Pembiasaan Perilaku Berkarakter, sebaiknya dimulai dari mana?

Rasanya kini memang sulit menentukan dari mana kita bisa memulai membangun budaya masyarakat yang berkarakter, karena dampak dari kurangnya implementasi nilai sopan santun dan etika disetiap kehidupan peribadi maupun sosial.  Bagi masyarakat ultra modern, ekpresi kebebasan demokrasi sudah sangat lumrah dan bahkan telah bosan, tetapi bagi kelompok urban, mereka sedang asyik-asyiknya menikmati kebebasan, melampiaskan segala yang dikehendaki, dan cenderung anarkhis, mencaci-maki pemimpin yang dulu ditakuti, bisa merobohkan pintu gerbang kantor pemerintah dan sebagainya. Rasanya kini tidak ada teori yang bisa digunakan sebagai dasar problem solving.

Belajar kepada sejarah bangsa lain (misalnya Amerika Serikat), ternyata orang Amerika yang dulu orang kulit putih anti terhadap kulit hitam, limapuluh tahun yang lalu, orang negro benar-benar dinista dalam sistem sosial Amerika Serikat. Tetapi kini Presiden yang dipilih justeru orang kulit hitam, Barack Obama.
Oleh karena itu kita tidak boleh perputus asa untuk tetap membangun karakter masyarakat yang bermartabat, meski hari-hari ini kurang laku. Membangun karakter dewasa ini sama sulitnya seperti menebar benih di musim kemarau, tidak tumbuh. Tetapi jika tidak ada yang menebar benih di musim kemarau, nanti ketika musim hujan yang tumbuh hanya alang-alang.
Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, membangun budaya berkarakter masyarakat bisa melalui lembaga pendidikan, lembaga sosial dan lembaga keagamaan. Kampus dalam hal ini sebagai lembaga tempat menanamkan sikap dan sopan santun (tata krama) yang efektif sehingga perlu penanaman sikap dan pembiasaan selama mahasiswa menempuh pendidikan di kampus.
Bagaimana mengintegrasikan perilaku berkarakter ke dalam kehidupan di kampus? Bagaimana kedisiplinan dapat berjalan di kampus, tumbuh sikap dan kesadaran menghormati dosen, melakukan pergaulan dengan teman yang berlandaskan perilaku berkarakter, membangun lingkungan kelas yang positif, mengembangkan sikap-sikap positif kepemimpinan, mengkaitkan program kampus, masyarakat, dan rumah dengan perilaku berkarakter.
Perlu segera menyusun cetak biru untuk membenahi karakter bangsa ini yang telah berkembang lebih ke karakter buruk (kurang sopan santun dalam pergaulan). Tidak perlu menjadikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran baru, karena nanti akan lebih terfokus pada pengembangan kognitif tingkat rendah. Lebih baik membangun karakter, dibanding “Mata Pelajaran Pendidikan Karakter”. Membangun karakter melalui pembiasaan disetiap kegiatan atau disetiap unit terutama dilingkungan kampus.
Perilaku berkarakter dilaksanakan melalui kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan di kampus. Kegiatan Ekstra Kurikuler diharapkan merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh unit-unit kegiatan yang wajib diikuti mahasiswa sesuai kepeminatannya. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik serta sarana pengembangan perilaku berkarakter.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya kampus, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga kampus, dan masyarakat sekitar kampus. Budaya kampus harus merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra kampus di mata masyarakat luas.
Pada tataran mahasiswa, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya kampus, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga kampus, dan masyarakat sekitar kampus harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
Oleh karena itu perlu penanaman pembiasaan perilaku berkarakter di kampus yang meliputi:

  1. Pembekalan tata krama bagi mahasiswa baru. Setiap mahasiswa baru mendapat pembekalan tata krama yang ditempuh melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Materi tata krama sebagai pembekalan mahasiswa baru perlu dikemas yang bersifat praktis dengan mengedepankan praktek/perilaku selama menempuh pendidikan di kampus.
  2. Pembekalan tata krama bagi mahasiswa kependidikan yang akan menempuh PPL. Dalam pembekalan mahasiswa yang akan menempuh PPL diberikan materi tata krama untuk membentuk watak mahasiswa agar berperilaku yang selaras dengan citra kependidikan.
  3. Penerapan tata tertib bagi segenap pengurus organisasi kemahasiswaan. Setiap organisasi kemahasiswaan harus bisa menjadi sarana penanaman perilaku berkarakter, baik perilaku orangnya maupun kondisi tempat kerjanya.
  4. Penerapan tata tertib bagi penghuni asrama mahasiswa (PGSD, RUSUNAWA, UKKI di Masjid) yang dapat mencerminkan keteladanan bagi mahasiswa lain.
  5. Penerapan tata tertib dikelas dalam perkuliahan maupun dalam menempuh ujian.
  6. Sikap dan keteladanan bagi pemgurus organisasi mahasiswa. Pengurus organisasi mahasiswa wajib menerapkan perilaku berkarakter, oleh karena itu persyaratan menjadi pengurus perlu ditetapkan dengan norma-norma yang menjung tinggi keteladanan dan keoemimoinan.
  7. Pengurus organisasi mahasiswa wajib mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh universitas. Bagi mahasiswa baru selama dalam proses PKKMB satu tahun, wajib mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan universitas.
  8. Memakai almamater dalam kegiatan kampus maupun luar kampus:
    • kengikuti Upacara Bendera;
    • kegiatan seminar;
    • kegiatan menerima tamu;
    • berkunjung ke instansi lain;
    • rapat-rapat dengan pimpinan;
    • Dsb.
  9. Peduli lingkungan kampus. Segenap civitas akademik Unesa harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan kampus, yang diwujudkan dalam bentuk:
    • Jika melihat lampu menyala tidak pada fungsinya sebaiknya matikan!
    • Jika ada air mengocor dari kran dalam keadaan tidak berfungsi sebaiknya matikan!
    • Jika ada komputer menyala dalam keadaan sudah tidak berfungsi sebaiknya matikan!
    • Jika ada AC hidup dalam ruang yang tidak berfungsi sebaiknya matikan!
    • Kepedulian terhadap hal-hal yang sederhana seperti jangan terbiasa membiarkan apapun yang terlihat dalam keadaan terbengkelai, karena tidak merasa memiliki. Melihat benda menghalangi orang lewat jika kita mengetahui lebih dulu harus disingkirkan, jangan sekali-kali mengatakan “saya tidak menaruh benda itu”
    • Jika melihat barang yang tidak terawat seperti melihat barang inventaris tergeletak, barang tempelan dinding terjatuh, jangan sekali-kali mengatakan ”toh ada petugas atau penjaga yang akan menatanya kembali”. Hal itu cermin tidak peduli.
    • Jika berada di penginapan atau di hotel, akan meninggalkan ruang lampu menyala, TV menyala, air kran mengalir, jangan sekali-kali anda mengatakan “biarkan saja toh kita sudah membayar” Hal itu sebagai cermin sebagai orang yang berjiwa ingin selalu merugikan orang lain, bahkan tidak senang orang lain memiliki usaha yang berhasil. Buatlah kondisi seandainya aku pemilik hotel atau penginapan tersebut.
    • Mahasiswa di tempat kos, tak peduli dengan barang rusak yang menggangu orang lain (membaiarkan lampu, kipas angin, TV dan air kran yang bocor), membiarkan begitu saja dengan alasan anda sudah bayar uang kos. Hal itu sebagai cermin sebagai mahasiswa yang mau menempati tempat kos tetapi tidak ikut bertanggung jawab pada pemilik jasa penyedia kos, bahkan jika kos anda digratiskan sekalipun tidak akan berubah perilaku tersebut, karena prinsip hidup anda tidak peduli. Coba renungkan! Seandainya aku pemilik usaha diperlakukan seperti itu, bagamana sikap anda? Membiasakan peduli terhadap barang milik orang lain mesti bukan miliknya akan membauat orang lain juga peduli pada kita.
    • Kembalikan kepada pemilikya jika menemukan barang yang sudah jelas tahu pemiliknya, dan jika belum tahu pemiliknya sampaikan ditempat publik yang memungkinkan orang lain mengetahui barang tersebut milik siapa. Mengembalikan barang yang bukan miliknya terasa hidup lebih mulia.
  10. Larangan Merokok di lingkungan kelas dan kampus
    • Mahasiwa tidak dibenarkan merokok dalam kelas baik waktu belajar maupun dalam kelas kosong, demikian juga tidak dibenarkan merokok di lingkungan kampus.
    • Untuk lebih efektifnya larangan ini maka segenap pengurus organisasi mahasiswa di kampus (BEM, DLM, UKM [Unit Kegiatan Mahasiswa]) harus dapat menjadi model perilaku berkarakter, dengan menunjukkan perilaku tidak merokok di kampus, tidak ada bekas rokok didalam ruang organisasi, dan tidak berperilaku merokok disetiap aktifitas kemahasiswaan.
    • Masyarakat kampus dapat mencontoh aturan yang diterapkan di sebuah perusahaan taxi, yang melarang sopirnya merokok di dalam taxi baik ada penumpang atau tidak, dan juga larangan merokok dilingkungan taxi ketika parkir. Bahkan bagi sopir yang kedapatan melanggar aturan tersebut dan ada yang melaporkan ke kantornya maka dikenakan sanksi denda Rp 200 ribu. Semua berjalan baik suka atau tidak suka, semua mentaati, karena semua aturan diberlakukan sejak awal melamar menjadi pengemudi taxi. Demikian juga tidak akan diterima bagi calon pengemudi yang memiliki tato dan sejenisnya.
    • Filosofi aturan itu tentu sederhana “jika sopir merokok di dalam taksi atau diluar taksi, pasti ada yang protes dan merasa tidak suka untuk memakai taksi tersebut, namun dapat dipastikan tidak ada penumpang yang protes jika sopir dilarang merokok.
  11. Etika berpakaian Fungsi pakaian adalah sebagai penutup aurat sekaligus perhiasan, namun dalam pemakaiannya harus menyelaraskan dengan situasi dan kondisi.
    Dalam ajaran agama diperintahkan agar setiap orang memakai pakaian yang baik dan bagus, baik berarti sesuai dengan fungsinya yaitu menutupi aurat, sedangkan bagus berarti memadai (serasi) sebagai perhiasan penutup tubuh yang sesuai kemampuan si pemakai.
    Mahasiswa tidak diperkenankan memakai kaos oblong, sandal jepit, atau sandal lainnya yang tidak memenuhi syarat untuk mengikuti kuliah atau berurusan administrasi maupun urusan akademik di kampus.

Mengajar Pendidikan karakter dengan Berkarakter

Begitu gerakan pendidikan karakter mulai dicanang sejak tahun 2009, maka semangat mengimplementasikan gagasan itu mulai menggulir pada semua jenjang pendidikan. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai nilai-nilai yang diwujudkan dalam perilaku nyata sehari-hari yang bersumber dari norma agama, etika, adat istiadat, budaya, maupun undang-undang atau peraturan. Pembangunan karakter sebenarnya sudah lama menjadi kebijakan dan diintervensikan dalam pendidikan. Kita mengenal pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan kepribadian, pembiasaan, atau kegiatan intra maupun ekstrakurikuler yang membangun karakter, seperti pramuka atau pencinta alam. Di lingkungan masyarakat maupun keluarga sebenarnya upaya menumbuhkan karakter yang baik telah banyak dilakukan, seperti sopan santun, jujur, atau bertanggung jawab. Namun demikian, upaya-upaya itu belum secara luas tampak dalam kehidupan sehari-hari, dan belum menjadi karakter yang menyatu dengan pribadi keseharian.
Keprihatinan lemahnya karakter generasi bangsa dan kecenderungan kebutuhan manusia yang berkarakter dalam menghadapi persaingan global, mendorong pemerintah menggelorakan gerakan baru yang berlabel pendidikan karakter.
Pendidikan karakter memang tidak dipaksakan sebagai mata kuliah atau pelajaran baru yang harus diajarkan kepada siswa (mahasiswa), tetapi diintegrasikan secara sistematis pada semua aspek aktivitas pendidikan seperti kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah maupun ekstrakurikuler.
Begitu urgennya pendidikan karakter tersebut, sehingga pada tingkat program studi upaya mengintervensi kepada mahasiswa terutama calon guru telah dimulai, yaitu dengan memasukkan pendidikan karakter sabagai salah satu kompetensi pada mata kuliah yang berkaitan dengan pembelajaran, yaitu Proses Belajar Mengajar (PBM I, II, III), Praktek Pengalaman Lapangan (PPL I). Pada mata kuliah tersebut mahasiswa diminta untuk membuat silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan perlengkapannya yang didalamnya memuat aspek-aspek karakter, seperti pada tujuan, indikator, kegiatan belajar mengajar, maupun penilaian.
Sedang pada mata kuliah lain diminta untuk menyisipkan nilai-nilai karakter dalam Garis-garis Besar Program Perkuliahan (GBRP), dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Nilai-nilai itu dimunculkan tidak hanya sebagai dampak samping saja, tetapi dampak yang sengaja dirancang. Misalkan pada tujuan pembelajaran disebutkan ”mahasiswa dapat membangun struktur matematika sederhana dari geometri finit secara mandiri dan bertanggung jawab”. Pada kegiatan pembelajaran, dosen memberi tanggung jawab kepada masing-masing mahasiswa untuk membuat definisi-definisi dan teorema-teorema dari aksioma yang diketahui secara mandiri. Dosen memantau aktivitas mahasiswa ketika pembelajaran dengan memberikan penilaian seperti ”apakah mahasiswa selalu, jarang, atau tidak pernah melaksanakan tugas sesuai dengan instruksi dan sungguh-sungguh?”, kemudian ”apakah tugas yang diberikan itu selalu, jarang, atau tidak pernah dikerjakan sendiri atau meniru hasil temannya?”. Akumulasi nilai yang diperoleh ini digunakan sebagai bagian dari nilai akhir, yaitu termasuk nilai partisipasi atau bagian nilai dari tugas. Pedoman penilaian di UNESA untuk nilai akhir suatu mata kuliah menggunakan acuan 20% ujian tengah semester, 30% tugas mandiri dan kelompok, 30% ujian akhir semester, dan 20% partisipasi.
Upaya melalui peraturan ini paling tidak memberi arah pengembangan pendidikan karakter bagi mahasiswa. Implementasi di ruang kuliah, para dosen diminta melaksanakan dengan sesungguhnya rancangan penyisipan nilai-nilai yang baik itu sebagai bagian dari karakter dosen masing-masing. Bagaimana mengetahui implementasinya? Program studi melakukan supervisi sekali dua kali dalam satu semester, dan melalui angket yang diberikan kepada mahasiswa untuk menilai kinerja dosen. Aktivitas itu paling tidak memberi kendali bagi dosen untuk melaksanakan pembelajaran dengan sebaiknya, karena hasil itu digunakan sebagai bahan refleksi setiap akhir semester.
Karakter adalah suatu nilai yang muncul tidak hanya sesaat, sehingga dalam mentransfer kepada mahasiswa tidak hanya keterampilan mengajar belajar saja yang diperlukan, tetapi keteladanan sehari-hari. Dengan demikian, diperlukan mengajar belajar karakter melalui karakter juga.

Dasar Pemikiran Pendidikan Karakter

  1. Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter, secara imperatif tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 UU tersebut dinyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Jika dicermati 5 (lima) dari 8 (delapan) potensi peserta didik yg ingin dikembangkan sangat terkait erat dengan karakter.
  2. Jauh sebelumnya, secara filosofis “Bapak” Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesem-purnaan hidup anak-anak kita. Hakikat, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional tersebut menyiratkan bahwa melalui pendidikan hendak diwujudkan peserta didik yang secara utuh memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Pendidikan nasional mempunyai misi mulia (mission sacre) terhadap individu peserta didik,
  3. Dalam instrumentasi dan praksis pendidikan nasional sudah dikembangkan program rintisan, walaupun belum secara sistemik menyeluruh, dengan fokus dan muatan yang cukup beragam, misalnya: (1) pengembangan nilai esensial budi pekerti yang dirinci menjadi 85 butir (Dikdasmen: 1989 s/d 2007); (2) pengembangan nilai dan ethos demokratis dalam konteks pengembangan budaya sekolah yang demokratis dan bertanggung jawab (Dikdasmen: 1991 s/d 2007); (3) pengembangan nilai dan karakter bangsa (Dikdasmen: 2001-2005); dan (4) pengembangan nilai-nilai anti korupsi yang mencakup jujur, adil, berani, tanggung jawab, mandiri, kerja keras, peduli, sederhana, dan disiplin (Dikdasmen dan KPK; 2008-2009); serta pengembangan nilai dan prilaku keimanan dan ketaqwaan dalam konteks tauhidiyah dan religiositas-sosial (Dikdasmen: 1998-2009). Di luar kegiatan tersebut sudah banyak juga sekolah-sekolah unggulan yang mengembangan karakter secara terpadu dalam pelaksanaan pendidikannya. Banyak juga sekolah yang sederhana; pondok pesantren di daerah pedesaan yang mampu menumbuhkembangkan karakter peserta didik budaya sekolah melalui pembiasaan dlm kehidupan keseharian di sekolah/pondok yang ternyata teladan guru/ustadz sebagai kunci sukses. Dalam sarasehan nasional tgl 14 Januari 2010 diketahui bahwa ternyata banyak sekolah yang sudah mengembangkan pendidikan karakter dan ternyata juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.(Balitbang Diknas:2010). Tantangan ke depan adalah bagaimana berbagi kesukssesan itu untuk membangun pendidikan karakter yang mampu menyentuh semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan di tanah air Indonesia ini.
  4. Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour (Lickona:1991), atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral judgment and moral behaviour baik yang bersifat prohibition-oriented morality maupun pro-social morality (Piager, 1967; Kohlberg; 1975; Eisenberg-Berg; 1981). Secara pedagogis, pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic approach, dengan pengertian bahwa “Effective character education is not adding a program or set of programs. Rather it is a tranformation of the culture and life of the school” (Berkowitz: … dalam goodcharacter.com: 2010): Sementara itu Lickona (1992) menegaskan bahw: “In character education, it’s clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within.
  5. Kebutuhan akan pendidikan karakter ternyata terjadi juga di USA pada saat memasuki abad 21, karena beberapa alasan mendasar sebagai berikut (Lickona, 1991: 20-21)
    • There is a clear and urgent need.
    • Transmitting values is and always has been the work of civilisation.
    • The school’s role as moral educator becomes more vital at a time when millions of children get little moral teaching from their parents and when value-centered influence such as church or temple are also absent from their lives.
    • thereis a common ethical ground even in our values-conflicted society.
    • Democracies have a special need for moral education.
    • There is no such thing as value-free education.
    • Moral questions are among the great question facing both the individuals and human race.
    • There is a broad-based, growing support for values education in the schools

    Dari sitasi tersebut bahwa pendidikan nilai/moral memang sangat diperlukan atas dasar argumen: adanya kebutuhan nyata dan mendesak; proses tranmisi nilai sebagai proses peradaban; peranan sekolah sebagai pendidik moral yang vital pada saat melemahnya pendidikan nilai dalam masyarakat; tetap adanya kode etik dalam masyarakat yang sarat konflik nilai; kebutuhan demokrasi akan pendidikan moral; kenyataan yang sesungguhnya bahwa tidak ada pendidikan yang bebas nilai; persoalan moral sebagai salah satu persoalan dalam kehidupan, dan adanya landasan yan g kuat dan dukungan luas terhadap pendidikan moral di sekolah. Smua argumen tersebut tampaknya masih relevan untuk menjadi cerminan kebutuhan akan pendidikan nilai/moral di Indonesia pada saat ini. Proses demokasi yang semakin meluas dan tantangan globalisasi yang semakin kuat dan beragam disatu pihak dan dunia persekolahan dan pendidikan tinggi yang lebih mementingkan penguasaan dimensi pengetahuan dan mengabaikan pendidikan nilai/moral saat ini, merupakan alasan yang kuat bagi Indonesia untuk membangkitkan komitmen dan melakukan gerakan nasional pendidikan karakter.Lebih jauh dari itu adalah Indonesia dengan masyarakatnya yang ber-Bhinneka tunggal ika dan dengan falsafah negaranya Pancasila yang sarat dengan nilai dan moral, merupakan alasan filosofik-ideologis, dan sosial-kultural tentang pentingnya pendidikan karakter untuk dibangun dan dilaksanakan secara nasional dan berkelanjutan.

  6. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia, diyakini bahwa nilai dan karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat ini dan di masa mendatang akan datang. Karena itu pengembangan nilai yang bermuara pada pembetukan karakter bangsa yang diperoleh melalui berbagai jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, akan mendorong mereka menjadi anggota masyarakat, anak bangsa, dan warga negara yang memiliki kepribadian unggul seperti diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. Sampai saat ini, secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih mempunyai makna bagi individu yang tidak sekadar memberi pengetahuan pada tataran koginitif, tetapi juga menyentuh tataran afektif dan konatif melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan IPS, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Jasmani. Namun demikian harus diakui karena kondisi jaman yang berubah dengan cepat, maka upaya-upaya tersebut ternyata belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap perubahan tersebut. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancang-ulang dan dikemas kembali dalam wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna. Pendidikan karakter perlu direformulasikan dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Untuk itu, dirasakan perlunya membangun wacana dan sistem pendidikan karakter yang sesuai dengan konteks sosial kultural Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika dengan nilai-nilai Agama dan Pancasila sebagai sumber nilai dan rujukan utamanya.
  7. Kebutuhan tersebut bukan hanya dianggap penting tetapi sangat mendesak mengingat berkembangnya godaan-godaan (temptations) dewasa ini marak dengan tayangan dalam media cetak maupun noncetak (televisi, jaringan maya, dll) yang memuat fenomena dan kasus perseteruan dalam berbagai kalangan yang memberi kesan seakan-akan bangsa kita sedang mengalami krisis etika dan krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan. Pendidikan karakter bangsa diharapkan mampu menjadi alternatif solusi berbagai persoalan tersebut. Kondisi dan situasi saat ini tampaknya menuntut pendidikan karakter yang perlu ditransformasikan sejak dini, yakni sejak pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi secara holistik dan sinambung.
  8. Urgensi dari pelaksanaan komitmen nasional pendidikan karakter, telah dinyatakan pada Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sebagai Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, yang dibacakan pada akhir khir Sarasehan Tanggal 14 Januari 2010, sebagai berikut.
    • “Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yg tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh.
    • Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sbg proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.
    • Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah dan orangtua. Oleh karena itu pelaksanaan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut.
    • Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan budya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.”

Model Penilaian Pendidikan Karakter

Komponen model penilaian berbasis pendidikan karakter mencakup 3 hal, yaitu:

  1. Perilaku dalam proses pembelajaran mencakup sikap dan tindakan peserta didik terhadap teman dan guru. Sikap dan tindakan dalam komponen ini khususnya mengacu pada nilai yang ada pada materi dan kegiatan pembelajaran. Komponen ini tepat diungkap menggunakan teknik pengamatan, pertanyaan langsung, pertanyaan tidak langsung, laporan pribadi (portofolio), atau penilaian diri.
  2. Upaya peserta didik mengarah pada kesungguhan dan kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Komponen ini mencakup aspek-aspek:
    • Kehadiran dalam pembelajaran
    • Ketepatan waktu mengikuti pembelajaran
    • Ketepatan waktu mengumpulkan tugas
    • Frekuensi dan kualitas bertanya
    • Frekuensi dan kualitas berpendapat
    • Frekuensi berkonsultasi di luar jam perkuliahan dalam rangka pengayaan
    • Kreativitas penalaran yang ditunjukkan dalam kegiatan atau karya yang terkait dengan perkuliahan.

    Komponen ini tepat diungkap menggunakan teknik pengamatan, pertanyaan langsung, pertanyaan tidak langsung, laporan pribadi (portofolio), atau penilaian diri.

  3. Prestasi peserta didik. Sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan penilaian perfomansi, penilaian terhadap prestasi peserta didik harus dilakukan secara berkesinambungan, mencakup aspek akademik dan non-akademik. Teknik penilaian yang tepat untuk mengungkap komponen ini antara lain tes tulis dan portofolio.


Sumber : http://blog.tp.ac.id/
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: