BERPIKIR LOGIS

Berpikir merupakan kegiatan penalaran untuk mengekpresikan pengalaman dengan maksud tertentu (Bono, 1982).  Gieles (dalam Mukhayat, 2004) mengartikan bahwa berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri dalam batin, yaitu mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti sesuatu jalan pikiran, dan mencari bagaimana berbagai hal itu berhubungan satu sama lain.

Logika berasal dari kata Yunani, yaitu logos yang berarti ucapan, kata, dan pengertian. Dalam logika dibutuhkan aturan-aturan atau patokan-patokan yang perlu diperhatikan untuk dapat berpikir dengan tepat, teliti, dan teratur sehingga diperoleh kebenaran secara rasional. Dengan demikian logika dapat diterjemahkan sebagai ilmu untuk bernalar dan berpikir dengan benar.  Logika digunakan untuk menarik kesimpulan dari suatu proses berpikir berdasar cara tertentu.  Kata logis sering digunakan seseorang ketika pendapat orang lain tidak sesuai dengan pengambilan keputusan (tidak masuk akal) dari suatu persoalan. Hal ini berarti bahwa dalam kata logis tersebut termuat suatu aturan tertentu yang harus dipenuhi. Menurut Mukhayat (2004), kata logis mengandung makna besar atau tepat berdasarkan aturan-aturan berpikir dan kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum yang digunakan untuk dapat berpikir tepat. Dalam matematika, kata logis erat kaitannya dengan penggunaan aturan logika.

Poedjawijatna (1992) mengatakan bahwa orang yang berpikir logis akan taat pada aturan logika.  Berpikir logis tidak terlepas dari dasar realitas, sebab yang dipikirkan adalah realitas, yaitu hukum realitas yang selaras dengan aturan berpikir. Dari dasar realitas yang jelas dan dengan menggunakan hukum-hukum berpikir akhirnya akan dihasilkan putusan yang dilakukan. Menurut Albrecht (1992), agar seseorang sampai pada berpikir logis, dia harus memahami dalil logika yang merupakan peta verbal yang terdiri dari tiga bagian dan menunjukkan gagasan progresif, yaitu: (1) dasar pemikiran atau realitas tempat berpijak, (2) argumentasi atau cara menempatkan dasar pemikiran bersama, dan (3) simpulan atau hasil yang dicapai dengan menerapkan argumentasi pada dasar pemikiran.

Pada hakekatnya manusia itu adalah makhluk yang berpikir, bernalar, beremosi, bersikap dan beramal. Sikap dan pengalamannya bersumber pada pengetahuannya melalui aktifitas berpikir, bernalar dan beremosional.  Jadi, setiap jalan pikiran manusia memiliki kriteria kebenaran sebagai landasan bagi proses penemuan kebenaran itu. Berpikir merupakan suatu proses mental dalam membuat reaksi, baik terhadap benda, tempat, orang maupun peristiwa. Kemampuan berpikir banyak ditunjang oleh faktor latihan (Burhanudin, 1998). Taksonomi Bloom’s pada dasarnya adalah taksonomi tujuan pendidikan yang menggunakan pendekatan psikologik, yakni pada dimensi psikologi apa yang berubah pada peserta didik setelah ia memperoleh pendidikan itu. Bloom’s membagi tujuan belajar pada tiga domain, yaitu cognitive domain, affektif domain dan psycho-motor domain. Aspek kognitif atau lebih dikenal dengan kemampuan berpikir, meliputi kemampuan meghafal, kemampuan memahami, kemampuan menerapkan, kemampuan menganalisis, kemampuan mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Kemampuan yang penting pada aspek kognitif adalah kemampuan menerapkan konsep-konsep untuk memecahkan masalah yang ada di kehidupan. Kemampuan ini sering disebut pula dengan kemampuan menstransfer pengetahuan ke berbagai situasi dengan konteksnya (Priatingsih, 2004: 3).

Pustaka Acuan (Bisa diposting bila dibutuhkan)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: