Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

Model pembelajaran discovery pertama kali dikemukakan oleh Jerome Bruner, beliau berpendapat bahwa belajar penemuan (discovery learning) sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, siswa belajar terbaik melalui penemuan sehingga berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benarbenar bermakna. Dengan model pembelajaran discovery pengetahuan yang diperoleh siswa akan lama diingat, konsep-konsep jadi lebih mudah diterapkan pada situasi baru dan meningkatkan penalaran siswa (Dahar, 1989:103). Beberapa ahli berpendapat tentang belajar penemuan atau discovery, diantaranya:

  1. Bruner (dalam Dahar, 1989:103) mengemukakan bahwa discovery merupakan belajar penemuan yang sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik.
  2. Amien (1987:126), discovery ialah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsepkonsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri (mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan dan sebagainya).
  3. Sund (dalam Suryosubroto, 2009:179) mengungkapkan bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya: mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan.
  4. Suryosubroto (2009:192) menyatakan bahwa penemuan adalah suatu proses belajar mengajar dimana guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa discovery merupakan model pembelajaran yang melibatkan berbagai proses mental siswa untuk menemukan suatu pengetahuan (konsep dan prinsip) dengan cara mengasimilasi berbagai pengetahuan (konsep dan prinsip) yang dimiliki siswa. Dalam pembelajaran discovery, siswa didorong untuk aktif belajar dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong mereka untuk memiliki pengalaman-pengalaman dan menghubungkan pengalaman tersebut untuk menemukan prinsip-prinsip bagi diri mereka sendiri. Belajar penemuan (discovery) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan penyelidikan (inquiry), beberapa ahli membedakan penyelidikan dengan penemuan, sedangkan ahli yang lain menempatkan penyelidikan sebagai bagian dari penemuan.

Sund mengemukakan bahwa discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses-proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip (Hamalik, 2009:150). Rumusan ini menggambarkan bahwa discovery dilakukan melalui proses mental, yakni observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferi. Sedangkan inquiry adalah perluasan dari discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan (Suryosubroto, 2009:179).

Dalam bahasa Inggris, inquiry berarti pertanyaan, pemeriksaan pencarian atau penyelidikan. Tujuan utama pembelajaran berbasis inquiry menurut National Research Council (dalam Ibrahim, 2007) adalah mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep sains, mengembangkan keterampilan ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuwan dan membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan. Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pembelajaran inquiry diantaranya:

  1. W. Gulo (2002:25), strategi inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
  2. Sund (dalam Suryosubroto, 2009:179) menyatakan bahwa inquiry adalah perluasan dari discovery yang digunakan lebih mendalam, artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu: merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan.
  3. Hamalik (1999:119) mengemukakan bahwa inquiry adalah suatu strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa secara berkelompok dihadapkan pada suatu persoalan atau pertanyaan untuk kemudian mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui suatu prosedur dan struktur kelompok yang jelas.

Dengan demikian pembelajaran inquiry merupakan suatu proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya untuk memperoleh dan mendapatkan informasi. Berdasarkan penjelasan di atas, diperoleh bahwa pembelajaran discovery dan inquiry pada dasarnya merupakan proses pembelajaran yang mengarahkan dan membimbing siswa untuk menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan. Guru berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan setting kelas dan fasilitas belajar yang diperlukan oleh siswa serta sebagai dinamisator yang merangsang terjadinya interaksi dan merangsang terjadinya self analysis. Namun dalam proses pembelajarannya terdapat perbedaan antara model pembelajaran discovery dan model pembelajaran inquiry. Dalam pembelajaran discovery kegiatan siswa hanya prose mental yang meliputi aspek mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan. Sedangkan inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya yakni merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan. Sehingga dalam discovery, siswa tidak sampai melakukan eksperimen dalam menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi.

Jenis – Jenis Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran discovery-inquiry dapat dibedakan menjadi tujuh jenis seperti yang dikemukakan oleh Amien (Dalam Darmawan, 2008) yaitu :

  1. Guided Discovery- Inquiry.  Dalam pelaksanaan model pembelajaran ini, guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa dalam kegiatan-kegiatannya atau dengan kata lain sebagian besar perencanaan pembelajarannya dibuat oleh guru.
  2. Modified Discovery- Inquiry. Guru hanya berperan memberikan permasalahan kemudian mengajak siswa untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui kegiatan pengamatan, percobaan atau prosedur penelitian. Disamping itu, guru merupakan narasumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah. Adapun bantuan yang diberikan berupa pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan siswa dapat berpikir dan menemukan cara-cara penelitian yang tepat.
  3. Free Inquiry. Kegiatan free inquiry dilakukan setelah siswa mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang stui tertentu serta telah melakukan modified discovery-inquiry. Dalam metode ini siswa harus mengidentifikasi dan merumuskan macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
  4. Invitation Into Inquir. Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang ditempuh para ilmuwan dengan memberikan suatu problema kepada para siswa melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan. Dalam Invitation Into Inquiry, siswa diajak untuk melakukan seluruh atau sebagian dari proses-proses seperti merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menentukan sebab akibat, menginterpretasikan data, membuat grafik, menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan penelitian serta mengenal bagaimana kesalahan eksperimental yang dapat diperkecil.
  5. Inquiry Role Approach.  Kegiatan belajar dalam metode ini melibatkan siswa dalam kelompokkelompok yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu sebagai koordinator kelompok, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.
  6. Pictorial Riddle. Pendekatan dengan menggunakan pictorial riddle adalah salah satu teknik atau metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau peragaan, peragaan, atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif siswa. Suatu ridlle biasanya berupa gambar di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan dari suatu trasparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ridlle itu.
  7. Syntetics Lesson. Model jenis ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu siswa dalam berfikir untuk memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif. Dari beberapa jenis model pembelajaran discovery-inquiry, yang digunakan dalam penelitian ini adalah guided discovery-inquiry, dimana dalam proses pembelajarannya guru memberikan struktur yang cukup luas dan siswa melakukan penyelidikan melalui prosedur selangkah demi selangkah. Hal ini disesuaikan dengan keadaan siswa di sekolah yang tidak selalu melakukan kegiatan penyelidikan dan masih memerlukan bimbingan serta arahan dari guru.

Tahapan Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

Pelaksanaan dalam pembelajaran discovery-inquiry pada dasarnya merupakan perpaduan antara kedua model pembelajaran tersebut. Secara umum, pada awalnya siswa dihadapkan kepada suatu permasalahan yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu pada diri siswa, selanjutnya siswa merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan pengamatan, pengklasifikasian, melakukan eksperimen sampai pada menarik kesimpulan. Makmun (2001:150) mengemukakan bahwa dalam model pembelajaran discovery-inquiry, guru hendaknya menyajikan materi pelajaran dalam bentuk yang belum final, siswalah yang harus mencari dan menemukan sendiri kebenarannya dari materi pelajaran tersebut. Lebih jelasnya akan dipaparkan berikut ini:

Tahapan Model Pembelajaran Discovery Inquiry

  1. Stimulasi : Siswa diberikan arahan untuk membaca /mendengarkan uraian yang memuat permasalahan
  2. Perumusan masalah (problem statement): Siswa diberi kesempatan untuk mengidentifikasi masalah yang muncul. Dari masalah tersebut, siswa dituntut untuk membuat hipotesis sebagai jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan oleh siswa.
  3. Pengumpulan data : Siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi yang relevan dan jelas, yaitu dengan cara telaah literatur, melakukan percobaan, melakukan observasi dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab dan membuktikan benar tidaknya hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya.
  4. Analisis data (dataprocessing) : Siswa mengolah (mengecek, mengkalisfikasikan, mentabulasikan dan sebagainya) semua data dan informasi yang diperoleh dan menafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
  5. Verifikasi (verification): Siswa diberikan arahan untuk mengecek hipotesis yang telah dibuat di awal kegiatan apakah hipotesis siswa terbukti/tidak berdasarkan hasil pengolahan data dan tafsiran data/informasi.
  6. Generalisasi (generalization) : Siswa diarahkan untuk belajar menarik generalisasi /kesimpulan berdasarkan hasilverifikasi yang telah dilakukan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

Model pembelajaran discovery-inquiry memiliki beberapa kelebihan seperti yang diungkapkan oleh Sudirman N, dkk (dalam artikel SMPN 1 Banjar, 2009) sebagai berikut:

  1. Strategi pengajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya lebih tinggi atau lebih banyak.
  2. Siswa akan mengerti konsep-konsep dasar atau ide lebih baik.
  3. Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dan dalam rangka transfer kepada siutuasi-situasi proses belajar yang baru.
  4. Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
  5. Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
  6. Metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga retensinya (tahan lama dalam ingatan) menjadi lebih baik.

Adapun kekurangan model pembelajaran discovery-inquiry ini dikemukakan oleh Suryosubroto (2002:201) adalah:

  1. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis.
  2. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang, karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
  3. Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan pembelajaran secara tradisional.
  4. Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada.

Sumber : Fitri Hidayatullah. (2012). Penerapan Model Pembelajaran Discovery – Inquiry untuk meningkatkan keterampilan Proses Sains dan Prestasi Belajara Siswa SMA dalam Pembelajaran Fisika. Skripsi. UPI Bandung.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: