solve Create and Share</em> (SSCS) adalah model pembelajaran yang memakai pendekatan <em>problem solving</em>, didisain untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan meningkatkan pemahaman terhadap konsep ilmu (Baroto: 2009). Model pembelajaran <em>Search, Solve, Create and Share</em> melibatkan siswa dalam menyelidiki sesuatu, membangkitkan minat bertanya serta memecahkan masalah-masalah yang nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada 4 tahapan atau fase yang terdapat dalam model pembelajaran ini. Fase <em>Search</em> menyangkut ide-ide lain yang mempermudah dan mengidentifikasi serta mengembangkan pertanyaan yang dapat diselidiki (<em>researchable question</em>) atau, masalah dalam sains. Selain proses identifikasi dan mengembangkan pertanyaan dan masalah selama fase <em>search</em>, siswa juga mengidentifikasi kriteria untuk menetapkan permasalahan dan menyatakan pertanyaan dalam format pertanyaan yang dapat diselidiki. Fase <em>search</em> membantu siswa untuk menghubungkan konsep-konsep yang terkandung dalan permasalahan ke konsep-konsep sains yang relevan. Kemudian masalah diidentifikasi dan diterapkan oleh siswa, yang berdasarkan skema konseptual siswa. (Pizzini:1996).</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-538"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Fase <em>Solve</em> berpusat pada permasalahan spesifik yang ditetapkan pada fase <em>search</em> dan mengharuskan siswa untuk menghasilkan dan menerapkan rencana mereka untuk memperoleh suatu jawaban. Selama fase <em>Solve</em> siswa mengorganisasikan kembali konsep-konsep yang diperoleh dari fase <em>Search</em> menjadi konsep-konsep yang berada dalam ”<em>higher-order</em>” yang mengidentifikasikan cara untuk menyelesaikan permasalahan dan jawaban yang diinginkan. Penerapan konsep-konsep sains dalam fase <em>solve</em> memberikan kebermaknaan terhadap konsep sewaktu siswa memperoleh pengalaman untuk menghubungkan antara konsep yang termuat dalam permasalahan, konsep dari permasalahan yang diselesaikan, dari konsep yang diterapkan dalam permasalahan, yang semuanya dihubungkan ke skema konseptual siswa, (Pizzini:1996).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Fase Create</em> mengharuskan siswa untuk menghasilkan suatu produk yang terkait dengan permasalahan, membandingkan data dengan masalah, melakukan generalisasi, jika diperlukan memodifikasi. Siswa menggunakan keterampilan seperti mereduksi data menjadi suatu penjelasan tingkat paling sederhana. Fase<em> </em><em>Create</em> menyebabkan siswa untuk mengevaluasi proses berpikir mereka. Hasil dari fase<em> create</em> adalah pengembangan suatu produk inovatif yang mengkomunikasikan hasil fase <em>search </em>ke fase <em>solve </em>ke siswa lainnya (Pizzini: 1996).</p>
<p style="text-align:justify;">Prinsip dasar fase <em>Share</em> adalah untuk melibatkan siswa dalam mengkomunikasikan jawaban terhadap permasalahan atau jawaban pertanyaan. Produk yang dihasilkan menjadi fokus dari fase <em>share</em>. Fase <em>share</em> tidak hanya sebatas mengkomunikasikan ke siswa lainnya. Siswa menyampaikan buah fikirannya melalui komunikasi dan interaksi, menerima dan memproses umpan balik, yang tercermin pada jawaban permasalahan dan jawaban pertanyaan, menghasilkan kembali pertanyaan untuk diselidiki pada kegiatan lainnya. Bermunculnya pertanyaan terjadi bila yang diterima menciptakan pertanyaan baru atau bila kesalahan dalam perencanaan hasil untuk mengidentivikasi keterampilan <em>Problem solving</em> yang diperlukan, (Pizzini:1996).</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui Proses <em>problem solving</em> ini, L. Pizzini (1996) yakin bahwa para siswa akan mampu menjadi seorang eksplorer mencari penemuan terbaru, inventor mengembangkan ide atau gagasan untuk mampu menjadi penguji baru yang inovatif, desainer mengkreasi rencana dan model terbaru, pengambilan keputusan, berlatih bagaimana menetapkan pilihan yang bijaksana, dan sebagai komunikator mengembangkan metoda dan teknik untuk bertukar pendapat dan berintereaksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Model SSCS <em>problem solving </em>ini mempunyai keunggulan dalam upaya merangsang para siswa untuk menggunakan perangkat statistik sederhana dalam mengadministrasikan data atau fakta hasil pengamatan studinya. Model SSCS adalah sangat efektif, dapat dipraktekkan, dan mudah untuk digunakan. Model pemecahan masalah SSCS membuat studi konteks pada perkembangan dan menggunakan perintah-perintah kemampuan berpikir yang lebih tinggi dan hasil­hasil pada kondisi yang lebih penting pada kemampuan berpikir mentransfer dari satu ruang lingkup pelajaran ke yang lain. Keunggulan pemecahan masalah model SSCS lebih spesifik di jelaskan Pizzini (1996) sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagi Guru</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">(1) Dapat melayani minat siswa yang lebih luas, (2) Dapat melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran IPA,  (3) Melibatkan semua siswa secara aktif dalam proses pembelajaran,  (4) Meningkatkan pemahaman antara sains teknologi dan masyarakat dengan memfokuskan pada masalah-masalah real dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagi Siswa</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">(1) Kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung pada proses pemecahan masalah, (2) kesempatan            untuk     mempelajari dan memantapkan konsep-konsep IPA dengan cara yang lebih bermakna, (3) Mengolah informasi dari IPA, (4) Menggunakan keterampilan berpikir ting-kat tinggi, (5) Mengembangkan metode  ilmiah   dengan menggunakan peralatan-peralatan la-boratorium, (6) Untuk mengembangkan minat terhadap IPA dan memberi pemaknaan IPA ke-pada siswa melalui kegiatan-kegiatan IPA, (7) Memberi pengalaman bagaimana pengetahuan IPA diperoleh dan ber-kembang, (8) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya, (9) Bekerja sama dengan orang lain, (10) Menetapkan pengetahuan tentang grafik, pengolahan data, menyampaikan ide dalam bahasa yang baik dan ke-terampilan yang lain dalam suatu sis-tem ke integrasi atau holistik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peran Guru dalam Model SSCS</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan yang membentuk perkembangan pemikiran kritis dan kemampuan memecahkan masalah siswa merupakan sebuah tugas secara terus menerus oleh guru, para siswa diberikan kegiatan-kegiatan yangng mengajak siswa untuk berpikir secara kritis dan mampu memecahkan masalah secara aktif , siswa harus didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan serta diberikan bimbingan.</p>
<p style="text-align:justify;">Model pemecahan masalah SSCS memberikan sebuah kerangka kerja yang dibuat untuk memperluas keterampilan dalam penggunaan pada konsep ilmu pengetahuan, model ini membantu guru berpikir kreatif untuk menciptakan siswa mampu yang berpikir secaara kritis. Peranan guru pada pemecahan masalah model SSCS adalam memfasilitasi pengalaman untuk menambah pengetahuan siswa. Peranan guru lebih lengkap pada tiap fase dijelaskan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Fase <em>Search</em> (mendefinisikan masalah) : (a). Menciptakan situasi yang  dapat  mempermudah  muncul-nya pertanyaan, (b) Menciptakan dan mengarahkan kegiatan, (c) Membantu dalam pengelompokan dan penjelasan permasalahan yang muncul.</li>
<li>Fase <em>Solve</em> (mendesain solusi) : (a) Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir, (b) Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide, pendapat atau gagasan siswa tersebut, (c) Memfasilitasi siswa dalam hal memperoleh informasi dan data.</li>
<li>Fase<em> </em><em>Create</em> (Memformulasikan hasil) : (a) Mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi, (b) Menyediakan ketentuan dalam analisis data dan tehnik penayangannya, (c) Menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi.</li>
<li>Fase <em>Share</em><em> </em>(Mengkomunikasikan hasil) : (a) Menciptakan terjadinya interaksi antara kelompok/ diskusi kelas, (b) Membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil penemuan studi selama persentasi, baik secara lisan maupun tulisan.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/538/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/538/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=538&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/12/model-pembelajaran-sscs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PLTN Vs ROKOK ?</title>
		<link>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/05/pltn-vs-rokok/</link>
		<comments>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/05/pltn-vs-rokok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 09:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fisika21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fisika21.wordpress.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini mengeluarkan fatwa penting mengenai haramnya merokok. Fatwa ini menimbulkan kontroversi banyak pihak, satu sisi mendukung tentang haramnya rokok dari sisi medis, sedangkan yang di seberang menolak karena memandangnya bahwa fatwa tersebut belum urgent dan bisa mengancam industri rokok yag ada di daerah dan tentu berpotensi menambah pengangguran terbuka yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=536&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini mengeluarkan fatwa penting mengenai haramnya merokok. Fatwa ini menimbulkan kontroversi banyak pihak, satu sisi mendukung tentang haramnya rokok dari sisi medis, sedangkan yang di seberang menolak karena memandangnya bahwa fatwa tersebut belum <em>urgent</em> dan bisa mengancam industri rokok yag ada di daerah dan tentu berpotensi menambah pengangguran terbuka yang ada di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Lain hal, LBM NU Jateng dan PCNU Jepara pada 1 September 2007. Mubahatsah atau pembahasan yang diikuti sekitar 100 kiai dari wilayah Jateng memutuskan bahwa PLTN Muria hukumnya haram, mengingat dampak negatifnya lebih besar daripada dampak positifnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa hubungan antara rokok dengan PLTN diatas? Keduanya difatwakan haram oleh ulama, meskipun masih mengundang kontroversi. Terlepas dari fatwa para ulama tersebut, sekarang kita akan membandingkan tingkat bahaya antara rokok dengan PLTN dilihat dari radioaktifitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<span id="more-536"></span><br />
Jika kita merujuk data dari <em>US Departmen of Health</em>, <em>Division of Radiation Protection</em> yang dikeluarkan tahun 2002, sinar kosmis menghasilkan dosis 26 mrem/tahun. Radioisotop di permukaan bumi mengandung 29 mrem/tahun. Gas Radon di Atmosfer mengambil kontribusi sebesar 200mrem/tahun. Dalam tubuh manusia pun memancarkan radiasi (dari Karbon &#8211; 14 dan Kalium &#8211; 40 ) sebesar 40 mrem/tahun. Sinar X untuk diagnosa kesehatan memberikan andil 39 mrem/tahun. Sedangkan aktivitas kedokteran nuklir lainnya memberikan 14mrem/tahun. Instrumen elektronik seperti TV, komputer memberikan 11 mrem/tahun. Dan sisa ledakan nuklir (<em>fall out</em>), reaktor nuklir, pesawat terbang memberikan 1 mrem/tahun. Sehingga total dosis yang diterima tiap manusia di AS secara rata-rata adalah 361 person mrem/tahun atau 0,3 person rem/tahun (1 rem = 1.000 mrem). Hal ini dipenuhi dengan syarat yang bersangkutan tidak merokok.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan, PLTN dengan daya 1.000 MWatt menghasilkan dosis radiasi mencapai 4,8 person rem/tahun. Namun pemerintah AS membatasi agar pekerja PLTN dan sektor nuklir lainnya hanya menerima dosis maksimum sebesar 100 person mrem/tahun saja. Sementara dalam PLTU dengan daya 1.000 MWatt dengan tingkat radiasi 100 kali lebih besar (yakni 490 person rem/tahun), belum ditemui ada kebijakan yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan untuk rokok ternyata diketahui mengandung Radioisotop Polonium-210. Ini akan menambahkan dosis ekivalen sebesar 29,1 person rem/tahun untuk manusia perokok. Dan akan didapatkan dalam jaringan epitel paru-parunya dosis sebesar 6,6 &#8211; 40 person rem/tahun. Sementara pada bronchiolus-nya sebesar 1,5 person rem/tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Rokok ternyata tidak hanya mengandung polonium (210Po) namun juga timbal (210Pb), yang keduanya termasuk dalam kelompok radionuklida dengan toksik sangat tinggi. Po-210 adalah pemancar radiasi- α, sedangkan Pb-210 adalah pemancar radiasi-ß. Kedua jenis radiasi tersebut, terutama radiasi- α berpotensi untuk menimbulkan kerusakan sel tubuh apabila terhisap atau tertelan. Kejadian kanker paru pada perokok pun belakangan ditengarai lebih disebabkan oleh radiasi-α &amp; bukan diakibatkan karena tar dalam tembakau.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana bisa 210Po &amp; 210Pb bisa sampai di rokok? Ternyata tanah, sebagai tempat tumbuh tanaman tembakau- bahan utama rokok, mengandung radium (226Ra). Radium ini adalah atom induk yang nantinya dapat meluruh dan dua di antara sekian banyak unsur luruhannya adalah 210Po &amp; 210Pb. Melalui akar, 210Po &amp; 210Pb pun terserap oleh tanaman tembakau. Hal ini bisa diperparah dengan penggunaan pupuk fosfat yang mengandung kedua unsur tersebut. Tentu saja ini menambah konsentrasi 210Po &amp; 210Pb dalam tembakau.</p>
<p style="text-align:justify;">Mekanisme lain dan yang utama, adalah lewat daun. Po-210 &amp; Pb-210 terendapkan pada permukaan daun tembakau sebagai hasil luruh dari gas radon (222Rn) yang berasal dari kerak bumi &amp; lolos ke atmosfer. Daun tembakau memiliki kemampuan tinggi untuk menahan &amp; kemudian mengakumulasi 210Po &amp; 210Pb karena adanya bulu-bulu tipis ~yang disebut trichomes~ di ujung-ujungnya.</p>
<p>Meski aktivitasnya cukup rendah (3 &#8211; 5 mili Becquerel/batang) &#8211; dibandingkan dengan ambang batas dosis mematikan Polonium-210 untuk manusia berbobot 80 kg yakni sebesar 148 juta Becquerel (4 mili Curie). Namun aktivitas merokok membuat Polonium-210 terhirup dan terdepositkan ke dalam paru-paru tanpa bisa diekskresikan secara langsung oleh tubuh mengingat sifatnya sebagai logam berat dan memiliki sifat kimiawi mirip Oksigen sehingga tidak bisa diikat oleh CO2 maupun ion HCO3- (kecuali ada perlakuan khusus dengan meminum pil EDTA misalnya, itupun diragukan apa bisa melakukan <em>Polonium removal</em> di paru-paru).</p>
<p style="text-align:justify;">Jika diasumsikan perokok yang bersangkutan mengkonsumsi rata-rata 2 bungkus rokok/hari selama lima tahun tanpa terputus, akumulasi Polonium-210 nya sudah cukup mampu menghasilkan perubahan abnormal pada alvoeli. Dan jika konsumsi terus berlanjut tanpa terputus, maka dalam masa 10 &#8211; 15 tahun sejak awal menjadi perokok, perokok yang bersangkutan sudah sangat berpotensi menderita kanker paru-paru, seperti nampak pada penelitian di Brazil (berdasarkan tembakau setempat). Jika konsumsi dikurangi menjadi 1 bungkus rokok/hari tanpa terputus, maka baru dalam 25 &#8211; 30 tahun kemudian potensi menderita kanker paru-paru mulai muncul.</p>
<p>Jadi jika pekerja sektor nuklir mendapatkan radiasi 100 person mrem/tahun. Mereka yang bekerja di PLTU dan mereka yang merokok menerima paparan radiasi berkali-kali lipat lebih besar. Jadi wajar saja jika banyak mereka yang mati karena radiasi akibat rokok atau PLTU dibanding para pekerja dalam sektor nuklir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jika kita ingin lebih ekstrim lagi, sebenarnya para warga Semenanjung Muria (Kudus -Pati &#8211; Jepara), dimana disana banyak terdapat industri rokok dan juga beberapa PLTU, sebenarnya sudah menkonsumsi radiasi jauh-jauh hari bahkan sebelum PLTN dibangun.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Tedy Tri Saputro</strong> (forumsains.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fisika21.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fisika21.wordpress.com/536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fisika21.wordpress.com&amp;blog=6635463&amp;post=536&amp;subd=fisika21&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fisika21.wordpress.com/2010/10/05/pltn-vs-rokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4a660022e5439fda9a2cb0f100a136?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arnoy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
