Keterampilan Generik Sains (Bagian 2)

Terdapat sembilan  kemampuan dasar  (generik) yang perlu ditumbuhkan dalam belajar fisika guna mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi pada diri siswa.  Menurut Brotosiswoyo (2001) kemampuan generik sains dalam pembelajaran IPA dapat dikategorikan menjadi sembilan indikator yaitu:

1.   Pengamatan langsung.  Pengamatan langsung adalah mengamati objek secara langsung dengan menggunakan alat indera. Sebagai contoh, ketika kita mengamati terjadinya pembiasan cahaya pada lensa atau prisma. Aspek pendidikan yang dapat muncul dari pengamatan adalah kesadaran akan batas-batas ketelitian yang dapat diwujudkan dan sikap jujur terhadap hasil pengamatan. Baik indera kita maupun alat bantu yang kita gunakan dalam pengamatan mengandung keterbatasan, dan itulah sebabnya kita mengenal “teori ketidakpastian” dalam pengukuran.

2.   Pengamatan tak langsung.  Pengamatan tak langsung adalah pengamatan yang menggunakan alat bantu karena keterbatasan alat indera kita. Penggunaan termometer untuk mengukur suhu suatu benda merupakan salah satu contoh pengamatan tak langsung.

3.  Kesadaran akan skala besaran (sense of scale).  Fisika membahas peristiwa-peristiwa alam baik dalam keadaan makro maupun mikro. Untuk besaran panjang, fisika membahas ukuran yang sangat besar misalnya tahun cahaya, tetapi juga membahas ukuran panjang yang sangat kecil misalnya ukuran molekul atau atom. Dalam skala waktu, fisika juga membahas ukuran waktu yang sangat kecil seperti lifetime dari pasangan elektron-positron, sebab mata manusia hanya dapat membedakan signal yang muncul kira-kira 1/30 detik.

4. Menggunakan bahasa simbolik.  Banyak perilaku alam yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa komunikasi sehari-hari, khususnya perilaku yang bersifat kuantitatif. Sifat kuantitatif tersebut menyebabkan adanya keperluan untuk menggunakan bahasa yang kuantitatif juga. Ungkapan persamaan usaha yang dilakukan oleh gas ketika berekspansi secara isotermal dinyatakan dalam bentuk persamaan diferensial merupakan contoh penggunaan bahasa simbolik. Dalam belajar fisika penggunaan bahasa simbolik sangat membantu dalam mengkomunikasikan ide yang kompleks menjadi lebih sederhana.

5.   Berpikir dalam kerangka logika taat azas. Dalam ilmu fisika diyakini bahwa aturan alam memiliki sifat taat azas secara logika. Contoh pemikiran yang taat azas dalam fisika adalah munculnya teori relativitas Einstein. Sebelum dikemukakan teori relativitas Einstein, terdapat keganjilan antara hukum-hukum mekanika Newton dan hukum Elektrodinamika Maxwell. Elektrodinamika meramalkan bahwa kecepatan gelombang elektromagnetik tidak akan terpengaruh oleh gerak sumber maupun pengamatnya, sedangkan menurut mekanika Newton kecepatan benda dapat berkurang atau bertambah sesuai dengan gerak pengamat atau sumbernya. Keganjilan tersebut akhirnya terjembatani oleh teori relativitas Einstein, mengoreksi mekanika Newton agar secara logika keduanya taat-azas.

6.  Melakukan inferensi logika secara berarti.  Dalam fisika dikenal beberapa penemuan partikel mikro telah didahului oleh dugaan teoritis bahwa partikel-partikel tersebut memang secara matematik ada. Dalam menyampaikan dugaannya para ilmuwan mengandalkan inferensi logika. Contoh dalam kasus ini adalah inferensi logika yang dilakukan setelah munculnya teori relativitas Einstein, yang dengan mempersoalkan kecepatan cahaya, sampai pada kesimpulan bahwa ada ekivalensi antara massa benda dan energi dengan hubungan E=mc2. Hasil inferensi logika tersebut akhirnya memang benar-benar terbukti secara empiris.

7.  Memahami hubungan sebab akibat.  Sebagian besar dari aturan fisika yang disebut ”hukum” merupakan hubungan sebab-akibat. Sebagai contoh hukum II Termodinamika untuk mesin panas menyatakan bahwa mesin panas yang bekerja secara siklis tak mungkin memindahkan panas dari sebuah tandon, mengubah seluruhnya menjadi usaha tanpa efek lain. Untuk sampai kesimpulan bahwa hubungan variabel dalam hukum benar-benar merupakan sebab-akibat, perlu pengamatan percobaan yang berulang-ulang dan dengan variabel yang diubah-ubah dan harus menghasilkan akibat yang konsisten sesuai perubahan variabel tersebut.

8.   Membuat pemodelan matematika.  Banyak ungkapan aturan dalam fisika yang disebut ”hukum” dinyatakan dalam bahasa matematika yang disebut rumus. Rumus-rumus yang melukiskan hukum-hukum alam dalam fisika adalah buatan manusia yang ingin melukiskan gejala dan perangai alam tersebut, baik dalan bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Jadi kita dapat menyebutnya sebagai model yang ungkapannya menggunakan bahasa matematika.   Pemodelan matematika sering disebut sebagai model simbolik karena bersifat abstrak dan dapat diungkapkan secara simbolik berupa rumus. Pemodelan matematika umumnya bertujuan untuk memperoleh hubungan yang lebih akurat yang berlaku dalam suatu sistem dalam alam.

9.   Membangun konsep abstrak yang fungsional.  Tidak semua gejala alam dapat dipahami dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Kadang-kadang diperlukan sebuah konsep atau pengertian-pengertian baru yang maknanya tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari.

Pembelajaran IPA dapat membekalkan keterampilan generik melalui pengamatan langsung atau tak langsung, bahasa simbolik, inferensi logika, pemodelan matematik, dan membangun konsep.  Kerangka logika taat azas dan hukum sebab akibat merupakan ciri khas keterampilan generik fisika (Liliasari, 2007).

(Daftar pustaka dapat dipesan)

About these ads

8 Balasan ke Keterampilan Generik Sains (Bagian 2)

  1. ayu suciati mengatakan:

    bisa dibeli dan dikirim tidak bukunya ke bali? trims

  2. Anonymous mengatakan:

    bisa dipesan tidak bukunya dan dikirim ke bali? trims

  3. okti mengatakan:

    cuma ada dibandung ya???ga dijual di toko buku umum??

  4. Anonymous mengatakan:

    mohon dimana kita dapatkan buku tentang ketrampila generik mohon infonya

    • fisika21 mengatakan:

      Trmksh telah mengunjungi Fenomena Fisika. Buku tentang Keterampilan Generik sains berbahasa Indonesia ditulis oleh Prof. Brotosiswoyo pada tahun 2000 dengan judul HAKIKAT PEMBELAJARAN MIPA DI PERGURUAN TINGGI. Bliau adalah dosen universitas Parahiyangan (Unpar) Bandung yang mengkaji secara mendalam masalah Keterampilan Generik Sains. Kemungkinan besar buku tersebut dapat dibeli di Pusat Buku Palasari Bandung, atau dapat ditemukan di perpustakaan Unpar. Hasil berbagai riset tentang keterampilan generik sains dapat anda baca pada tesis/disertasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.

  5. Uzi mengatakan:

    info yang sangat bagus sir..
    ada tidak contoh instrumen pengukuran kemampuan generik sains?

  6. elz mengatakan:

    saya ingin daftar pustaka yang lengkap tentang generik agar bisa mencari dan membaca bukunya secara langsung.
    terimakasih.

  7. okti mengatakan:

    sebenarnya apa sih pengertian dari ketrampilan generik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: