Energi Listrik dari Urin

7 Mei 2013

Urin bisa menjadi bahan bakar yang melimpah untuk pembangkit listrik, demikian menurut para ilmuwan Inggris dalam studi yang pertama dari jenisnya. Para peneliti dari University of the West of England, Bristol, telah mendeskripsikan sebuah cara langsung dalam menghasilkan listrik dari urin dengan menggunakan Sel-sel Bahan Bakar Mikroba (MFC). Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal terbaru Royal Society of Chemistry, Physical Chemistry Chemical Physics. Baca entri selengkapnya »


PRAKTIKUM VIRTUAl BERBASIS SIMULASI KOMPUTER

12 April 2013

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang begitu pesat  banyak mempengaruhi kehidupan manusia diberbagai negara termasuk di Indonesia. Kemajuan IPTEK akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan sektor kehidupan masyarakat lainnya. Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kemajuan IPTEK, anggota masyarakat Indonesia haruslah berkualitas, dalam arti memiliki kemampuan berpikir, cara hidup, kemampuan berkomunikasi dan sikap yang baik. Setiap anggota masyarakat Indonesia dituntut untuk “melek” sains, karena sesungguhnya kemajuan di bidang teknologi itu terjadi akibat perkembangan di bidang sains. Baca entri selengkapnya »


Keterampilan Proses Sains (Bag 2)

21 Oktober 2012

Indikator Keterampilan Proses Sains

Istilah keterampilan proses sains dipopulerkan melalui proyek kurikulum Science-A Process Approach (SAPA), keterampilan proses sains (Science Process Skills) dapat diartikan sebagai satu set keterampilan yang dapat ditransfer dan menggambarkan kebiasaan seorang peneliti (Scientist). SAPA mengelompokkan keterampilan proses sains menjadi dua kelompok yaitu keterampilan proses sains dasar (Basic Science Process Skills) yang terdiri dari mengamati (observing), menyimpulkan (inferring), mengukur (measuring), mengkomunikasikan (communicating), mengklasifikasi (classifying), meramalkan (predicting) dan keterampilan proses sains terintegrasi (Integrated Science Process Skills) yang terdiri dari mengontrol variabel (controlling varables), mendefinisikan secara operasional (defining operationally), merumuskan hipotesis (formulating hypotheses), menginterpretasi data (interpreting data), melakukan percobaan (experimenting) dan memformulasikan model (formulating models) (Padilla, 1990). Sedangkan Rustaman (2005) tidak menglompokkan jenis-jenis keterampilan proses sains secara lebih spesifik. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan adanya perbedaan standar pendidikan sains lokal, daerah ataupun nasional (Ash, 2000).

Baca entri selengkapnya »


Model Pembelajaran Discovery-Inquiry

21 Oktober 2012

Model pembelajaran discovery pertama kali dikemukakan oleh Jerome Bruner, beliau berpendapat bahwa belajar penemuan (discovery learning) sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, siswa belajar terbaik melalui penemuan sehingga berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benarbenar bermakna. Dengan model pembelajaran discovery pengetahuan yang diperoleh siswa akan lama diingat, konsep-konsep jadi lebih mudah diterapkan pada situasi baru dan meningkatkan penalaran siswa (Dahar, 1989:103). Beberapa ahli berpendapat tentang belajar penemuan atau discovery, diantaranya:

Baca entri selengkapnya »


Inferensi Logika

9 Oktober 2012

Inferensi logika adalah kemampuan siswa dalam menggunakan logika untuk malakukan penafsiran atau penarikan kesimpulan. Inferensi logika ini terintegrasi dalam proses ilmiah yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran atau suatu kegiatan percobaan atau eksperimen.  Menurut Brotosiswoyo (2000) dalam melakukan inferensi logika siswa mempertanyakan apa saja konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat ditarik dari gejala-gejala yang teramati. Konsekuensi-konsekuensi logis yang muncul harus dapat diterjemahkan kembali dalam ungkapan-ungkapan riil sebagai gejala atau perilaku alam baru, yang sebaiknya dapat diamati atau diukur. Jika hasil pengamatan atau pengukuran, gejala atau perilaku alam baru menunjukkan bahwa hal itu benar, maka bertambahlah khasanah siswa tentang gejala dan perilaku alam yang dapat dirangkum oleh hukum alam yang sudah dimiliki.

 Inferensi logika merupakan salah satu dari sejumlah kemahiran generik siswa yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran fisika. Sejumlah kemahiran generik yang dapat ditumbuhkan melalui pengajaran fisika, yaitu : 1) pengamatan, 2) kesadaran tentang skala besaran (sense of scale), 3) bahasa simbolik, 4) kerangka logika taat asas (logical self consistensy), 5) inferensi logika, 6) hukum sebab akibat (causality), 7) pemodelan matematik, dan 8) membangun konsep (Brotosiswoyo, 2000).

Baca entri selengkapnya »